Ketua PB PMII Aminuddin Ma’ruf menjalani sanksi adat melalui prosesi Atura Nuada Ante Givu Nuada to Kaili Ri livotu nu Palu atau Hukum dan Sanksi Adat di Kota Palu, Kamis (18/5/2017). [Ist]

Ketua PB PMII Jalani Sanksi Adat

Palu, Jurnalsulawesi.com – Ketua Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) Aminuddin Ma’ruf menjalani sanksi adat melalui prosesi Atura Nuada Ante Givu Nuada to Kaili Ri livotu nu Palu atau Hukum dan Sanksi Adat di Kota Palu.

Prosesi adat yang berlangsung Kamis (18/5/2017) sekira Pukul 10.10 WITA itu dilaksanakan di aula atau bantaya di Kelurahan Balaroa, dihadiri Ketua PB PMII Aminuddin Ma’arif sebagai pelanggar adat, Walikota Palu Hidayat dan sejumlah tokoh ketua adat di Kota Palu.

Ketua PB PMII ini terkena sanksi adat karena salah ucap saat menyampaikan sambutannya dalam Kongres PMII ke XIX di Palu, Sulawesi Tengah yang dihadiri Presiden RI, Selasa (16/5/2017) lalu.

Aminuddin Ma’ruf diangap telah melakukan kesalahan adat karena salah berucap atau sala mbivi sehingga dikenakan berupa tiga ekor kambing dan 30 buah piring baru.

Walikota Palu Hidayat dalam sambutannya berharap agar warga Kota Palu melapangkan dada untuk memberikan maaf kepada Aminuddin Ma’ruf.

“Saya mengajak seluruh masyarakat Kota Palu untuk junjung tinggi adat Kaili. Saya juga mengharap jangan ada lagi bahasa yang menyinggung perasaan adat Kaili. Mari kita sejalan demi kemajuan Kota Palu yang dilandasi rasa saling memiliki,” kata Hidayat.

Usai diberikan wejangan, agar tidak melakukan kesalahan lagi, prosesi adat ini pun berakhir dengan ditandai penyerahan tiga ekor kambing dan 30 lempeng piring tanah oleh Aminuddin Ma’aruf.

“Ini merupakan bagian dari kekayaan adat istiadat khasanah Nusantara. PMII, anak muda NU itu menghargai budaya lokal. Dan sekali lagi ini murni ketidak kepahaman saya atas budaya lokal dan insya Allah ada hikmahnya,” kata Aminuddin dalam sambutannya.

Sementara Ketua adat kelurahan Duyu Ramli Batalembah menjelaskan, sanksi sala mbivi merupakan kesalahan yang paling kecil dalam adat Kaili. Biasanya denda atas kesalahannya itu adalah kambing kecil tiga ekor, seperti yang dikenakan kepada Aminuddin Ma’ruf.

“Kambing ini dipotong, saat ada kegiatan adat atau kegiatan masyarakat seperti kerja bakti atau kerja di masjid, ini yang dipotong kemudian dimasak dan nanti dibagikan ke warga,” kata Ramli

Kemudian menurut Ramli, sala baba atau kesalahan sedang seperti misalnya mencuri dan sebagainya.

Selanjutnya sala kana atau kesalahan yang terbesar dendanya bisa seekor kerbau, misalnya melakukan zina.

Selain dihadiri Walikota dan Ketua adat kelurahan Duyu Ramli Betalemba, pelaksanaan sanksi ini juga dihadiri Ketua Adat Balaroa Gasali Lapute S.Sos, Ketua Adat Donggala Kodi Masran Lamuhadi, Ustd irwanadi (FPI), Ustad Subhan Lasawedi (Kepsek SD Alkhaerat Palu), Ustd Dr Gani Jumat, Sahran Raden (Ketua KPU Sulteng) dan Dr Muhtadin Dg Mustafa (Warek IV IAIN Palu).[***]

 

Rep; Sutrisno

Komentar Anda..!

Komentar

Pasang Iklan Anda disini... Info Selengkapnya Silahkan Klik!

Tinggalkan Komentar Anda...