Salah satu tenda yang dipenuhi pengungsi pascagempa bumi yang mengguncang Kabupaten Mamasa, Sulbar, beberapa hari terakhir. [iNews]

Diguncang Gempa 217 Kali, Belasan Ribu Warga Mamasa Mengungsi

Mamasa, Jurnalsulawesi.com – Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV Makassar mencatat, telah terjadi 217 gempa tektonik di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar), dalam sepekan terakhir. Akibat guncangan itu, tiga rumah nyaris roboh dan puluhan lainnya rusak. Bangunan rumah itu telah ditinggal para pemiliknya, dimana sedikitnya ada 15.266 warga yang kini mengungsi.

Dikutip dari iNews, salah satu wilayah yang terdampak cukup parah yakni di Desa Lambanan, Kecamatan Mamasa. Di daerah ini, sejumlah rumah warga retak-retak dan mengalami kerusakan. Beberapa bahkan nyaris roboh.

Kondisi desa itu kini sepi, rumah-rumah warga ditinggalkan para pemiliknya. Hampir seluruh warganya telah mengungsi ke Lapangan Kabupaten Mamasa sejak beberapa hari lalu.

“Kondisi rumah kami ini sudah tidak bisa ditempati. Bangunannya sudah nyaris roboh, lantai dan dinding retak sangat tidak aman. Ada dua rumah lainnya seperti ini, puluhan lainnya juga rusak. Semua keluarga saya sudah mengungsi sejak Selasa lalu,” kata Piliphus, warga Desa Lambanan, Minggu (11/11/2018).

Hingga saat ini, belum ada data resmi dari Badan Penggulangan Bencana Daerah (BPBD) terkait jumlah kerusakan bangunan yang rusak akibat diguncang lebih dari 200-an gempa.

Koordinator Gempa Bumi Balai Wilayah IV Makassar Jamroni mengatakan, gempa tektonik di Mamasa yang terjadi secara beruntun sejak sepekan lalu dan hingga saat ini belum berakhir. Aktivitas gempa dimulai sejak Sabtu (3/11/2018). Gempa pertama kali ini terjadi dengan kekuatan 3,7 skala richer (SR) pukul 3.40 Wita.

“Berdasarkan data, total aktivitas gempa Mamasa sejak tanggal 3 hingga 9 November 2018 sudah terjadi sebanyak 217 gempa. Sebanyak 39 di antaranya merupakan gempa yang guncangannya dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya.

Sebelumnya, Bupati Mamasa Ramlan Badawi mengatakan, pihaknya sudah menggelar rapat koordinasi untuk penanganan pengungsi yang semakin bertambah. Pemkab Mamasa akhirnya menetapkan status siaga darurat pengungsi sejak tanggal 7-14 November 2018 karena saat ini pengungsi sudah mencapai 16.000 orang. “Pengungsi sudah mencapai belasan ribu jiwa jiwa, kalau keluar daerah sudah sekitar 8.000 jiwa,” kata Ramlan.

Sementara kurang dari 6.000 warga mengungsi ke berbagai kecamatan, yakni Kecamatan Balla, Kecamatan Tandukkkalua, Kecamatan Sumarorong, dan juga Kecamatan Messawa.

Ribuan warga terpaksa mengungsi karena trauma dan panik akibat gempa yang terus terjadi. Sebagian juga terprovokasi isu-isu hoaks yang beredar luas di masyarakat.

“Sebenarnya tidak ada imbauan kepada warga untuk mengungsi. Namun, karena warga trauma dengan keadaan pascagempa di Palu, ditambah isu-isu dan kekhawatiran keluarga, banyak warga mengungsi dari Mamasa,” katanya.

Pemkab Mamasa telah memanggil para camat, organisasi perangkat daerah (OPD), dan pemerintahan tingkat desa serta kelurahan untuk penanganan para pengungsi gempa Mamasa. “Kami terus berkoordinasi agar satu tindakan untuk membantu mengatasi masalah para pengungsi,” paparnya. [***]

Editor: Sutrisno

(Visited 14 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*