Forum Reses Anggota DPRD Sulteng, Muh. Masykur, di Desa Wani Lumbumpetigo Kecamatan Tanamtovea, Kabupaten Donggala, Sabtu (12/8/2017). [Ist]

500 Hektar Lahan Pertanian di Donggala Tak Dapat Dimanfaatkan

Bagikan Tulisan ini :

Donggala, Jurnalsulawesi.com – Lima ratus hektar lebih lahan di Kecamatan Tanamtovea, Kabupaten Donggala, berubah jadi lahan tidur. Lahan yang dulunya produktif sebagai sumber penghidupan warga, kini tak dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian.

“Lahan tersebut jadi lahan tidur bukan karena tidak bisa diolah tapi tidak ada sumber pengairan yang bisa jadi penopang jalannya usaha pertanian, jelas Pahmin, salah seorang warga yang menghadiri forum Reses Anggota DPRD Sulteng, Muh. Masykur di Desa Wani Lumbumpetigo, Kecamatan Tanamtovea, Kabupaten Donggala, Sabtu (12/8/2017).

Ketua BPD Desa Wani Lumbumpetigo ini menguraikan bahwa ratusan hektar lahan tersebut tersebar di tiga desa, Wani Satu, Wani Tiga dan Wani Lumbumpetigo. Sebelumnya menjadi Wilayah Desa Wani Satu sebelum dimekarkan. Jadi masalah utamanya tidak air irigasi yang bisa dimanfaatkan. Makanya sulit kami disini untuk mengolah lahan yang ada.

Petani hanya mengandalkan air hujan. Jika musim hujan seperti saat ini, warga langsung pada bercocok tanam musiman, seperri jagung, rica, ubi jalar dan tanaman musiman lainnya. Sebaliknya, kalau musim kemarau datang sebagian besar warga jadi buruh kasar di pelabuhan dan bangunan. Itupan lahan seadanya yang dimanfaatkan, jelas Pahmin.

Oleh karenanya, kami berharap agar pemerintah daerah dapat mencari solusi atas persoalan ini.

Menanggapi permasalahan itu, Muh. Masykur menjelaskan bahwa lima ratus hektar lahan tidur bukan perkara kecil. Ini hendaknya diseriusi dan pemerintah daerah memikirkan bagaimana cara agar ada pengairan manjangkau lahan-lahan tersebut.

Ketua Fraksi Partai NasDem mengajak masyarakat untuk menyampaikan permasalahan ini ke pemeritah daerah. Sembari mendorong agar pemerintah desa bersama BPD mulai menggagas usulan perencanaan pembangunan irigasi. Karena sulit kita hari ini jika apa yang diusulkan tidak dilengkapi engan dokumen perencanan yang baik.

“Program pembangunan dapat dikatakan baik kalau ada desain perencanaannya, pun juga sebaliknya. Saya sarankan baiknya aparat pemerintah desa bersama warga mulai menginisiasi ide besar ini,” sebut Masykur.

Lebih lanjut, Anggota DPRD dari Dapil Kabupaten Donggala dan Sigi ini menjelaskan, apalagi ada potensi sumber air di daerah pegunungan yang bisa dimanafaatkan. Pengalaman di daerah lain juga sudah banyak melakukan itu. Dan mereka sukses mengatasi masalah pokok mereka. Kuncinya memang ada di pemerintah daerah.

Memang ide besar ini butuh biaya sangat besar. Sehingga perlu meyakinkan semua pihak untuk sama-sama mendukung. Oleh karena ini amat berkait erat dengan program utama ketahanan pangan.

Ketahanan pangan berkorelasi langsung dengan kedaulatan negera kita. Sebab jika disoal memenuhi isi perut warga negara saja tidak bisa dipenuhi maka itu pertanda tidak baik, tegas Masykur.

Saya yakin jika dokumen perencanaan sukses dibuat, Insya Allah pemerintah daerah dan pusat cepat atau lambat akan direspon. Karena ini menyangkut masa depan nasib generasi hari ini dan akan datang yang ada di wilayah ini,” tutup Masykur. [***]

 

Rep; Sutrisno/*

(Visited 3 times, 1 visits today)

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*