OPINI

Ketika Pendidikan Tak Paralel dengan Realita

Oleh: Jhon Lusikooy, M.Pd Akhir-akhir ini, dunia pendidikan disibukan dengan pembahasan KTSP tahun 2013 muncul pro dan kontra, tetapi bagi saya bukan soal kurikulum berubah-ubah karena perubahan zaman menuntut adaptasi atas perubahan itu sendiri. Konon di dunia ini hanya perubahan yang tidak berubah. Sejalan dengan tuntutan perkembangan zaman itu pada K13 dilakukan perbaikan- perbaikan hingga menjadi K13 revisi 2017. Sekali lagi, bukan masalah perubahan itu, kemampuan adaptasi dan akomodasi menjadi kebutuhan untuk menyeleraskan realita di masyarakat dengan teori dan praktek akademik. Dalam sebuah tulisan, seorang pakar mengatakan bahwa “ruh” K13 adalah ketrampilan abad 21 yakni Communication, Collaboration, Critical Thinking and ...

Read More »

Jabatan dan Parade Kebodohan

Oleh: Natsir Said* Hari ini, Selasa (19/12/2017) siang, segerombolan imajinasi fikirku buyar. Gelas kopi yang baru diteguk setengah menjadi kehilangan filosofinya. Zulkifli Hasan, Ketua MPR RI tiba-tiba masuk di warung kopi Sudimari II jalan Masjid Raya, Palu. Meja duduk ‘di obrak-abrik’ untuk menyambut pejabat negara itu. Sejujurnya, fikiranku sedikit protes. Penyambutan pada ‘pejabat’ harus berubah seiring upaya merubah mindset. Mencoba agar selalu tampil biasa saja seperti yang sebenarnya juga kadang menjadi penting. Penting agar mereka yang memegang kuasa itu tidak selalu dihidangkan dengan sesuatu yang palsu. Bahwa pelayanan yang seperti ‘dibuat-buat’ itu semakin mempertegas bahwa ternyata kolonialisme mengakar jadi budaya, ...

Read More »

Tadulakota dan Warna Baru Komunitas

Oleh: Natsir Said HIDUP itu selalu dinamis, ia tidak pernah berdiam di satu kondisi. Kodrat alam yang sekaligus tidak lepas dari hukum-hukum penciptaan, mewajibkan perubahan selalu terjadi dalam perhitungan waktu lebih kecil dari sebatas milidetik. Milidetik sama dengan seperseribu detik, sedangkan nanodetik merupakan sepermilyar detik. Tetapi, ada pengukuran lain dalam waktu yang membuat kedua ukuran itu terasa lambat, yaitu zeptodetik. Tahun 2016 kemarin, para ilmuwan di Universitas Tekhnologi Munich, German telah berhasil mengukur waktu dalam satuan zeptodetik, atau dalam kata lain, sepertriliun dari sepermiliar detik. Zeptodetik merupakan satuan terkecil dalam waktu yang sama dengan 21 angka di belakang titik desimal. ...

Read More »

Menggugat Paradigma Promosi

Oleh; Natsir Said Memposting sesuatu yang kontra di media sosial itu menarik menurutku. Ada kekuatan mental yang dipertaruhkan, sebab bukan tidak mungkin akan lebih banyak menuai caci-maki dibanding komentar menyehatkan akal. Namun setidaknya, di antara belantara bully itu masih ada komentar yang mencoba menjelaskan atas sesuatu. Point itu yang membuatnya menjadi menarik. Sebab paling tidak, suara-suara itu dapat dijadikan manifestasi suara mayoritas. Dalam postingan yang menyoal manfaat Tour de Central Celebes (TdCC) di akun facebook Info Kota Palu (IKP), dalam kurun waktu tidak lebih dari 24 jam memunculkan seribuan lebih komentar yang hampir seragam, yakni mengajak penulis untuk mendukung TdCC ...

Read More »

OJK di Bawah Ketiak Sri Mulyani?

Oleh: Salamuddin Daeng ADA yang menarik dalam proses seleksi ketua dan komisioner Otoritas Jasa Keuangan kali ini yakni ketua Tim Panitia Seleksi (Pansel) langsung diketuai Menteri Keuangan Sri Mulyani. Padahal OJK adalah lembaga yang independen. Biasanya proses seleksi ketua atau anggota komisioner lembaga independen semacam ini dilakukan oleh tokoh-tokoh masyarakat yang kompetensi dan kredibilitasnya diakui publik. Seperti proses seleksi ketua dan komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi dan komisi sejenis lainnya. Ada apa Sri Mulyani selaku menteri keuangan yang kedudukannya dalam UU Indonesia lebih rendah dari OJK justru menjadi ketua tim seleksi OJK. Ini tidak wajar, kurang proporsional dan patut dipertanyakkan kepantasanya. ...

