Pertemuan Reses Anggota DPRD Sulteng, Muh. Masykur di Desa Langaleso, Kabupaten Sigi, Kamis (7/12/2017). [Ist]

Atasi Masalah TKW, Masykur Dorong Pemda Bangun TCSPM

Bagikan Tulisan ini :

Sigi, Jurnalsulawesi.com – Anggota DPRD Provinsi Sultawesi Tengah (Sulteng) Muh. Masykur, mendorong Pemerintah Daerah Kabupaten Sigi dan Provinsi Sulawesi Tengah untuk mengubah konsep dalam “mengirim” manusia menjadi tenaga kerja terampil melalui Training Center Security Pekerja Migran (TCSPM). TCSPM ini meliputi, penguasaan spesifikasi, standar dan sertifikasi serta jaminan perlindungan berbasis kerjasama interpol.

“Selain perubahan konsep pengelolaan TKW, kita berharap agar pemerintah memberikan perhatian pada pekerja migran kita, khususnya kepada warga masyarakat di Desa Langaleso, Kecamatan Dolo. Sebab, desa ini dikenal sebagai salah satu pemasok terbesar tenaga kerja wanita (TKW) di Sulteng.

Alasan Masykur meminta adanya perhatian khusus wilayah tersebut, agar ada harapan baru bagi warga dalam membangun peluang usaha guna memenuhi kebutuhan rumah tangga, selain menjadi TKW di luar negeri.

Pasalnya, selama ini hampir sebagian besar perempuan di desa Langaleso menjadikan peluang kerja ke luar negeri sebagai sesuatu yang utama. Sehingga tidak heran jika banyak dari mereka yang mengadu nasib keluar menjadi TKW.

“Ada yang berhasil tapi banyak pula diantara mereka yang merasakan suka duka dan pahit getirnya kerja sebagai TKW. Yang paling miris mereka harus bertarung nyawa menghadapi tindak kekerasan dan prilaku tidak manusiawi di tempat kerja. Bahkan ada yang merenggut nyawa, meninggal di Arab Saudi,” jelas Masykur.

Cerita tentang TKW ini terungkap dalam pertemuan dengan warga dalam rangka Reses yang dilaksanakan Muh. Masykur di Baruga Pertemuan Desa Langaleso, Kamis (7/12/2017).

Pertemuan Reses yang sebagian besar dihadiri oleh ibu-ibu mantan TKW ini berharap ada perhatian dan dukungan pemerintah daerah kepada mereka. Sebab, jika tidak maka arus keluar warga menjadi TKW sulit terbendung.

Menurut Tati salah seorang mantan TKW di Arab Saudi, ia bersama ratusan perempuan mantan TKW lainnya berharap ada perhatian pemerintah. Karena masalahnya ada di lapangan kerja, maka pemerintah daerah diminta memfasilitasi terbukanya lapangan kerja bagi mereka, pinta Tati.

“Kami sedang membangun kelompok usaha peternakan dan perlengkapan pesta. Selain itu, masih banyak sawah dan kebun milik warga di sini yang butuh dukungan alat pertanian untuk memudahkan kami mengolah. Kami yakin jika ada dukungan dari Pemda maka warga tidak mudah lagi keluar negeri cari kerja,” harap Tati dalam aspirasinya pada pertemuan itu.

Masykur dalam pertemuan itu menegaskan kepada warga, agar manfaatkan potensi dan sumberdaya yang dimiliki. Kuncinya kata Masykur, semangat dan harapan untuk bisa berubah. Kalau semangat dan harapan ini terbangun, kata Masykur, pemerintah daerah tidak akan menutup mata. Yang penting disampaikan ke seluruh pihak terkait pasti disahuti.

“Insya Allah mari sama-sama kita mengawal dan mendorong inisiatif yang bagus seperti ini. Memulai sesuatu yang baik bagi sesama itu jauh lebih mulia. Kita menginginkan potensi daerah yang kita miliki ini dikelola, dimanfaatkan dan dikembangkan sesuai kemampuan daerah, agar harapan warga bisa bangkit lagi. Kita tidak menginkan lagi negara abai dan menyaksikan warga sendiri bertarung hidup di negeri luar tanpa ada jaminan perlindungan,” tutup Masykur. [***]

 

Rep; A. Yudhistira
Red; Sutrisno

(Visited 37 times, 8 visits today)

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*