Pencuri satwa saat berupaya memancing sekelompok kera agar masuk perangkap di jalur Kebun Kopi yang terekam pengguna jalan lain, Minggu (21/1/2018). [Screenshot Video Facebook]

BKSDA Sulteng Buru Pencuri Monyet di Kebun Kopi

Bagikan Tulisan ini :

Palu, Jurnalsulawesi.com – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah bekerja sama dengan kepolisian setempat sedang memburu pelaku pencurian monyet/kera hitam sulawesi (Macaca Tongkeana) di wilayah Kebun Kopi, poros jalan Palu-Parigi.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Polsek Parigi Utara untuk mencari pelaku pencurian tersebut. Kami juga memohon bantuan informasi dari masyarakat terkait identitas kendaraan pelaku seperti yang tersiar di media sosial,” kata Haruna, Kasi Konservasi BKSDA Palu kepada wartawan, Selasa (23/1/2018).

Pencurian monyet sulawesi (macaca tongkeana) itu terungkap dari gambar vidio seorang warga yang merekam upaya sejumlah orang menangkap satwa dilindungi tersebut dengan memasukkan monyet itu ke dalam kandang khusus di atas sebuah mobil bak terbuka yang berisi kurungan binatang.

Vidio yang disiarkan di media sosial Info Kota Palu (IKP) pada Minggu (21/1/2018) itu memperlihatkan para pelaku memancing monyet-monyet itu masuk ke dalam kandang dengan menyimpan pisang di dalam kandang tersebut. Saat seekor monyet masuk dalam kandang, pintu kandang langsung ditutup dan pelakunya pergi.

“Tampaknya hanya satu ekor yang mereka ambil dan itu sesuai dengan hasil pengecekkan kami. Namun begitu, para pelaku harus tetap dicari dan ditindak sesuai ketentuan UU No.5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam dan keanekaragaman hayati serta ekosistemnya,” ujar Haruna.

Menurut dia, lokasi pencurian itu terjadi di kilometer 14 dan 15 poros jalan trans Sulawesi Toboli-Tawaeli.

Di sekitar wilayah ini, ada sekelompok monyet yang biasa turun ke jalan dengan populasi 20 ekor, dan ketika kami melaukan pengecekkan ulang kemarin (Senin), jumlah mereka tinggal 19 ekor,” ujar Haruna.

Mengenai pelaku pencurian, Haruna mengaku belum ada pihak yang dicurigai namun dari gambar kendaraan yang dipakai menangkap monyet tersebut, diperkirakan bahwa kendaraan itu telah dipersiapkan sebelumnya dan kendaraan seperti itu biasanya dipakai mengangkut hewan seperti anjing atau ayam.

Terkait pengawasan kera-kera dilindungi tersebut, Haruna mengaku cukup sulit karena lokasi habitat mereka itu merupakan jalur jalan trans sulawesi yang cukup padat kendaraan.

Ia yakin bahwa populasi kera hitam di sekitar Kebun Kopi itu masih terus meningkat. Buktinya, banyak kera yang turun ke jalan yang merupakan indikasi bahwa di dalam hutan itu jumlah mereka cukup banyak.

Namun begitu, BKSDA Sulteng terus melakukan sosialisasi dengan memasang papan pengumuman agar masyarakat tidak membiasakan diri memberi makan kera-kera itu di jalan raya karena akan mengubah perilaku mereka.

“Ini berbahaya karena akan mengakibatkan kera-kera itu tidak bisa bertahan hidup di dalam hutan dan saat kera itu birahi, dia bisa menyerang manusia,” katanya. [***]

Source; Antara

(Visited 196 times, 1 visits today)

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*