Kawasan Perumnas Balaroa yang luluh lantak akibat gempa dan likuifaksi pada Jumat (28/9/2018) lalu.

Lokasi Gempa Likuifaksi di Kota Palu Akan Jadi RTH

Jurnalsulawesi.com – Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, tiga kelurahan di Kota Palu, Sulawesi Tengah, yaitu Petobo, Balaroa dan Jono Oge akan ditutup dan tak lagi dijadikan hunian masyarakat.

Di wilayah yang ditelan lumpur atau likuifaksi itu, pemerintah berencana membangun ruang terbuka hijau dan monumen untuk dijadikan sebagai tempat bersejarah.

“Lokasi likuifaksi itu akan ditutup dan akan dijadikan ruang terbuka hijau serta menjadi memorial park atau tempat bersejarah dan akan dibangun monumen.” kata Sutopo di Kantor BNPB, Jakarta Timur, Selasa (9/10/2018).

Selain itu, ia mengungkapkan, para korban yang selamat dari musibah itu akan menggelar doa bersama untuk para korban yang tewas. Doa bersama rencana akan dilakukan pada Kamis besok.

Doa bersama itu juga bertepatan dengan berakhirnya masa pencarian korban di lokasi likuifaksi Kota Palu. Penghentian pencarian tersebut mempertimbangkan kondisi jenazah yang ditemukan dalam keadaan membusuk dan sudah tak lagi dikenali.

“Korban yang berhasil dievakuasi, jika sudah 14 hari itu sudah melepuh atau susah dikenali. Jenazah yang ditemukan langsung dimakamkan. Karena berpotensi menimbulkan penyakit,” ungkap Sutopo.

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan menghentikan pencarian korban meninggal dunia pada Kamis besok di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Wilayah yang akan dihentikan itu yakni di Kelurahan Petobo, Balaroa dan Jono Oge.

Sutopo mengatakan, ketiga daerah yang dihentikan untuk pencarian korban itu merupakan wilayah yang terjadi atau terkena likuifaksi.

“Jadi mulai 11 Oktober 2018 secara resmi proses evakuasi disetop,” kata Sutopo.

Jumlah Korban Jiwa
Sekadar informasi, Tim SAR Gabungan masih terus mengevakuasi para korban gempa yang berujung tsunami di Palu-Donggala, Sulawesi Tengah. Sebanyak 2.010 korban sudah teridentifikasi meninggal dunia hingga H+11a atau Selasa (9/10/2018).

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, total jumlah itu berdasarkan data yang didapat dari beberapa lokasi seperti di Donggala, Palu, Sigi dan Moutoung.

“2.010 korban meninggal dunia. Perinciannya 171 di Donggala, 1.601 di Palu, 222 di Sigi, 15 di Moutoung dan 1 orang di Pasang Kayu,” kata Sutopo di Kantor BNPB, Jakarta Timur, Selasa (9/10/2018). [***]

Sumber; Liputan6

(Visited 79 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*