Jurnalis Indonesia melakukan aksi solidaritas untuk wartawan Arab Saudi Jamal Khashoggi di depan Kedutaan Besar Arab Saudi, di Jakarta. [Antara]

Edward Snowden Ungkap Peran Intelijen Israel soal Khashoggi

Jurnalsulawesi.comWhistleblower ‘peniup pluit’ dan mantan anggota Badan Intelijen AS Edward Snowden angkat bicara mengenai peran badan intelijen siber Israel atau NSO dalam pengungkapan jejak Khashoggi setelah jurnalis asal Saudi itu memasuki Konsulat Saudi di Istanbul, Turki.

Diketahui bahwa awalnya Saudi tak mengakui bahwa Khashoggi telah tewas dibunuh, namun akhirnya dua pekan setelahnya menyebut jurnalis itu terbunuh dalam perkelahian di Konsulat Saudi meski pernyataan tersebut meragukan banyak pihak dan tak punya dasar yang kuat.

Dikutip dari laman Sputniknews, Snowden mengatakan bahwa peran NSO sangat vital dalam mengungkap alat digital yang bisa mendapatkan jejak terakhir Khashoggi. Snowden menjelaskan hal itu melalui video conference dari sebuah lokasi di Rusia yang sengaja dikaburkan letaknya dalam acara yang diadakan oleh perusahaan strategi, komunikasi dan finansial berbasis di Tel Aviv.

Khashoggi diketahui terakhir kali terlihat saat memasuki Konsulat Saudi di istanbul, Turki. Hingga akhirnya Turki menyebutkan bahwa mereka memiliki bukti rekaman suara bahwa Khashoggi dihabisi oleh orang dalam Putra Mahkota Saudi, Pangeran Mohamad bin Salman.

Diketahui bahwa sejumlah orang penting dan pejabat di Saudi disebutkan sudah ditahan atas kasus ini.

Saudi Coba Selamatkan Muka
Sebelumnya, delegasi Arab Saudi di salah satu Sidang Majelis Umum PBB mendapat cecaran dan tekanan terkait pembunuhan terhadap jurnalis Saudi Jamal Khashoggi. Sejumlah negara anggota PBB termasuk Amerika Serikat juga disebutkan menekan abainya Saudi atas perang koalisi Saudi-Emirat terhadap Yaman. Hal tersebut disampaikan dalam laporan Universal Periodic Review yang mana 193 delegasi dari negara-negara anggota PBB harus menyampaikannya setiap empat tahun sekali.

Dicukil dari laman Aljazeera, delegasi AS menyatakan bahwa Saudi layak disalahkan dalam pembunuhan tanpa peradilan yang dilakukan terhadap Khashoggi, residen AS dan pengkritik nomor satu rezim Kerajaan Saudi tersebut. Walau memang diketahui bahwa secara politik selama ini, Saudi merupakan sekutu AS di Timur Tengah.

“Penyelidikan yang transparan harus dibuka dalam kasus ini karena hal itu akan sangat esensial,” disebutkan delegasi AS di Jenewa, Swiss.

Sementara Amnesty International dalam kesempatan itu juga mengingatkan Saudi yang tak ramah terhadap aktivis HAM dan terus menekan kebebasan berpendapat hingga melakukan perang dan kekerasan terhadap negara lain di Timur Tengah. Lembaga ini karena itu meminta negara-negara anggota PBB tak tinggal diam atas kebijakan Saudi.

“Negara-negara anggota PBB harus mengakhiri masa diam mereka atas Arab Saudi dan melakukan tugas mereka buka suara atas kekejaman Kerajaan itu selama ini untuk mencegah agar kekerasan terhadap HAM tak bertambah banyak baik di negaranya maupun di Yaman,” kata Direktur Kampanye HAM Amnesty International untuk Timur Tengah, Samah Hadid.

Sementara delegasi Saudi yang dipimpin Ketua Komnas HAM Saudi, Bandar al-Aiban mencoba menyelamatkan muka negaranya dalam forum resmi itu.

“Kerajaan Arab Saudi menyatakan dukacita atas kematian Jamal Khashoggi. Raja Salman secara langsung juga sudah memerintahkan adanya penyelidikan atas kasus tersebut dan kami memastikan bahwa fakta-fakta yang sesungguhnya akan dibuka dan pelaku diproses dengan hukum yang berlaku,” kata Bandar al-Aiban. [***]

Sumber; Viva

(Visited 7 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*