AICIS 2018: Moderating Islam dan Politik

Oleh: Ahmad Rofiq
Mari tidak henti-hentinya kita mengungkapkan puji dan syukur kita kepada Allah Dzat Yang Maha Mengatur diri kita dan alam raya ini. Hanya atas anugrah dan pertolongan-Nya, kita hari ini sehat afiat dan dapat melaksanakan tugas kekhalifahan kita di muka bumi, agar terus bermanfaat bagi sesama. Shalawat dan salam mari kita wiridkan untuk junjungan kita Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan para pengikut setia beliau. Semoga kelak di akhirat kota mendapat perlindungan syafaat beliau.

Saudarauku, alhamdulillah saya diundang untuk FGD (Focus Group Discussion) persiapan pelaksanaan Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2018 yang akan digelar antara tanggal 17-20 September 2018. IAIN Datokarama Palu akan menjadi tuan rumah even akademik internasional, yang pada awalnya dilahirkan di Kampus UIN Walisongo Semarang.

Even akademik ini biasanya akan diikuti para akademisi dari berbagai kampus ternama di dunia yang mereka melakukan penelitian atau membuka kajian-kajian Islamantara 400-450 orang ilmuwan dan peneliti.

Ada berbagai isu dan tema yang memantik diskusi para narasumber. Apalagi tahun 2018 memang dimunculkan sebagai “tahun politik”. Tahun pilkada serentak di 171 daerah, termasuk 17 pemilihan gubernur dan wakil gubernur. Para “sesepuh” dan “pinisepuh” partai politik, juga akan sama-sama turun gunung, karena pilkada 2018 adalah test case atau “barometer kinerja parpol” awal untuk memprediksi kira-kira bagaimana arah dan pilihan politik rakyat.

Apakah masih setia dengan pilihan lamanya ataukah memilih pilihan baru yang boleh jadi dibayangkan akan memunculkan harapan ada perbaikan keadaan dan kehidupan rakyat.

Setidaknya perlu difahami oleh masyarakat, bahwa dalam konteks lembaga “wakil rakyat” yang digadang-gadang akan dapat mewakili aspirasi mereka, ternyata dalam banyak persoalan, yang muncul justru kekecewaan, karena apa yang dipikirkan dan “diperjuangkan” oleh para wakil rakyat yang mulia itu, tidak sejalan dengan aspirasi dan keinginan rakyat yang diwakilinya.

Dari soal RUU KUHP yang di dalamnya banyak klausul yang tidak sejalan dengan nilai-nilai kepatutan dan keluhuran budi bangsa Indonesia dan juga agama, hingga kini belum selesai, padahal konon gagasan untuk merevisi KUHP sudah muncul tahun 1960. Agar pikiran dan temuan-temuan akademik yang dihasilkan dari even AICIS 2018 mampu memberikan kontribusi riil bagi pembuatan kebijakan di negeri ini, maka tema yang diusung pun yang diprediksi mampu memberikan solusi yang smart, cerdas, dan memperkokoh kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia yang memang majemuk dan kaya akan keragaman agama, etnis, budaya, dan kearifan lokal.

Isu yang mewarnai diskusi untuk memilih tema besar, mengerucut pada Moderating Islam dan Politik, ada juga yang mengusulkan Islam Moderat dan Demokrasi. Tentu karena peminatnya biasanya banyak sekali, maka tema besar tersebut akan dibreakdown pada beberapa subtema yang lebih spesifik dan fokus kajian masing-masing disiplin ilmu keislaman dan perspektif mereka.

Ada kegamangan yang tampaknya dirasakan dan “menggelayuti” pikiran-pikiran teman-teman dalam menyikapi dan merespon arus dan perkembangan sikap politik di negeri ini, yang memang oleh para pendiri (faunding fathers) negara dan bangsa ini dirancang dan didirikan dalam format negara Pancasila dan UUD 1945 dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ini bisa dilihat bahwa meskipun kemerdekaan negara ini dan diproklamasikan dengan cucuran darah dan sabung nyawa para pahlawan dan syuhada’ yang mendahului kita, akan tetapi kesadaran bahwa itu semua tidak akan berarti apa-apa jika tidak diberkati oleh kasih sayang dan pertolongan Allah. Ada kesadaran religius yang sangat tinggi dari seluruh komponen bangsa ini, apapun agama, bahasa, suku, dan etnis mereka.

