Ketua Majelis Dakwah Alkhairaat Sulteng, Ustad Suhban Lasawedi (tengah) dan Kompol Abdul Haris Saleh (baju putih). [Ist]

Mencegah Paham Radikalisme dengan Dakwah

Bagikan Tulisan ini :

Palu, Jurnalsulawesi.com – Penyebaran radikalisame dan terorisme jadi perhatian serius pemerintah Indonesia. Dari sekian upaya untuk membendung penyebaran paham radikal terorisme tersebut, mencegah melalui dakwah agama adalah upaya paling efektif.

“Jelasnya, untuk menanggulangi paham radikalisme yang berkedok agamadi Kota Palu, akan lebih baik bila dilakukan pencegahan sejak dini, dibandingkan harus menyembuhkan. Dari sisi agama, ada beberapa langkah yang dapat menangkal propaganda radikalisme tersebut,” ungkap Ketua Majelis Dakwah Alkhairaat Sulawesi Tengah, Ustad Suhban Lasawedi, di Palu, Selasa (8/5/2018).

Kata Ustad Subhan, beberapa langkah yang perlu dilakukan antara lain dengan meluruskan pemahaman ajaran agama dan menghindari kekeliruan yang sering terjadi. Tokoh agama dan tokoh masyarakat harus saling bekerjasama untuk menangkal paham ini. Juga melakukan pencegahan dari dalam umat beragama, sehingga benih-benih paham radikalisme itu tidak timbul.

“Bila ada orang atau kelompok yang terjangkiti paham radikalisme, hendaknya dilakukan pendekatan keagamaan secara simpatik, sehingga dapat menyadarkan orang atau kelompok tersebut. Perlu juga diadakan ceramah dan diskusi-diskusi simpatik dengan kelompok-kelompok yang telah terkontaminasi paham radikal,” imbunya.

Langkah berikutnya adalah memberikan informasi kepada umat beragama agar tidak mudah diprovokasi, sehingga setiap rencana yang dilakukan kelompok tertentu langsung gagal.

“Dengan demikian, kehidupan bermasyarakat, beragama, berbangsa, dan bernegara akan menjadi tenang, dan kekacauan akan dapat dihindari dengan baik,” tukas Ustad Subhan.

Selain itu kata Ustad Subhan, dalam setiap dakwah yang disampaikan para kiai, ulama, atau ustad sebaiknya juga mengakomodir khasanah lokal yang ada.

Ia menyarankan, jika ada khasanah lokal yang dinilai bertentangan dengan syariat agama, maka kontennya perlu diubah, sehingga dapat masuk dalam nilai ibadah dengan benar.

“Kalau ada yang melanggar, konten kita ganti menjadi lebih bagus sehingga dapat menjadi nilai ibadah. Jadi tidak serta merta kita dibuang khasanah lokalnya,” tegasnya. [***]

Penulis; Sutrisno/*

(Visited 60 times, 2 visits today)

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*