Pembukaan FPPN 2016 juga diisi dengan duet Walikota dan Wakil Walikota Palu dengan menyanyikan dua lagu Kaili yang mendapat sambutan antuasias dari penonton. (Foto: Jufri/Jurnalsulteng.com)

FPPN II Targetkan Rekomendasi untuk Indonesia Berbudaya

Bagikan Tulisan ini :

Palu, Jurnalsulawesi.com – Festival Pesona Palu Nomoni (FPPN) II pada September 2017 ditargetkan akan menelorkan rekomendasi dan deklarasi Palu untuk Indonesia yang berbudaya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Palu Ansyar Setiadi di Palu, Kamis (27/7/2017), mengatakan rekomendasi dan deklarasi itu diharapkan lahir dari dialog nasional revitalisasi budaya bangsa sebagai salah satu agenda di Festival Pesona Palu Nomoni (FPPN) II nanti.

Dia mengatakan kegiatan itu dapat mendorong peningkatan kapasitas lembaga adat daerah dan peran tokoh informal untuk menjaga nilai budaya bangsa, yaitu toleransi, kekeluargaan dan gotong royong dalam tata kehidupan sosial.

Menurut Ansyar, tata kehidupan sosial di Indonesia saat ini berada dalam fase yang memprihatinkan dengan banyaknya ancaman berupa radikalisme, penyimpangan ideologi bahkan ancaman keutuhan NKRI.

“Ancaman tersebut harus mendapatkan solusi agar tidak semakin melebar, dan merusak tata kehidupan sosial rakyat Indonesia,” katanya.

Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung 22-27 September di Teluk Palu ini mendapat dukungan dari Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud RI dan Ikatan Alumni Lemhanas RI.

FPPN kali ini juga dirangkai dengan Pekan Budaya Indonesia III, salah satu agenda rutin tahunan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud.

Ansyar mengatakan bahwa Wali Kota Palu Hidayat ingin mendorong nilai budaya bangsa kembali menjadi roh dalam tata kehidupan sosial, sehingga semua ancaman tersebut tidak akan mampu merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat.

Dialog revitalisasi budaya bangsa tersebut kata Ansyar adalah tindak lanjut dari berbagai program strategis pemerintah Kota Palu dalam rangka penguatan nilai budaya bangsa agar bisa menggaung secara nasional.

Program pemerintah Kota Palu saat ini, kata dia, antara lain penguatan peran lembaga adat dalam menyelesaikan permasalahan sosial, membentuk Satgas K5 (Kebersihan, Keindahan, Keamanan, Ketertiban dan Kenyamanan).

Selain itu juga terdapat satuan tugas yang bekerja untuk mendorong terciptanya rasa nyaman masyarakat melalui Gerakan Gali Gasa, yakni suatu gerakan yang mendorong keterlibatan masyarakat dalam kebersihan lingkungan,

Secara simbolik pemerintah juga mendorong setiap siswa SD dan SMP menggunakan tutup kepala sesuai adat asal daerah masing-masing. Hal ini dimaksudkan sebaga upaya penanaman secara dini nilai budaya kepada siswa SD dan SMP.

Tidak kalah pentingnya, Pemerintah Kota Palu telah menambah jam belajar agama di SD dan SMP untuk meningkatkan pengetahuan agama bagi siswa di Kota Palu.

“Semua program dan kegiatan itu merupakan strategi revitalisasi budaya bangsa yang diharapkan dapat menjadi praktik cerdas dalam menciptakan ketahanan masyarakat menghadapi berbagai ancaman terhadap tata kehidupan sosial rakyat Indonesia,” katanya.[***]

Source; Antarasulteng.com

(Visited 2 times, 1 visits today)

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*