Wilianita Selviana dari FARP (tengah) saat memaparkan analisisnya dalam dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan DPRD Kabupaten Poso, Kamis (8/3/2018). [Ist]

FARP: ‘Poso River Improvement’ Bakal Lenyapkan Kearifan Lokal

Poso, Jurnalsulawesi.com – Front Aksi Rano Poso (FARP) mengungkapkan analisisnya, bahwa renovasi jembatan Pamona hanyalah pintu masuk perusahaan milik Kalla Group, untuk melakukan pengerukan dasar hulu sungai Poso, sedalam 4 meter dan lebar 40 meter melalui proyek Poso River Improvement.

Menurut Wilianita Selviana dari FARP, proyek ini hanya disederhanakan dengan nama normalisasi daerah aliran sungai. Dari informasi yang diperoleh FARP, proyek Poso River Improvement itu akan dilakukan sepanjang 12,8 kilometer, mulai dari area hulu sungai Poso ke arah proyek PLTA di desa Saojo, Kecamatan Pamona Utara.

“Jika proyek ini terealisasi, pasti akan meminggirkan bahkan menghilangkan kearifan lokal masyarakat di kawasan proyek, seperti Waya Masapi (pagar Sogili), Karamba, Mosango, Mobubu dan Monyilo,” kata Wilianita, dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan DPRD Kabupaten Poso, Kamis (8/3/2018).

BACA JUGA: Sikap DPRD Poso Terbelah

Wilianita khawatir jika proyek ini terlaksana akan merubah bentang alam di hulu Sungai Poso, yang pada suatu saat akan menimbulkan bencana. Bahkan banyak masyarakat akan terkena dampaknya. Misalnya, nelayan akan kehilangan mata pencaharian yang sudah jadi tradisi masyarakat Pamona, seperti Mosango, Mobubu dan Monyilo yang sudah turun temurun akan punah.

“Sebabnya area-area yang menjadi tempat mereka beraktifitas akan berubah. Air di hulu sungai yang rencananya dikeruk menjadi lebih dalam, sehingga mustahil nelayan menombak ikan (Monyilo). Demikian pula pagar Sogili tidak mungkin lagi ditancapkan di tengah sungai,” terang Wilianita.

Sementara, Humas PT Poso Energy, Irmawati, menjelaskan bahwa jembatan Pamona tidak akan dibongkar, tetapi hanya dilakukan beberapa perbaikan, seperti menutup lubang di lantai akibat ada papan yang lapuk.

“Selain itu, dalam desain renovasi kendaraan roda dua tidak bisa lagi melewati jembatan itu. Di dalam area jembatan sepanjang 200 meter itu juga akan disediakan gallery, yang berisi sejarah pembangunan jembatan Pamona,” terang Irmawati.

Irmawati menuturkan, mengenai Poso River Improvement yang disebut akan menghilangkan beberapa tradisi seperti pagar Sogili dan Monyilo serta Mosango masyarakat danau, pihaknya menawarkan beberapa opsi kepada para nelayan. Pertama katanya, para pemilik pagar Sogili ditawarkan model budidaya. Namun bila opsi itu ditolak, perusahaan lanjut Irmawati akan memfasilitasi pembuatan pagar Sogili, tapi posisinya sudah dipinggir sungai.

Dijelaskan Irmawati, proses Poso River Improvement memerlukan waktu untuk melaksanakannya. Pihaknya, melakukan tahapan sesuai dengan peraturan yang berlaku. “Ada tahapan yang mesti dilalui, mulai dari sosialisasi kepada masyarakat untuk menyusun kerangka Amdal. Setelah kerangka Amdalnya jadi, dilakukan sosialisasi kedua untuk mendapatkan masukan terkait solusi atas permasalahan yang muncul pada saat sosialisasi pertama,” terangnya.

Selanjutnya kata Irmawati lagi, pada tahapan ketiga adalah pembahasan kajian Amdal di provinsi. Pada tahapan ini, seluruh masyarakat terdampak proyek akan diundang hadir. “Pembahasan untuk tahap ketiga ini akan dilaksanakan di Kota Palu sebagai Ibukota provinsi,” katanya.

Kiriman; Sofyan Siruyu
Editor; Sutrisno

(Visited 228 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*