Dampak tsunami yang terjadi usai gempa 7,4 magnitudo di Pergudangan Palu Indah pada 28 September 2018. BMKG memasang 20 sensor seismograph portabel di Pulau Sulawesi untuk pengamatan aktivitas seismik. [Ist]

BMKG Pasang 20 Sensor Seismograph Portabel di Sulawesi

Jakarta, Jurnalsulawesi.com – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memasang 20 sensor seismograph portabel di Sulawesi untuk pengamatan aktivitas seismik di pulau tersebut. Sebagian besar dipasang di Sulawesi Tengah (Sulteng) yang diguncang gempa bumi 7,4 Skala Richter (SR) pada Jumat, 28 September 2018 lalu.

“Sensor dipasang untuk mendapatkan data akurat terkait aktivitas seismik di Sulawesi,” kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Tiar Prasetya di Jakarta, Rabu (17/10/2018).

Dia menjelaskan, sensor portabel tersebut untuk mendukung data sensor yang sudah ada sebelumnya, yaitu sebanyak 15 unit yang tersebar di seluruh Sulawesi. Sensor seismograph portabel tersebut sebagian besar dipasang di Sulteng.

“Sulteng diguncang gempa bumi dengan magnitudo 7,4 sehingga menimbulkan tsunami dan likuifaksi pada Jumat, 28 September 2018 lalu,” paparnya.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho sebelumnya menyebutkan, hingga Kamis (11/10/2018), terjadi gempa susulan yang tercatat sudah sebanyak 552 kali hingga pukul 13.00 WIB. Namun getaran yang dirasakan masyarakat hanya sebanyak 17 kali.

“Kalau kami lihat trennya semakin menurun menuju kestabilan. Kita berharap tidak ada gempa-gempa besar yang menyusul,” ucapnya.

Masa pencarian dan evakuasi korban gempa bumi dan tsunami di sejumlah daerah di Sulteng berakhir Jumat (12/10/2018). Penambahan waktu ini sesuai dengan permintaan dari masyarakat. Namun usai pencarian secara besar-besaran tersebut, proses evakuasinya akan dihentikan. Hanya saja, proses tanggap bencana masih akan tetap berjalan dan diperpanjang hingga 14 hari ke depan.

Sutopo menuturkan, hingga Kamis (11/10/2018), bencana ini tercatata merenggut 2.073 korban jiwa. Sebanyak 994 jenazah dikuburkan secara massal dan 1.079 dikebumikan oleh pihak keluarga. Sementara 10.679 korban luka-luka menjalani perawatan di rumah sakit.

“Ada 680 orang yang dilaporkan hilang. Jumlah pengungsi 87.725 jiwa, tersebar di 112 titik pengungsian, serta 67.310 bangunan dan rumah rusak,” tuturnya. [***]

Sumber; iNews

(Visited 41 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*