Aliansi Pemuda Tadulako (APT) menggelar aksi di Mapolda Sulteng, Rabu (17/5/2017). APT mendesak Polda Sulteng mencabut izin Kongres PMII karena pernyataan Ketua PB PMII dinilai telah melukai rakyat Sulawesi Tengah. [Ist]

APT: Cabut Izin Kongres PMII !!!

Palu, Jurnalsulawesi.com – Ratusan massa Aliansi Pemuda Tadulako (APT) mendesak Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tengah untuk mencabut izin Kongres PMII ke XIX di Kota Palu yang berlangsung pada 15-19 Mei 2017.

Desakan tersebut dilakukan melalui aksi massa di Mapolda Sulteng, di Jalan Sam Ratulangi, Palu Timur, Rabu (17/5/2017).

Kedatangan massa APT ini untuk memprotes pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) Aminuddin Ma`ruf yang telah melukai masyarakat Sulteng. Pasalnya dalam sambutanya,  Ketua PB PMII  di hadapan Presiden saat pembukaan kongres PMII ke XIX menuturkan bahwa  Tanah Tadulako katanya pusat radikal Islam serta di tanah ini pusat dari gerakan penentang NKRI.

Pernyataan inilah yang menyulut kemarahan masyarakat Sulteng. Sebab ungkapan tersebut merupakan fitnah dan kebohongan yang tidak didukung oleh data akurat yang impirist.

“Aminuddin Ma’ruf telah menyebarkan fitnah dan kebohongan. Kami meminta kepada Polda Sulteng  untuk segera mencabut izin kongres PMII yang saat ini masih berlangsung,” kata Koorlap APT Ardi saat berorasi.

Harusnya sebagai seorang yang intelektual kata Ardi, Aminuddin tidak sembarangan mengeluarkan pernyataan. Hal ini membuktikan jika Aminuddin Ma’ruf adalah sosok yang gagal faham, gagal pikir dan tidak pernah baca buku.

“Sejak kapan daerah Sulteng  dan tanah Tadulako menentang NKRI ?,” teriak Ardi  dalam orasinya.

Justeru pernyataan inilah yang radikal, karena menuduh tanpa disertai bukti yang kuat.

Untuk itu APT  memberi batas waktu 1 × 24 jam kepada Ketua PMII Aminuddin Ma’ruf untuk meminta maaf secara terbuka melalui media cetak dan elektronik baik nasional maupun lokal.

“Jika dalam batas waktu yang ditentukan Amiruddin Ma’ruf tidak mengindahkan tuntutan kami, APT akan mendatangi arena kongres PMII,” kata Ardi.

Aksi serupa juga dilakukan massa dari Polibu Ntodea Tanah Tadulako yang langsung menemui Wakapolda Sulteng, Kombes Pol Moch Aris Purnomo.

Kepada Wakapolda yang didampingi Dir Intelkam Polda Sulteng AKBP Drs. Lilik Apriyanto, perwakilan Polibu Ntodea Tanah Tadulako memyampaikan tiga point pernyataan sikap.

Pertama memprotes keras pernyataan Ketum PB PMII yang menyebutkan bumi tanah Tadulako sebagai pusat radikalisme Islam dan pusat gerakan menentang NKRI.

Kedua; Mendesak Amiuddin Ma’ruf untuk menyampaikan permohonan maaf secara terbuka di media cetak dan elektronik.

Selain itu, Polibu Ntodea Tanah Tadulako juga menuntut  Amiruddin Ma’ruf  untuk diberikan sanksi adat.

Wakapolda yang didampingi Dir Intelkam Polda Sulteng menerima perwakilan aksi massa mengatakan, akan menyampakan tuntutan masyarakat Sulteng kepada PB PMII.

Bahkan kata Wakapolda, sejak Selasa malam pihak Polda Sulteng sudah berupaya untuk mendapatkan klarifikasi terkait pernyataan Aminuddin Mar’uf yang dapat menimbulkan gejolak di daerah ini.

“Kami sudah lakukan upaya untuk mendapatkan penjelasan terkait isi sambutan itu. Namun sampai saat ini belum ditanggapi,” ujar Dir Intelkam.

Sebelumnya, akibat pernyatan Ketua PB PMII di hadapan Presiden RI, pejabat negara dan Gubernur Sulteng itu telah menimbulkan reaksi masyarakat karena dinilai telah melukai hati rakyat Sulteng.

Gubernur Sulawesi Tengah Drs H Longki Djanggola, MSi juga mengatakan,  pernyataan Aminuddin Ma’ruf  sangat mendiskreditkan dan melukai hati masyarakat Sulawesi Tengah.

“Saya minta Ketua Umum PB PMII itu meminta maaf secara terbuka atas pernyataan yang melukai perasaan masyarakat itu, khususnya melukai hati umat Islam Sulawesi Tengah,” kata Longki.

Sementara, Ketua Umum PB Alkhairaat Palu Habib Saleh bin Muhammad Aldjufri juga membantah keras pernyataan itu karena gerakan  Al Khairaat sebelum kemerdekaan sampai saat ini selalu giat mengajarkan pendidikan yang tujuan utamanya mencintai NKRI.

“Alkhairaat bukan baru kali ini bicara tentang cinta NKRI, karena sejak saat pendiri Alkhairaat masih hidup yakni Habib Idrus bin Salim Aldjufri, AlKhairatlah yang bersedia menjadi garda terdepan membela negara dari ancaman pihak manapun,” ujarnya. [***]

 

Rep; Agus Manggona
Red; Sutrisno

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*