Dirasakan atau tidak, disadari atau tidak, ada tarik-tarikan yang cukup kuat antara dua kutub ekstreem-fundamentalis, yakni fundamentalisme sekuler di satu sisi dan fundamentalisme kanan di sisi lain. Ada yang ingin “merusak” keluhuran nilai Pancasila yang dibangun atas spirit kesadaran keagamaan dan keberagaman melalui faham, budaya, dan tatanan sekuler, yang terus “diperjuangkan” ibarat perang asimetrik atau proxywar, apakah itu isu LGBT, dan budaya sekuler lainnya.

Ada juga yang menganggap bahwa NKRI dan Pancasila itu tidak ada dasarnya dalam agama, maka perlu diganti dengan format dan bentuk negara yang berdasar pada agama tertentu.

Indonesia dengan NKRI dan Pancasila sudah memiliki sejarah panjang pengalaman menghadapi berbagai ujian, apakah itu Negara Islam Indonesia (NII), atau khilafah yang sedang diperjuangkan oleh sebagian orang yang mengaku sebagai warga negara Indonesia, dan ada juga kelompok-kelompok separatis yang ingin memisahkan diri dari NKRI.

Memang kewaspadaan akademik dalam menghadapi isu-isu dan ideologi transnasional dan kebijakan-kebijakan yang tidak jarang mengesankan ada “pembonsaian” terhadap potensi dan kompetensi anak bangsa ini, perlu didukung dengan fakta dan data akademik yang memadai.

Karena itulah, AICIS 2018 yang akan digelar September 2018, tiga bulan setelah Pilkada serentak, diharapkan akan mampu menghasilkan karya-karya akademik base on data dan fakta, yang sekaligus mampu memberi kontribusi solutif bagi penataan dan pengelolaan negara dan pemerintahan NKRI di masa-masa yang akan datang.

Harapannya, tema Islam Moderat atau Islam Wasathiyah, akan mampu memberikan jawaban yang memadai dan komlatibel dalam merumuskan kebijakan politik dan kenegaraan, demi menjamin keberlanjutan dan kebesaran bangsa dan Negara Indonesia untuk menjadi pemimpin besar di dunia.

“Jas Merah” kata Soekarno, prokamator dan presiden RI pertama. “Jangan melupakan sejarah”. Karena sejarah adalah guru dan cermin masa lalu. Bangsa yang bijak, pemimpin yang cerdas, adalah bangsa dan pemimpin yang memahami sejarah.

Pertama, agar tidak “terantuk oleh batu yang sama” seperti pepatah “hanya khimar yang terantuk oleh batu yang sama”. Kedua, negara adalah instrumen atau meminjam bahasa Ulama, adalah wasilah, agar kita dapat hidup tenteram, nyaman, bahagia, dan dapat menjalankan ibadah kita dengan baik dan senang, baik ibadah ritual- vertikal maupun ibadah sosial-horizontal.

Karena jati diri manusia yang terbaik, menurut Rasulullah saw, adalah manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Mengakhiri renungan ini, mari kita simak saksama Firman Allah ‘Azza wa Jalla sebagai berikut:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Katakanlah : “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tisak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tisak kota persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tisak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tunan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” (AS. Ali ‘Imran: 64).

Semoga saudaraku semua tidak tergoda oleh iming-iming apapun terkait fundamentalisme radikalis maupun fundamentalisme sekuler. Kata Rasulullah saw : “Sebaik-baik sesuatu itu adalah yang paling moderat” atau “khairu l-umuri ausathuha”.

Saudaraku dan teman-teman akademisi dan peneliti baik dari Indonesia di mana saja , silahkan persiapkan diri dan karya akademik Anda, untuk ikut berpartisipasi dalam even internasional, AICIS 2018. Semoga karya dan fikiran Anda memberi kontribusi nyata bagi upaya perwujudan Islam moderat atau Islam wasathiyah di negeri kita tercinta, NKRI, demi ikhtiar mewujudkan negara yang baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur.
Allah a’lam bi sh-shawab.
Wassalamualaikum wrwb. [***]

(Visited 128 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*