[Ilustrasi]

Karena Isu SARA dalam Pilkada Bukan Humor

Oleh: Adi Prianto
Kloter terakhir Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 di Sulawesi Tengah berada di tiga Kabupaten, Donggala, Parigi Moutong dan Morowali.

Bukan mau memindahkan riuh rendah Pilkada DKI Jakarta tempo lalu secara kasar digiat elekotal lokal Sulawesi Tengah, karena Jakarta-lah kapitalisasi isu-isu SARA bisa menyebar dan akan terasa di tiga Pilkada terakhir disini.

Vera Laruni menjadi terbuka diserang dengan kepercayaan agama-nya ataupun garis keturunan, Samzurizal Tombolotutu bisa menggunakan sentimen sejarah Raja Tombolututu yang melawan penajajah Belanda, sementara klan lain tidak memiliki riwayat itu.

Gank Wosu yang mendominasi pertarungan Pilkada Morowali bisa dikapitalisasi oleh kandidat di luar Wosu, kesemuannya adalah mungkin isu SARA digunakan, karena menuju kekuasaan lokal pada demokrasi terkini mengharuskan menang, cara baik atau buruk bukan persoalan penting.

Setiap pertarungan elektoral disini, negeri Sulawesi Tengah, para kompotitor serta para pendukungnya, baik kalah maupun menang. Berujar bahwa segala cara yang digunakan, Black Campain ataupun sejenisnya, dilakukan hanya terikat pada ruang dan waktu pelaksanaan Pilkada, selebihnya dimakan waktu dan menguap dengan rutinitas hari-hari dan akan dilupakan setelahnya.

Isu SARA bukanlah humor di tengah kepenatan atau kekakuan politik formal yang sedang berlaku, jusru terbalik. Panggung politik lokal pada hajatan resmi memang kering akan cita-cita dan program kerakyatan yang dapat meningkatkan ekspektasi pemilih bahwa politik menjadi jalan mulia, sistem yang melahirkan para pemimpin yang benar-benar memperjuangkan dan meningkatkan taraf hidup rakyat mayoritas.

Merujuk pada Prof. Miriam Budiarjo mengenai floating mass. Orde Baru Soeharto sudah lama berlalu, reformasi dan demokrasi saat ini belum menyapu bersih masa mengambang.

Bejibun Parpol peserta Pemilu hanya menempatkan rakyat-rakyat Desa sebagai pelengkap formalitas struktur dan mobilisasi momentum tertentu-kampanye terbuka dan TPS.

Karena Parpol peserta Pemilu dari nasional sampai tingkat provinsi dikuasai oleh oligarki, problem lain sistem demokrasi yang sudah terseret jauh menjadi liberal dan representatif dari kelas sosial tertentu yang melayani kepentingan-kepentingan kelasnya.

Rakyat-rakyat yang menjadi voters itu tidak menjadi subjek parpol peserta Pemilu pada Pilkada, seiya sekata menjadi objek politik transaksional.

Penyelidikan yang lebih dalam mengenai hal ihwal timbulnya isu SARA pada event politik temporar lima tahunan, adalah pendapat dari maha guru Arianto Sangadji.

Dengan pendekatan ekopol marxisme, pada diskusi formal dengan penulis, beliau menyebutkan bahwa Pemilu 1955 itu juga demokrasi liberal, semua spektrum dan aliran politik menjadi pesertanya tidak ada dagang isu SARA pada saat itu, dapat dibuktikan dengan dokumen-dokumen partai pemenang lima besar.

Masih menurut beliau, panggung politik zaman itu isiannya adalah idiologi, aliran-aliran politik dengan analisa idiologinya memanifestasikan program-program dan pendidikan politik langsung untuk mengarahkan rakyat memilihnya.

Ya, sejak pembersihan idiologi tertentu dipanggung nasional dan rekayasa sosial dibidang politik zaman Orde Baru dengan azas tunggal dan fusi parpol, program-program yang diteriakan melalui panggung elektoral tidak lebih hanya panggung sandiwara.

Pancasila sebagai idiologi bangsa dan negara, bagi pelaku utama politik lokal bahwa idiologi Pancasila bukanlah idiologi yang hidup dan menjadi keharusan dihidupkan ke tengah-tengah rakyat. Bhineka Tunggal Ika itu benar, keberagaman keyakinan, suku, warna kulit dan idiologi dijamin oleh Pancasila.

Dari Bhineka Tunggal Ika saja tidak diakui dan menggunakan isu SARA untuk menjatuhkan lawan politik berarti parpol dan elitnya benar-benar salah dan haus kekuasaan.

Tidak lucu menggunakan isu SARA pada Pilkada 2018 di Sulawesi Tengah, riwayat politik modern kita di Sulawesi Tengah tidak pernah ada, kecuali pengalaman Poso. Karena Poso pernah digempur isu SARA, maka jangan mengulangi kejadian yang sama. [***]

(Penulis adalah Ketua PRD Sulawesi Tengah)

(Visited 71 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*