Aksi ribuan warga Jalur Gaza serbu perbatasan Israel. Namun, aksi tersebut mendapat perlawanan dari Israel dengan mengerahkan 100 penembak jitu untuk menghalau warga Palestina. [Merdeka]

Demonstran dan Tentara Israel Bentrok di Gaza, Tujuh Warga Palestina Tewas

Jurnalsulawesi.com – Sedikitnya tujuh warga Palestina tewas dan 500 lainnya luka akibat bentrokan dengan tentara Israel di perbatasan jalur Gaza.

Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan korban berjatuhan setelah ratusan warga berunjuk rasa pada Jumat sore. Tentara Israel melepaskan peluru tajam dan gas air mata untuk membubarkan massa.

Ribuan warga Palestina berkumpul di perbatasan untuk berunjuk rasa selama enam pekan dalam peringatan Hari Tanah yang menyebabkan enam orang warga sipil tak bersenjata tewas dibunuh tentara Israel pada 1976.

Organisasi perjuangan Palestina Hamas menyebut sedikitnya 100 ribu warga ikut dalam demo besar-besaran hari ini. Unjuk rasa kali ini bertepatan dengan masa libur sepekan kaum Yahudi dan biasanya memicu kerusuhan di kawasan yang rawan bentrokan itu.

Demonstrasi enam pekan ini menyerukan agar para pengungsi Palestina bisa kembali ke tanah mereka yang kini sudah dicaplok Israel. Rencananya unjuk rasa ini akan mencapai puncaknya pada Mei mendatang di saat Israel merayakan kemerdekaan ke-70.

100 Penembak Jitu
Sementara militer Israel mengaku telah menugaskan lebih dari 100 penembak jitu di perbatasan Gaza menjelang demonstrasi massal warga Palestina di wilayah tersebut, kata seorang jenderal Israel dalam wawancara yang disiarkan pada Rabu.

Dengan menyebut masalah keamanan, pihak militer Israel memberlakukan larangan kunjungan bagi warga Palestina di kawasan perbatasan Gaza yang dekat dengan pagar pembatas Israel.

Letnan Jenderal Gadi Eizenkot, kepala staf militer Israel, mengatakan kepada surat kabar Yedioth Ahronot bahwa pihaknya tidak akan membiarkan “infiltrasi massal” ataupun menoleransi kerusakan pagar pembatas dalam demonstrasi tersebut.

“Kami telah menugaskan lebih dari 100 penembak jitu dari berbagai unit militer, terutama dari unit pasukan khusus,” kata Eizenkot dalam wawancara itu.

“Jika ada kehidupan yang dibahayakan oleh demonstrasi itu, kami mengizinkan mereka untuk menembak,” kata dia. [***]

Sumber; Merdeka/Antara

(Visited 45 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*