Kawasan Megalitik Lore Lindu

Kawasan Megalitik Lore Lindu Disiapkan Jadi Warisan Dunia

Bagikan Tulisan ini :

Palu, Jurnalsulawesi.com – Kawasan cagar budaya Lore Lindu di Sulawesi yang memiliki kronologi budaya megalitik tertua di Indonesia sedang disiapkan untuk diajukan ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menjadi warisan budaya dunia.

“Jika masyarakat siap lima tahun bisa menjadi warisan dunia,” kata Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Gorontalo Zakaria Kasimin di sela diskusi “Kawasan Megalitik Lore Lindu” di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (23/9/2017).

Pihaknya tahun depan, lanjut dia, berencana melakukan deliniasi (mencari batas-batas persebaran situs) yang diperkirakan tersebar antara Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Barat serta melakukan zonasi inti, penyangga, pengembangan, dan zonasi penunjang.

Situs megalitik yang dicirikan oleh adanya struktur yang tersusun dari batu-batu besar (megalit) ini diperkirakan cukup tua yang dari hasil penelitian diperkirakan berusia sekitar 2351-1416 Sebelum Masehi.

“Situs ini bisa jadi juga yang terbesar persebarannya di Asia Tenggara dibanding peninggalan di Laos. Tetapi ini masih perlu riset. Oleh karena itu penting untuk mengumpulkan para arkeolog, pemda dan pihak terkait lain untuk memberi pandangannya tentang Lore Lindu,” katanya.

Persebaran situs ini, ia memperkirakan, lebih dari 200 ribu hektare, khususnya di kawasan Taman Nasional Lore Lindu di Kabupaten Poso dan Sigi, berupa tong-tong batu (kalamba), arca, menhir, punden berundak, benteng, serta tempayan batu yang jumlahnya sampai 67 situs.

“Ada kemungkinan masyarakat pendukungnya merupakan penutur Austronesia, yang merupakan cikal-bakal orang Indonesia. Tapi mungkin juga pembawa kebudayaan tersebut sudah punah atau bercampur. Ini perlu penelitian lebih jauh,” katanya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Kebudayaan, Kemdikbud Hilmar Farid mengatakan kawasan megalitik Lore Lindu selain penting bagi sejarah Nusantara, juga signifikan bagi dunia karena merupakan peninggalan dengan persebaran yang luas termasuk di dalam hutan.

“Pemerintah Palu dan Sulteng sudah berkomitmen untuk melestarikannya. Tugas kami fasilitator karena peninggalan kebudayaan adanya tersebar di daerah. Kami membantu mengembangkan ekosistemnya,” katanya.

Sejarah kebudayaan, menurut dia penting terus digali, karena akan membantu masyarakat untuk mengenal jati dirinya.[Ant]

(Visited 4 times, 1 visits today)

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*