Logo Android Oreo

Android Oreo Penyelamat Google

Jurnalsulawesi.com – Mengambil momentum fenomena Gerhana Matahari Total di wilayah Amerika Serikat pada 21 Agustus 2017, Google mengumumkan pembaruan sistem operasi Android. Perusahaan digital raksasa itu menamai sistem operasi mobile terbaru mereka dengan nama Android Oreo.

Google merilis Android Oreo dengan semangat perbaikan, dan berharap pembaruan yang ada pada Android anyar itu bisa menambah asyik kenyamanan pencintanya. Google paham dengan berbagai masalah yang melanda Android, terutama problem keamanan pada sistem operasi mobile itu.

Untuk itu, dalam keterangan resminya, Google dengan tegas menjanjikan Android Oreo datang dengan fokus peningkatan stabilitas, keamanan, dan daya tahan baterai. Dalam video rilisnya, Google menyebutkan Android Oreo hadir sebagai superhero yang bakal membuat perangkat Android pengguna menjadi lebih pintar, kuat, cepat, dan aman.

Keamanan menjadi salah satu fokus pada Android 8.0 ini. Google mengakui, memang Android terkenal menjadi korban serangan program komputer jahat atau malware. Belum lama ini saja, terendus malware mata-mata SonicSpy yang sudah menyebar dan menginfeksi lebih dari 1.000 aplikasi di Play Store.

Sebelum munculnya malware SonicSpy, pada akhir Mei lalu, malware ‘Judy’ terungkap menginfeksi 36,5 juta perangkat Android. Gambaran ini menunjukkan tingkat risiko keamanan dari Android.

Untuk itu, Google punya senjata baru yang dinamakan Google Play Protect. Vice President Engineering Google, Dave Burke sudah jauh-jauh hari mengatakan tools baru ini menjadi solusi bagi masalah keamanan di Android.

“Play Protect dibangun pada tiap perangkat yang hadir dengan Google Play. Tools ini selalu diperbarui, dan secara otomatis mengambil langkah untuk mengamankan data serta perangkat Anda. Jadi Anda tak perlu membutuhkan pertolongan,” ujarnya dikutip The Inquirer.

Burke menuturkan, Play Protect punya kemampuan mendeteksi dan menghapus aplikasi yang kemungkinan terendus berbahaya. Google mengatakan, Play Protect tiap hari patroli dengan memindai lebih dari 50 miliar aplikasi tiap harinya.

Play Protect juga memindai lebih dari semiliar perangkat tiap harinya. Play Protect membandingkan perilaku aplikasi pada tiap perangkat dan bisa dengan mudah menemukan aplikasi yang punya perilaku tak biasa. Perisai keamanan pada Android Oreo ini juga membantu menghapus aplikasi yang berperilaku tak biasa itu dari perangkat pengguna.

Bukan hanya itu, Play Protect juga dijanjikan bisa membantu salah satu risiko keamanan paling besar yang dialami pengguna yakni saat smartphone pengguna hilang.

“Mesin pembelajaran kami akan selalu mengawasi risiko baru,” ujar Burke.

Makin Pintar dan Cepat
Selain meyakinkan dengan fitur keamanan, Google juga memastikan Android Oreo membantu perangkat pengguna menjadi lebih pintar, kuat, dan cepat.

Untuk fitur yang lebih pintar, Android Oreo punya picture in picture, yang memungkinkan pengguna untuk melihat dua aplikasi dalam satu tampilan di layar. Fitur lainnya yaitu notifications dots, yang memungkinkan pengguna dengan mudah mengetahui adanya notifikasi cukup dengan mengetukkan pada aplikasi, untuk menemukan hal baru dari aplikasi. Dengan kemudahan ini, diharapkan pengguna akan bisa mengambil tindakan atas notifikasi itu secara lebih cepat.

Google menyadari baterai pada smartphone masih menjadi bagian penting. Untuk itu, Android Oreo punya kemampuan untuk membantu meminimalisasi penggunaan berlebihan baterai yang tak dikehendaki pengguna. Kemampuan ini secara tidak langsung akan mengefisienkan dan menjaga daya tahan baterai makin bertambah lama.

Android Oreo dihadirkan juga dengan kemampuan yang lebih cepat, sebab perusahaan digital raksasa itu menyadari kecepatan akses adalah hal penting yang bisa membuat nyaman pengguna. Google menjamin Android Oreo mampu menjalankan performa lebih cepat dengan faster boot speed. Google mengatakan, boot speed Android Oreo dua kali lebih cepat dari yang ada pada smartphone Pixel.

Kemampuan cepat dan pintar Android Oreo juga terwakili pada fitur Autofill, yang mampu mengingat kebutuhan beberapa hal, misalnya data untuk login, dengan seizin dari pengguna. Dengan hal ini, pengguna maka bisa mengakses aplikasi favorit pengguna secara lebih cepat.

Google melengkapi dengan dukungan Android Instant Apps yang memungkinkan pengguna bisa menjalankan aplikasi mereka secara instan, tanpa perlu memasang aplikasi.

Penyegaran hadir dalam Android Oreo. Rangkaian emoji baru dihadirkan untuk menjadikan komunikasi pengguna Android makin menyenangkan. Google memutuskan menghapus beberapa emoji yang usang dan tak terlihat menarik untuk mengekspresikan komunikasi pengguna secara visual.

