[Ilustrasi]

Mantan Teroris Sadar, Kini Menjadi Petani

Palu, Jurnalsulawesi.com – Salamun Dg Pasau alias Amun alias Ahmad Azzam Bin Pasau adalah salah satu mantan terpidana kasus teroris, yang sempat menjalani hidup di balik jeruji besi.

Ia ditangkap karena salah satu pelaku bom Kafe Sampoddo Indah di Kecamatan Wara Selatan, Kota Palopo, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).

Warga Desa Tabalu, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso ini, memiliki kemampuan dalam merakit bom.

Bahkan berdasarkan pengakuannya, ia sempat melarikan diri, namun polisi berhasil meringkusnya di Wilayah Desa Sibayu, Kecamatan Balaesang, Kabupaten Donggala.

Setelah menjalani masa tahanan selama 18 tahun, Ahmad Azzam kini bisa menghirup udara bebas sejak tahun 2012 lalu. Kala itu, ia hanya diharuskan wajib lapor kepada aparat kepolisian.

Rasa simpatinya kepada korban sejumlah aksi bom membuatnya tersadar, bahwa apa yang dia yakini selama ini salah.

“Itu benar-benar menjadi titik balik saya. Tujuan utama saya tegakkan Islam di bumi kenapa yang saya lakukan justru menimbulkan kerugian besar bagi pribadi orang yang menjadi korban,” kata Ahmad Azzam, dalam pengakuannya kepada Kasubdit IV Intelkam Polda Sulteng Kompol Safruddin, beberapa waktu lalu.

Apalagi tambahnya, ia menyadari setelah menjadi terpidana teroris, ada label berbahaya yang melekat pada dirinya.

Saat ini kata Safruddin, Ahmad Azzam berprofesi sebagai petani dan mengolah sawah di Wilayah Kabupaten Poso.

Ahmad Azzam pun telah menyadari, bahwa perbuatannya yang dulu dianggap sebagai jihad ternyata salah.

Kini ia berharap agar masyarakat tidak terpengaruh dengan paham-paham radikal, serta pemahaman dan ajaran kelompok ISIS.

Ahmad Azzam juga mengakui,
meski hanya melalui handpone pada Tahun 2004, ia mendapat taklim dari Aman Abd Rahman, yang saat ini sedang menjalani proses hukum di pengadilan dan mendapat vonis hukuman mati.

“Saya mengajak masyarakat bisa menyadari hal ini. Mari kita menjaga keamanan serta membangun kembali persaudaraan/persatuan di Kabupaten Poso yang sempat tercabik-cabik karena konflik horizontal,” pinta Ahmad Azzam, seperti pengakuannya kepada Kompol Safruddin. [***]

 

Penulis; Agus Manggona
Editor; Sutrisno

(Visited 42 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*