Read More »

“Lelucon” yang Tak Lucu

Oleh: Sutrisno SEJAK Selasa (16/5/2017) siang, publik Sulawesi Tengah khususnya Kota Palu tiba-tiba resah karena pernyataan Ketua PB PMII Aminuddin Ma’ruf di forum resmi pembukaan Kongres ke XIX yang menyebut Bumi Tadulako sebagai pusat Radikalisme dan pusat penentang NKRI. Parahnya lagi, pernyataan itu disampaikan dihadapan Kepala Negara, sejumlah menteri dan Gubernur Sulawesi Tengah. Semua tersentak bagai tersengat listrik 220 Volt. Berbagai kalangan mulai dari tokoh agama, akademisi, praktisi, tokoh pemuda, tokoh adat hingga masyarakat biasa mengecam pernyataan itu. Bahkan Ketua Umum PB Alkhairaat Habib Saleh bin Muhammad Aldjufri sampai gerah dibuatnya. Padahal semua tahu, Provinsi Sulawesi Tengah khususnya Kota Palu ...

Read More »

Tak Ada Makar Itu!

Oleh: Djoko Edhi Abderrahman HENDARDI, Direktur Setara Insitute minta Presiden Jokowi mencopot Panglima TNI karena wawancaranya dengan Rosiana Silalahi di Kompas TV bertajuk “Tak ada makar itu!”. Mana berani? Sebab, untuk protes saja menggunakan Hendardi yang dikenal orangnya Kapolri Tito Karnavian. Mencopot Panglima TNI setahu saya tak mudah. Hak prerogatif presiden dibatasi oleh UU TNI. Dan, jabatan Panglima TNI tidak masuk dalam UU Kementerian Negara, di mana saya anggota Pansus RUU Kementerian Negara. Masuknya jabatan Panglima TNI, Kapolri, dan Jaksa Agung sebagai setara menteri di kabinet adalah lanjutan dari UU Hankam. Jaksa Agung dengan UU No 16, Kapolri dengan UU ...

Read More »

Peringatan Dini untuk Petahana di Pilkada Serentak 2018

Oleh: Pangi Syarwi Chaniago PELAJARAN Berharga semestinya bisa diambil dari banyaknya petahana yang tumbang di Pilkada Serentak 2017 untuk pilkada mendatang seperti Pilkada Serentak 2018. Jangan terlalu membanggakan kinerja, capaian dan prestasi yang hanya berbasis kebahagian data statistik dan angka semata. Jangan mengecewakan rakyat dengan mengabaikan kehendak dan keinginan rakyat. Jangan bermain di zona maha sensitif yang memantik sentimen negatif, polemik dan memantik kebisingan. Ingat, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saya kira tidak lazim kalah sebagai calon incambent dengan tingkat kepuasaan 75 persen. Petahana juga penting memastikan capaian kinerja, janji kampanye yang ditagih rakyat dan prestasinya diketahui dengan baik oleh masyarakat. ...

Read More »

Broken Heart Ahoker

OLEH: ZENG WEI JIAN GAGAL move on adalah impact  dari sindrom broken heart (patah hati). Abby McDonald bilang, “You can die of a broken heart. It’s a scientific fact.” Karangan Bunga Sia-sia, Ahok Bangun Persaudaraan Dengan Setan Ahoker mesti hati-hati. Kalian bisa mati beneran bila terus-terusan gagal move on. In scientific term, broken heart disebut  stress-induced cardiomyopathy atau “takotsubo cardiomyopathy”. Masalah jantung ini bisa menyerang sekalipun Ahoker merasa sehat fisik. Stress penyebab utamanya. Satu republik tahu, Ahoker stress. Pasca Ahok kalah telak di Pilgub. Broken heart punya symptom serupa dengan heart attack (serangan jantung). Ada sakit di dada (angina). Nafas ...

Read More »

Jokowi dan Nestapa Ideologi Negara

Oleh: DR Ma’mun Murod Al-Barbasy Dulu, dulu banget, ketika umat Islam berhasil menaklukan Kerajaan Majapahit melalui akulturasi budaya dan penetrasi politik yang soft, lahirlah Kerajaan Islam pertama di tanah Jawi. Disusul kemudian lahir kerajaan-kerajaan Islam lainnya. Ketika penjajah Belanda masuk yang selain membawa misi ekonomi juga membawa misi agama (baca Disertasi Deliar Noer, Alfian, dan Alwi Shihab), mulailah Kerajaan Islam diacak-acak sedemikian rupa dan berhasil. Hasilnya bisa kita tengok, sekarang Kerajaan Islam hanya jadi situs sejarah. Masuk era perjuangan merebut kemerdekaan, umat Islam berjuang habis-habis. Agama (Islam) menjadi spirit perjuangan. Pekikan takbir, merdeka atau mati tak lepas karena spirit Islam. ...

Read More »