Ilustrasi Mata Uang Dolar

Bergerak Liar, Dolar AS Tembus Rp14.400

Jakarta, Jurnalsulawesi.com – Dolar Amerika Serikat (AS) masih bergerak liar terhadap rupiah. Mata uang Paman Sam tersebut menyentuh level tertingginya pagi ini di Rp14.400.

Mengutip data perdagangan Reuters, Jumat (29/6/2018), dolar AS dibuka di Rp14.355. Dolar AS kemudian menguat tajam ke Rp14.395 dan kini posisinya kembali merangkak naik ke Rp14.410. Pagi ini dolar AS sudah menguat 55 poin atau 0,38%.

Binaartha Sekuritas dalam risetnya menyebutkan tidak jauh berbeda dengan sebelumnya di mana laju rupiah masih berada di teritori merah. Penantian akan RDG Bank Indonesia dan masih adanya kekhawatiran ekonomi Indonesia akan terganggu dengan adanya perang dagang antara AS dan China membuat serta kembali meningkatnya CDS Indonesia di pasar global membuat laju rupiah kian mengalami pelemahan, bahkan melemah lebih dalam. Tidak hanya itu, adanya penilaian rupiah dihadapkan pada sentimen ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed menjadi 4 kali pada tahun ini serta tekanan dari defisit neraca perdagangan turut melemahkan rupiah.

Pergerakan rupiah diperkirakan masih dapat kembali melemah seiring belum beranjaknya sentimen negatif dan secara psikologis pelaku pasar juga belum berpihak pada rupiah. Meski laju dolar AS masih melemah terhadap mata uang utama lainnya namun, masih adanya minat pelaku pasar terhadap mata uang safe haven selain dolar AS untuk mengantisipasi masih adanya sentimen perang dagang AS-China dikhawatirkan dapat membuat rupiah kembali melemah. Adapun rupiah diestimasikan akan bergerak dengan kisaran support Rp14.425 dan resisten Rp14.378.

Sejumlah ekonom menyebutkan penguatan ini terjadi akibat kondisi eksternal mulai dari ekspektasi kenaikan bunga acuan The Federal Reserve hingga kekhawatiran perang dagang antara Amerika Serikat (AS).

Hasil rapat dewan gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) juga menjadi hal yang ditunggu oleh para investor.

Ekonom PermataBank Josua Pardede menjelaskan penguatan dolar AS terjadi karena sentimen global. Mulai dari ekspektasi kenaikan bunga acuan Bank Sentral AS The Federal Reserve hingga sentimen perang dagang antara AS dan China.

Menurut dia, penguatan dolar terus terjadi meskipun sentimen sempat mereda akibat statement yang dikeluarkan pihak White House.

Namun tak hanya rupiah, sejumlah mata uang negara lain juga tersungkur akibat mata uang Paman Sam yang makin perkasa ini. Tapi ada juga yang berhasil ‘melawan’.

Melansir data Reuters, Kamis (28/6/2018), dalam periode dari awal tahun hingga hari ini peso Argentina tercatat turun yang paling dalam yakni 32,13%.

Posisi kedua dari paling buncit ada lira. Mata uang Turki tercatat sudah anjlok 17,75%.

Lalu ada real Brasil yang turun 14,34% dan diikuti oleh rand Afrika Selatan yang turun 10,44%.

Sementara yang tercatat menguat terhadap dolar AS dalam periode yang sama hanya peso Colombia. Tercatat mata uang ini menguat 1,76% terhadap dolar AS.

Ringgit Malaysia juga ternyata bernasib lebih baik. Meskipun ringgit Malaysia hanya menguat 0,05%.[***]

 

Sumber; Kumparan.com / Detik.com

(Visited 21 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*