Massa menggelar aksi di depan Mapolda Sulteng, Kamis (29/3/2018). Massa mendesak aparat kepolisian menangkap aktor kericuhan eksekusi lahan di Tanjungsari Luwuk. [Trisno]

Kasus Eksekusi Tanjungsari, Jangan Benturkan Aparat dan Rakyat !

Palu, Jurnalsulawesi.com- Ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat dan Mahasiswa Sulteng Menggugat yang representasi gabungan dari Majelis Mahasiswa Untad – Pusat Kajian dan Advokasi Rakyat Sulteng (PATAKA), menggeruduk Mapolda Sulteng, di Jalan Sam Ratulangi, Kota Palu, Kamis (29/3/2018), sekira Pukul 10.30 Wita.

Kedatangan massa aksi ini untuk mendesak jajaran Kepolisian segera meringkus aktor intelektual dibalik kasus penggusuran masyarakat Tanjung Sari, Luwuk, Kabupaten Banggai, yang berakhir bentrok.

Koordinator Lapangan (Korlap) Nuryadin dalam orasinya mengatakan, penggusuran lahan di Tanjung Sari adalah murni persoalan penegakkan hukum.

Karena itu ia yakin kepolisian juga hanya melaksanakan perintah keputusan Pengadilan Negeri (PN) Luwuk yang telah yang membuat keputusan salah dalam kasus tersebut.

“Makanya kami mendesak kepada pemerintah untuk segera menuntaskan dan mengembalikan hak atas tanah masyarakat Tanjung Sari dan tangkap aktor intelektual dibalik kericuhan proses eksekusi lahan tersebut,” kata Nuryadin, saat membacakan butir-butir pernyataan sikapnya.

Dalam orasinya Nuryadin juga menyayangkan adanya oknum-oknum yang justeru membuat situasi makin memanas hanya untuk kepentingan pribadi dan kepentingan kelompoknya.

“Jangan benturkan aparat dengan rakyat dengan cara komersilsasi isu SARA. Karena ini yang sengaja dimainkan oleh pihak pemodal bisnis dan politik, yang mencoba mengeksploitasi kasus Tanjungsari untuk memecah belah persatuan dan kesatuan,” teriak Nuryadin.

Karena itu Nuryadin menghimbau kepada seluruh masyarakat Sulteng agar menempatkan kasus penggusuran Tanjung Sari, dalam frame hukum dan murni perjuangan kemanusiaan yang jauh dari isu SARA.

Ia juga meminta agar masyarakat menghindari pemberitaan baik itu di media mainstream maupun media online, yang berbau provokatif, serta cenderung memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

“Kami juga menolak dan mengecam komersialisasi isu SARA yang sengaja dimainkan oleh pihak pemodal yang mencoba mengeksploitasi kasus Tanjung Sari untuk membenturkan serta memecah belah persatuan masyarakat Sulteng dengan aparat Kepolisian,” tandasnya.

Olehnya itu ancam Nuryadin, jika aparat kepolisian belum juga bisa meringkus serta memproses aktor-aktor intlektual dibalik kasus ini, maka kami akan menurunkan massa yang lebih besar lagi.

Sementara Kabid Humas Polda Sulteng AKBP Hery Murwono yang menemui pengunjuk rasa berjanji akan mengamodir tuntutan serta aspirasi massa aksi.

“Yang jelas aparat Kepolisian telah bertindak sebagai pelindung dan pengayom masyarakat,” tandas Kabid Humas.

Mengenai tuntutan para pengunjuk rasa, pihaknya akan menyampaikan keinginan tersebut kepada Kapolda Sulteng.

Usai menyampaikan orasi dan pernyataan sikap, massa aksi membubarkan diri dengan tertib dan mendapat pengawalan dari aparat kepolisian. [***]

 

Penulis; Sutrisno/Agus Manggona

(Visited 382 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*