“Lelucon” yang Tak Lucu

Bagikan Tulisan ini :

Oleh: Sutrisno

SEJAK Selasa (16/5/2017) siang, publik Sulawesi Tengah khususnya Kota Palu tiba-tiba resah karena pernyataan Ketua PB PMII Aminuddin Ma’ruf di forum resmi pembukaan Kongres ke XIX yang menyebut Bumi Tadulako sebagai pusat Radikalisme dan pusat penentang NKRI.

Parahnya lagi, pernyataan itu disampaikan dihadapan Kepala Negara, sejumlah menteri dan Gubernur Sulawesi Tengah.

Semua tersentak bagai tersengat listrik 220 Volt. Berbagai kalangan mulai dari tokoh agama, akademisi, praktisi, tokoh pemuda, tokoh adat hingga masyarakat biasa mengecam pernyataan itu. Bahkan Ketua Umum PB Alkhairaat Habib Saleh bin Muhammad Aldjufri sampai gerah dibuatnya.

Padahal semua tahu, Provinsi Sulawesi Tengah khususnya Kota Palu adalah pusat sekaligus tempat lahirnya Al Khairaat, yang merupakan Perguruan Islam terbesar dan sudah menyebar se-Indonesia Timur.

Dengan nada satir dan sedikit nyinyir pernyataan itu diawali dengan frasa KATAnya, sehingga pernyataan itu diiringi dengan tepuk tangan dan tawa yang hadir.

Entah apa yang ada dibenak Aminuddin Ma’ruf saat memberikan sambutan terakhirnya sebagai Ketua Umum PB PMII itu.

Mungkin saja, sekali lagi mungkin Aminuddin ingin menyegarkan suasana pembukaan kongres agar sedikit rileks dan tidak tegang karena dihadiri Presiden. Karena saat memberikan sambutan dan menyebut daerah ini sebagai pusat radikalisme, Aminuddin mempertegas frasa KATAnya.

Sungguh sangat disayangkan, bila ungkapan itu dibuat sebuah lelucon. Karena bila demikian maksudnya, maka itu benar-benar sebuah LELUCON yang TIDAK LUCU.

Siapapun pasti akan marah, siapapun pasti akan murka bila daerahnya disebut sebagai pusat radikalisme dan penentang NKRI. Tak terkecuali saya sebagai warga bumi Tadulako, karena pernyataan itu tanpa bukti dan tanpa dasar sama sekali.

Sebagai rakyat Sulawesi Tengah, saya sudah 39 tahun mendiami Bumi Tadulako ini, tetapi baru kali ini saya mendengar ada yang mengatakan hal itu.

Semua kabupaten/kota di Sulawesi Tengah juga sudah pernah saya kunjungi, tetapi belum pernah saya melihat adanya penentang NKRI di daerah ini. Bahkan toleransi dan saling menghormati sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Sulawesi Tengah.

Meski hari ini Aminuddin Ma’ruf telah melakukan klarifikasi dan permintaan maaf dihadapan Gubernur Longki Djanggola dan dihadapan tokoh agama, tokoh adat serta jamaah Mesjid Agung Darussalam, tetapi sanksi adat harus tetap dijalaninya. Karena setiap daerah mempunyai adat dan tradisi yang harus kita hormati dan kita patuhi.

Hukuman yang berikan lembaga adat yang harus diterima Aminuddin Ma’ruf berupa sanksi adat atau givu salambivi (salah bicara), berupa tiga ekor kambing dan 30 buah piring baru.

Dengan diberikannya sanksi ini bisa menjadi pembelajaran bagi Aminuddin Ma’ruf untuk lebih menjaga tutur kata dimana pun berada, sebagaimana pribahasa lama “Di mana Bumi Dipijak, Di Situ Langit Dijunjung.” Semoga !!! [***]

(Visited 1 times, 1 visits today)

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*