BTN berpeluang menurunkan suku bunga KPR nonsubsidi yang berada pada kisaran 9,5 persen, hingga menjadi 1 persen pada tahun depan. [Antara]

BTN Bakal Pangkas Bunga KPR Hingga 1 Persen Secara Bertahap

Bagikan Tulisan ini :

Jakarta, Jurnalsulawesi.com – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) berpeluang menurunkan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) nonsubsidi secara bertahap hingga 100 basis poin (bps) mulai awal tahun depan. Hal ini seiring dengan penurunan bunga acuan Bank Indonesia yang berdampak pada penurunan biaya dana (cost of fund/CoF) perbankan.

“Saat ini rata-rata suku bunga KPR nonsubsidi perseroan di kisaran 9,5 persen kami akan berusaha turunkan tergantung dari biaya dana kita dari dana pihak ketiga,” tutur Direktur Utama BTN Maryono usai menghadiri sebuah acara di kantornya, Selasa (14/11/2017).

Sejak awal tahun, lanjut Maryono, rata-rata suku bunga KPR nonsubsidi BTN telah turun 100 hingga 150 bsp.

Maryono tak memungkiri, masih tingginya suku bunga KPR menjadi penghambat penyaluran KPR nonsubsidi kepada masyarakat. Selain itu, semakin tingginya harga rumah juga membuat masyarakat semakin sulit memiliki rumah. Tak ayal, geliat bisnis properti masih tertahan.

“Kalau harga rumahnya bisa turun, pasti permintaannya akan bisa ini (menjangkau). Harga rumah naik karena harga tanah mahal, makanya yang laku itu KPR subsidi karena harganya murah,” ujarnya yang dikutip CNNIndonesia.com.

Pernyataan Maryono mengkonfirmasi hasil survei residensial Bank Indonesia (BI) baru-baru ini yang menyatakan tingginya suku bunga yang saat ini berkisar 9,69 persen hingga 13,02 persen menjadi faktor utama penghambat bisnis properti.

Menurut survei tersebut, sekitar 20,36 persen responden menyebut tingginya bunga KPR sebagai penghambat bisnis properti. Responden juga menyebut tingginya uang muka rumah (16,57 persen), pajak (16,13 persen), lamanya perizinan (14,45 persen), serta kenaikan harga bahan bangunan (11,18 persen) sebagai penghambat bisnis properti.

Sepanjang 2017, BTN menargetkan bisa menyalurkan kredit perumahan untuk 666 ribu unit rumah dalam rangka mendukung Program Satu Juta Rumah. Target tersebut terdiri dari penyaluran pinjaman untuk jenis rumah subsidi sebanyak 504.122 unit rumah. Kemudian, penyaluran pembiayaan untuk jenis rumah non-subsidi ditargetkan sebanyak 161.878 unit rumah.

Hingga akhir Oktober 2017, perseroan telah merealisasikan penyaluran kredit untuk 501.626 unit rumah atau setara 75,32 persen dari target. Jumlah unit tersebut setara penyaluran kredit senilai Rp55,7 triliun.

Jika dirinci, untuk jenis rumah subsidi, perseroan telah menyalurkan pembiayaan untuk sekitar 346.925 unit rumah atau setara Rp24,86 triliun. Untuk jenis rumah nonsubsidi, perseroan telah menyalurkan pembiayaan untuk 154.702 unit rumah atau sekitar Rp30,84 triliun.

Hambat Bisnis Properti
Hasil survei residensial Bank Indonesia (BI) menyebut, tingginya suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) menjadi faktor utama yang menghambat bisnis properti. Saat ini, tingkat bunga KPR perbankan berada di kisaran 9,69 persen hingga 13,02 persen.

Menurut survei tersebut, sekitar 20,36 persen responden menyebut tingginya bunga KPR sebagai penghambat bisnis properti. Responden juga menyebut tingginya uang muka rumah (16,57 persen responden), pajak (16,13 persen), lamanya perizinan (14,45 persen), serta kenaikan harga bahan bangunan (11,18 persen) sebagai penghambat bisnis properti.

“Berdasarkan lokasi proyek, suku bunga KPR tertinggi terjadi di Gorontalo, sedangkan suku bunga KPR terendah terjadi di Maluku,” jelas BI dalam survei tersebut, yang dirilis beberapa waktu lalu.

Bank Indonesia mencatat, tingkat bunga KPR yang diberikan perbankan pada kuartal tiga berkisar antara 9,69 persen hingga 13,02 persen. Adapun sekitar 76,42 persen konsumen, menurut Survei BI, masih memilih fasilitas KPR sebagai fasilitas utama dalam melakukan transaksi pembelian properti residensial. Jumlah ini meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 75,54 persen.

Di sisi lain, penyaluran KPR dan KPA pada kuartal tiga tercatat sebesar Rp392 triliun, meningkat 2,52 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Peningkatan ini lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya yang tercatat sebesar 1,88 persen secara kuartalan.

Survei BI juga menyebut, pada kuartal tiga, kenaikan harga rumah juga terjadi pada semua tipe rumah. Secara kuartalan, kenaikan tertinggi terjadi pada tipe rumah menengah yang naik 0,59 persen. Namun, secara tahunan, kenaikan harga rumah paling tinggi pada kuartal tiga terjadi pada rumah tipe kecil 5,73 persen.

Sementara itu, penjualan properti residensial pada kuartal tiga ini tercatat menunjukkan kenaikan yang melambat dibanding kuartal sebelumnya. Hasil survei menunjukkan bahwa penjualan properti residensial kuartal tiga secara kuartalan mengalami kenaikan sebesar 2,58 persen. [CNNIndonesia.com]

(Visited 19 times, 1 visits today)

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*