Gubernur Sulteng Longki Djanggola (duduk pakai sarung) mengikuti prosesi adat 'moriusi' oleh pemangku adat di Kelurahan Poboya, Palu, Rabu (28/2/2018). [Humas Pemprov]

Gubernur Longki Djanggola ‘Mandi Adat’ di Sungai Poboya

Bagikan Tulisan ini :

Palu, Jurnalsulawesi.com – Gubernur Sulawesi Tengah Drs H Longki Djanggola, MSi sebagai Tomaoge (pemimpin besar) di Tanah Kaili, mengikuti prosesi adat moriusi atau mandi secara adat di Sungai Poboya, dalam rangkaian ritual adat Pora’a Binangga di Kelurahan Poboya, Kota Palu, Rabu (28/2/2018).

Pora’a Binangga merupakan ritual adat yang sudah dilaksanakan secara turun temurun dan terus dilestarikan oleh masyarakat adat Poboya untuk memohon keberkahan dari Allah SWT berupa hujan dan sinar matahari silih berganti yang bermanfaat bagi umat manusia dan alam semesta.

Ritual adat Pora’a Binangga dilaksanakan dengan beberapa prosesi antara lain pemukulan gimba oleh dua orang yang saling bersahutan dengan maksud untuk mengundang leluhur dapat hadir pada acara tersebut.

Selanjutnya dilakukan penyembelihan dua ekor kambing jantan besar yang berwarna putih dan hitam di Sungai Pondo dan selanjutnya menancapkan bambu kuning sebagai pohon vunja yang dihiasi dengan janur kuning dan digantungi buah ketupat dan berbagai kelengkapan adat.?

Prosesi puncak ritual adat Pora’a Binangga yaitu prosesi memandikan keturunan Madika (raja) antara lain Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola (cucu Djanggola), Rum Parampasi (cucu Djanggola ), Nani Djanggola (cucu Djanggola) Tompa Yotokodi (cucu Rimainta), Biuni DJ. Ganagimpu (cucu Rantelembah).

Ada juga Dae Salanga (cucu Rujunjobu), Indorose (cucu Rimainta), Hj. Nilla (cucu Djanggola), Andi Sinta Tagunu (cucu Tagunu ) yang semuanya adalah merupakan cicit dari Tompa Lele dan Daeng Nuru.

Tokoh yang memandikan keturunan Madika tersebut adalah sesepuh adat yang merupakan turunan dari leluluhr yang dulunya memandikan Madika (raja).

Pada prosesi memandikan atau moriusi tersebut, sesepuh adat melakukan dialog dengan para leluhur yang mendiami empat penjuru wilayah Kota Palu yang disebut patanggota dengan maksud menyampaikan keinginan cucu keturunan raja agar dapat dipenuhi untuk kesejahteraan masyarakatnya.?

Setelah dilakukan seluruh prosesi Adat Pora’a Binangga, Wali Kota Palu Hidayat menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh sesepuh adat yang secara terus menerus melestarikan adat istiadat dan budaya yang hidup dan berkembang di masyarakat selama ini.

Ia mengharapkan seluruh sesepuh adat agar terus melestarikan pelaksanaan ritual adat ini dengan baik bahkan dikembangkan menjadi atraksi wisata untuk meningkatkan daya tarik wisatawan mengunjungi Kota Palu.

Gubernur Longki Djanggola, menyicipi panganan tradisional berupa paepulu tinggaloko dan cucuru di Pohon Vunja di Daerah Aliran Sungai Poboya, dalam rangkaian ritual adat Pora’a Binangga, Rabu (28/2/2018). [Humas Pemprov]

Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi kepada para pemangku adat yang terus menghidupkan prosesi ritual adat seperti ritual Pora’a Binangga.

“Tujuannya sangat baik untuk meminta turunnya hujan dan hujan yang turun menjadi berkah yang sangat besar kepada masyarakat,” ujarnya.

Gubernur meminta seluruh sesepuh adat agar terus melestarikan budaya dan adat istidat yang ada di tengah tengah masyarakat.

Pemprov Sulteng, katanya, sudah memiliki Perda Adat sebagai acuan pemerintah kabupaten/kota dalam melestarikan budaya dan adat istiadat di wilayahnya. [***]

Sumber; Antara

(Visited 341 times, 1 visits today)

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*