Masa simpatisan pasangan cabup-cawabup nomor urut satu drg Anita/Abdrahman dan nomor urut tiga Vera Elena Laruni/Taufik Burhan, melakukan aksi unjuk rasa, Senin (2/7/2018). [Ist]

Diduga Curang, Pilkada Donggala “Digugat”

Donggala, Jurnalsulawesi.com – Simpatisan pasangan cabup-cawabup Pilkada Donggala 2018 nomor urut satu drg Anita/Abdrahman dan nomor urut tiga Vera Elena Laruni/Taufik Burhan, melakukan aksi unjuk rasa, Senin (2/7/2018). Masa yang menamakan diri ‘Masyarakat Peduli Keadilan Pilkada Kabupaten Donggala 2018’ itu menuntut keadilan pelaksanaan Pilkada di kabupaten tertua di Sulawesi Tengah (Sulteng) tersebut.

Pengunjuk rasa dipimpin Syamsu Ridwan Sarkawi dan Anil Syamsudin itu melakukan orasi di Jalan Kemakmuran, Kelurahan Boya, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala.

Masa aksi yang juga forum masyarakat Donggala bersatu menyampaikan beberapa isi maklumat yang diawali dengan seruan kepada seluruh masyarakat Kabupaten Donggala untuk menolak hasil pemilukada, karena dinilai terindikasi curang, tidak jujur, dan tidak adil yang dilakukan secara terstruktur, sistimatis dan masif oleh Komisi Pemilihan Umum dan pasangan calon nomor urut 2 Kasman Lassa/Yasin.

Masa menilai bahwa indikasi kecurangan TMS adalah tidak tersalurnya undangan pemilihan C-6 KWK kepada masyarakat pemilih yang terdaftar pada DPT yang diperkirakan 20 persen sehingga berdampak pada partisipasi pemilih yang hanya kisaran 70 persen.

Dugaan TMS itu dilakukan oleh perangkat penyelenggara di tingkat KPPS yang notabene hampir 70 persen diatur dan diarahkan oleh perangkat desa/kelurahan untuk membantu pasangan Kasman Lassa/Yasin.

Masa aksi menilai adanya daftar pemilih tetap/DPT ganda yang ditengarai berjumlah 10 ribu orang.

Kemudian dinilai adanya indikasi temuan surat suara yang digandakan oleh paslon nomor urut 2 sejumlah 10 ribu lembar.

Kemudian ditemukannya hasil perolehan suara dari tempat pemungutan suara tidak singkron dengan C-1 KWK yang dipegang oleh saksi.

Pengunjuk rasa menuding bahwa rekapitulasi hasil perhitungan suara di tingkat PPK dimanipulasi, dibuktikan dengan tidak ditandatanganinya hasil pleno rekapitulasi tingkat PPK oleh saksi nomor urut 1 dan 3 di seluruh kecamatan. Tindakan itu sebagai bentuk penolakan atas hasil pemungutan surat suara dari setiap TPS.

Pengunjuk rasa mengaku menemukan adanya keterlibatan dan ketidaknetralan ASN dalam bentuk mengarahkan pemilih ke paslon nomor 2 Kasman Lassa yang juga petahan bupati Donggala. Hal itu dilakukan dengan mengiming-imingi, memberi dan mengintimidasi pemilih.

Pengunjuk rasa menduga bahwa adanya kotak suara yang keluar dari kantor KPU dan terlihat berada di kediaman Kasman Lassa.

Karena itu pengunjuk rasa menolak hasil pemungutan dan perhitungan suara pemilukada Kabupaten Donggala 2018 dan mendesak Panwaslu Donggala untuk memerintahkan KPU Donggala agar tidak melakukan pleno rekapitulasi di tingkat kabupaten.

Ribuan simpatisan pasangan Arrahman dan Vegata melakukan aksi unjuk rasa terkait hasil Pilkada Donggala 2018, Senin (2/7/2018). [Ist]

Masa juga mendesak Panwas Donggala untuk membatalkan dan menolak hasil pemilukada kabupaten itu. Mereka juga mendesak Panwas Donggala untuk merokomendasikan pemungutan suara ulang/(PSU) di seluruh wilayah Donggala dan merekomendasikan kepada pihak kepolisian untuk mengusut tuntas pelaku/aktor yang ada di belakang kecurangan pemilukada Donggala untuk di proses sesuai hukum yang berlaku.

Pengunjuk rasa mengancam apabila maklumat itu tidak dilaksanakan dan tidak diindahkan oleh penyelenggara teknis (KPU) dan penyelenggara Panwas Donggala maka pengunjuk rasa akan melakukan dan menggelar pengadilan rakyat untuk mendapatkan keadilan dalam berdemokrasi.[***]

 

Sumber; Antarasulteng.com

(Visited 819 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*