Bibit kayu Gaharu. [Ilustrasi]

Bantuan Gaharu Dinilai Hanya Menggerus APBD Tolitoli

Bagikan Tulisan ini :

Tolitoli, Jurnalsulawesi.com – Bantuan tanaman gaharu dengan nilai anggaran sebesar Rp2,7 miliar yang diperuntukkan kepada kelompok masyarakat di Kabupaten Tolitoli dinilai menggerus Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Tolitoli.

Hal tersebut diungkapkan ketua umum LSM Masyarakat Transparansi (Mata) Kabupaten Tolitoli, Hendri Lamo SE. Dikatakannya, bibit Gaharu yang pengadaannya melekat di Badan Lingkungan Hidup (BLH) dengan nilai anggaran yang cukup fantastis itu tidak memberikan pengaruh besar terhadap masa depan ekonomi masyarakat penerima bantuan.

“Kami selaku LSM Mata Tolitoli sangat menyayangkan kegiatan pengadaan Gaharu ini dianggarkan cukup besar nilainya, tahun lalu Rp1,1 miliar dan tahun ini bertambah menjadi Rp1,6 miliar, sehingga total menjadi Rp2,7 miliar,” tandas Hendri Lamo, Selasa (10/4/2018).

Jika bantuan tanaman Gaharu yang kegiatannya dilaksanakan dua tahun berturut-turut tersebut, memberi dampak terhadap ekonomi masyarakat petani. Bagaimana dengan bantuan gaharu belasan tahun silam yang kini sudah menjadi batang pohon besar di lahan petani di Kecamatan Lampasio, termasuk diantaranya di sekitar lahan milik mantan Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Tolitoli, Nurdin HK.

“Komoditi Gaharu ini belasan tahun lalu sudah pernah booming kemudian banyak sekali masyarakat di Tolitoli yang menanam, tetapi sampai sekarang tidak satupun yang diketahui hasilnya,” tekannya.

Untuk mengetahui keberhasilan tanaman Gaharu di tingkat masyarakat Tolitoli, Pemerintah Daerah (Pemda) sebetulnya telah melakukan evaluasi terhadap pemberian bantuan tahun-tahun sebelumnya, dengan tujuan agar kegiatan pengadaan bibit Gaharu yang dilaksanakan dua tahun berturut-turut ini tidak dianggap hanya untuk mencari keuntungan yang melibatkan pihak-pihak tertentu.

“Kami LSM di Tolitoli hanya perihatin dengan kegiatan bantuan tanaman Gaharu itu, jangan sampai dibelakang hari kegiatan itu memunculkan tindak pidana korupsi berjamaah,” katanya.

Lain halnya direktur LSM Bumi Bakti Kabupaten Tolitoli, Ahmat Pombang. Menurutnya tanaman gaharu yang diberikan kepada sejumlah kelompok tani pada tahun lalu dengan jumlah puluhan ribu batang sampai sekarang sebagian besar belum juga ditanam masyarakat penerima, herannya tanaman gaharu itu kembali diadakan tahun ini.

“Kalau tidak percaya, coba pergi cek ke sejumlah desa, cari masyarakat yang pernah menerima bibit gaharu. Umumnya tanaman gaharu yang mereka terima hanya dibiarkan di dekat rumah tertutup belukar,” terangnya.

Bahkan pemberian bantuan bibit gaharu tahun lalu dirinya juga sebagai salah satu warga yang diberikan dari kelompok tani di Desa Oyom Kecamatan Lampasio, namun hingga sekarang tanaman tersebut belum ditanamnya.

“Perlakuan tanaman bibit gaharu itu sangat sulit, untuk berproduksi harus menggunakan ahlinya,” tuturnya.

Sebaiknya agar tidak merugikan uang negara dalam hal ini APBD Tolitoli, Pemda tidak lagi melaksaakan program tanaman gaharu tersebut, demikian pihak DPRD Tolitoli yang turut menyetujui anggaran belanja tahun ini sebesar Rp1,6 miliar. [***]

Penulis; Ramlan Rizal

(Visited 80 times, 1 visits today)

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*