Wakil Ketua Komisi III DPRD Provinsi Sulteng, Muh. Masykur saat melakukan kunjungan di Kecamatan Rio Pakava, Kabupaten Donggala yang menjadi salah satu daerah penghasil kelapa sawit. [Ist]

Anleg Usulkan Dialog Pembangunan KEK Sulteng-Sulbar

Bagikan Tulisan ini :

Palu, Jurnalsulawesi.com – Wakil Ketua Komisi III DPRD Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) Muh. Masykur mengusulkan agar Pemerintah Provinsi Sulteng dan Sulawesi Barat (Sulbar) membangun dialog rencana pembangunan kawasan ekonomi khusus (KEK) Rio Pakava di lintas batas.

Masykur, potensi perkebunan kelapa sawit di lintas batas kedua provinsi tersebut selama ini hanya jadi sengketa dan akar konflik karena masih kurangnya efek domino perkebunan kelapa sawit.

Anggota legislativ (Anleg) dari Partai Nasdem ini menyebutkan, potensi bahan baku di wilayah itu cukup tersedia. Berdasarkan pendataan yang dilakukan oleh Kelompok Tani Sawit Mandiri Kecamatan Rio Pakava, saat ini seluas 60 ribu hektar kelapa sawit yang dikelola masyarakat dan menghasilkan sawit sekira 300 ribu ton. Sementara pada tahun 2013 di Kabupaten Mamuju Utara Provinsi Sulbar, luas areal pengelolaan kebun kelapa sawit seluas 33.978 hektar menghasilkan sawit sebanyak 109.570 ton.

Melalui siaran pers yang diterima Jurnalsulawesi.com, Jumat (24/11/2017) malam, salah satu solusi yang ditawarkan Masykur adalah pembangunan kawasan industri yang terintegrasi dari hulu ke hilir hingga produk turunan.

“Perkebunan kelapa sawit harus keluar dari kotak tandan buah segar, harus ada inovasi yang lebih maju, salah satu solusinya adalah mendorong pembangunan kawasan ekonomi khusus lintas batas Provinsi,” ujarnya.

Masykur yakin hal ini dapat menjadi basis fundamental terhadap akselerasi pembangunan di dua provinsi tersebut. “Kehadiran kawasan ekonomi khusus, dapat menciptakan dua hal sekaligus, penyerapan tenaga kerja dan pembangunan energi serta infrastruktur,” imbuhnya.

Masykur menyebutkan, paradigma Industrialisasi perkebunan kelapa sawit harus bisa di singkronkan dengan agenda pembangunan nasional yang mengutamakan lahirnya titik tumbuh baru. Potensi kelapa sawit di provinsi tersebut dapat menjadi pintu.masuk untuk wujudkan industrialisasi berbasis agrobisnis.

“Produk turunan CPO selain minyak sawit dan makananan juga dapat dihasilkan margarine, shortening, Vanaspati (Vegetableghee), Ice creams, Bakery Fats, Instans Noodle, Sabun dan Detergent,Cocoa Butter  Extender, Chocolate dan Coatings, dan masih banyak lagi lainnya,” ujar Masykur.

Ia sangat optimis bila kawasan ekonomi Khusus dibangun, beberapa produk turunan tersebut bisa menjadi sentra logistik pemenuhan kawasan pasar wilayah Indonesia Timur. [***]

 

Rep; A. Yudhistira
Red; Sutrisno

(Visited 35 times, 1 visits today)

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*