Beralih soal perangkat yang bakal mencicipi Android Oreo, smartphone buatan Google Pixel dan Nexus 5X/6P bakal menjadi yang pertama merasakan ‘jiwa’ baru tersebut.

Setelah kedua perangkat itu, selanjutnya rangkaian tablet Pixel C dan Nexus Player giliran mencicipi Android Oreo.

Tantangan
Hadir dengan serangkaian penyegaran dan fitur baru menjadi pertanyaan apakah Android Oreo ini bakal menuai sukses di pasaran. Sebab, salah satu masalah yang membelit Google selain soal keamanan adalah rendahnya adopsi Android di tangan pengguna.

Simak saja, pembaruan dari Android Marshmallow ke Android Nougat saja tergolong lambat dan kecil. Data laman BBC menunjukkan, hanya 14 persen perangkat Android yang menjalankan Android pendahulu Oreo tersebut.

Sementara itu, distribusi pengguna Android lainnya yaitu Android 6.0 atau Marshmallow masih 32,3 persen, Android 5.0 atau Lollipop dengan 28,2 persen, dan Android 4.4 atau KitKat dengan distribusi 16 persen.

Melihat peta adopsi tersebut, masih banyak pengguna Android yang belum memperbarui sistem operasi mereka ke versi yang terbaru.

Dengan kondisi itu, bisa saja Android Oreo bakal melambat. Salah satu hal menentukan untuk suksesnya adopsi Android teranyar ini yaitu sejauh mana mitra manufaktur smartphone memutuskan menyematkan Android Oreo pada produk mereka. Hal ini tak gampang, sebab selama ini waktu tunggu untuk pembaruan Android baru tergolong punya rantai yang panjang.

Lambatnya adopsi Android itu malah menjadi bahan ejekan dari Chief Executive Officer Apple, Tim Cook. Dalam beberapa tahun terakhir ini, bos Apple itu mengolok-olok ketidakmampuan Google mendorong pembaruan Android.

Terakhir, Cook mengangkat kelemahan adopsi Android ini dalam panggung konferensi tahunan Worldwide Developers Conference Apple pada Juni lalu. Dia mengamati, 86 persen pengguna iOS telah memperbarui ke iOS terbaru, iOS 10. Sementara itu, hanya 7 persen pengguna Android yang memperbarui sistem operasi mereka ke Android Naugat, sistem operasi teranyar sebelum lahirnya Android Oreo.

Konsultan dari IHS Markit, Ian Fogg mengatakan, tantangan Google dalam memasarkan Android Oreo adalah sistem operasi itu sejauh ini tersedia untuk sejumlah kecil pengguna smartphone.

Menurut Fogg, Android biasanya perlu diadaptasi dan disetujui oleh masing-masing pembuat handset serta operator mobile. Dengan kondisi itu, sang konsultan itu memprediksikan, Android Oreo butuh waktu berbulan-bulan untuk mencapai sejumlah pengguna yang signifikan.

Dalam gelombang awal, Android Oreo hanya tersedia pada perangkat besutan Google saja, yakni smartphone Pixel, Nexus 5X/6P, tablet Pixel C, dan Nexus Player.

Hingga akhir tahun ini, Vice President Product Management Android and Google Play, Sameer Samat menuturkan, Google berjanji memperluas adopsi Android Oreo dengan menggandeng sejumlah mitra, yaitu Essensial, General Mobile, HMD Global Home of Nokia Phones, Huawei, HTC, Kyocera, LG, Motorola, Samsung, Sharp, dan Sony.

“Satu kunci perubahan dalam Android Oreo adalah arsitektur, bagaimana membuat Android Oreo lebih mudah bagi manufaktur ponsel membuat perubahan mereka di masa depan. Dan tetap menyebarkan versi sistem operasi baru ini ke pengguna, itu mungkin perubahan yang tersignifikan,” ujar Fogg.

Untungnya, dikutip laman The Register, untuk mengatasi lambatnya adopsi Android tersebut, Google sudah menyadari lambatnya adopsi sistem operasi mereka dan memberikan solusi dengan menyediakan Project Treble. Proyek ini bertujuan meringkas proses pembuatan kode untuk menyesuaikan dengan tiap Android terbaru begitu dirilis. Dengan meringkas ini, maka waktu tunggu adopsi Android Oreo pada perangkat anyar bisa lebih cepat.

Dalam implementasi Project Treble itu, Google memisahkan software kode khusus vendor smartphone dari Android OS Framework. Skema ini memungkinkan operator bisa mengirimkan pembaruan tanpa perlu mendapatkan pembaruan dari pembuat prosesor atau chip. Dengan proses ringkas ini, diyakini adopsi bisa berlangsung lebih cepat dan tidak panjang.

Sebelum rilis skema Project Treble, proses pembaruan Android tergolong panjang. Setelah Google merilis kode versi Android terbaru mereka, mitra manufaktur prosesor harus memodifikasi kode untuk menyesuaikan dengan perangkat mereka. Setelah itu, pembuat prosesor memberikan kode yang telah dimodifikasi ke pembuat smartphone.

Selanjutnya, pembuat smartphone akan menanamkan kode tersebut ke dalam perangkat besutan mereka dan diubah sesuai dengan keperluan.

Perubahan waktu untuk pembaruan Android ini memang sebuah solusi. Tapi respons dari operator seluler belum diketahui apakah bakal memanfaatkan pembaruan ini atau tidak, agar waktu tunggu pembaruan Android baru makin cepat.[VVN]

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*