[Ilustrasi]

Menerjemahkan “Tiga Program Rakyat” Golkar dalam Konteks Sulawesi Tengah

Bagikan Tulisan ini :

Oleh: Muh. Ikbal Ibrahim
Partai politik menjadi instrumen Dalam alam demokrasi. Untuk berkuasa maka setiap individu maupun kelompok mesti berada dalam partai politik. Sebab, partai politik ibarat perahu, dia menjadi alat atau kendaraan untuk mencapai tujuan. Karena partai menjadi kendaraan menuju tujuan, maka, selayaknya sebuah partai mesti memiliki cita-cita ideologis.

Tiga Program Rakyat Partai Golkar
Perpindahan tampuk kepemimpinan Partai Golkar dari sebelumnya dijabat oleh Setya Novanto digantikan oleh Airlangga Hartarto seakan memberi semangat baru di tubuh partai. Tidak hanya karena restrukturisasi, namun lebih jauh dari itu transisi kepemimpinan ini menegaskan Golkar akan mereorganisasi partai dengan slogan “Golkar bersih, bersatu, bangkit”.

Slogan baru ini memiliki makna bahwa Golkar hendak manampilkan sebuah wajah baru dengan mendorong kader-kader muda yang syarat prestasi dan tentu jauh dari isu-isu korupsi. Selain itu mendorong persatuan dalam menyongsong momentum politik Pilkada serentak, Pileg dan Pilpres adalah keharusan. Kebangkitan semangat baru ini akan menenkankan dan memaksimalkan kerja pemenangan Golkar di tiga momentum politik kedepan.

Strategi politik ini memang adalah langkah taktis yang sangat tepat, sebab jika menilik hasil survei terakhir dibandingkan dengan hasil Pileg 2014 dan Pilkada serentak 2017. terdapat penurunan walawpun tidak begitu signifikan. Pada pemilu 2014, Partai Golkar berada di urutan kedua, dengan memperoleh 14,75 persen suara. Di alam Pilkada serentak 2017 dari 101 daerah, Golkar meraih 54 kemenangan di 54 daerah.

Namun berdasarkan hasil survei terakhir yang dilakukan oleh Survei Nasional Poltracking Indonesia elektabilitas Partai Golkar turun satu tingkat dan disalip oleh Gerindra di posisi kedua setelah PDIP. Hasil survei tersebut yakni PDIP (23,4%), Partai Gerindra (13,6%), dan Partai Golkar (10,9%).

Tentu ada banyak faktor yang melatarbelakanginya, kasus yang membelit mantan Ketua Umum Setya Novanto menjadi salah satu faktor. Selain itu, trend partai politik saat ini adalah membranding diri tidak semata pada kuantitas jumlah wilayah yang di pimpin oleh kadernya, namun lebih jauh dan substansi dari itu adalah branding partai agar memiliki keberpihak pada “wong cilik” dengan rumusan program yang tepat, manajemen isu, serta respon situasi politik dan nasional yang berbasis keberpihakan pada kelas wong cilik.

Tiga program yang dicetuskan oleh Ketua Umum adalah upaya menegaskan pada rakyat bahwa Golkar era Airlangga Hartarto memiliki bekerpihakan pada rakyat. Tiga program tersebut adalah: 1. Harga sembilan bahan pokok terjangkau, 2. Perluas Lapangan Pekerjaan, 3. Tersedia akses rumah yang mudah dan terjangkau. Tiga program ini diberi nama “tiga program rakyat”, jika tiga program ini mampu di wujudkan dengan baik, maka bukan hal yang mustahil elektabilitas golkar akan naik bahkan menjadi pemenang dalam pemilu 2019.

Menerjemahkan dalam Konteks Lokal Sulawesi Tengah
Tiga program yang dicetuskan oleh Ketua Umum terpilih Airlangga Hartarto adalah sebuah titik balik yang sangat strategis dan juga kontekstual bagi Partai Golkar. Bukan tanpa sebab, persoalan demi persoalan yang membelit partai mesti sedini mungkin diantasipasi dalam menghadapi momentum politik Pilkada serentak 2018 dan Pileg serta Pilpres 2019. Dalam pidatonya, Ketum Partai Golkar menginstruksikan bahwa semua struktur, kader, kepala-kepala daerah baik yang telah menjabat atau sedang melangsungkan pilkada untuk memasifkan kampanye “tiga program rakyat” tersebut.

Walaupun masih secara umum, tentu kondisi spesifik wilayah mengharuskan setiap tingkatan struktur untuk memoderasi se-kontekstual mungkin implementasi serta kampanye tiga program rakyat ini.

Harga sembako terjangkau; adalah program yang menyasar kelompok masyarakat menengah ke bawah. Tentu dalam konteks lokal, intervensi terhadap harga juga masih kecil kemungkinanya. Namun ada langkah yang mesti dilakukan untuk mengantisipasinya yakni, bagaimana mendorong peningkatan pendapatan hidup rakyat. Sebab jika pendapatan rakyat meningkat, maka secara otomatis rakyat dapat menjangkau harga sembako.

Dalam hal ini di sulawesi tengah sektor yang mesti dijadikan fokus pekerjaan adalah petani dan buruh. Petani dapat di sentuh dengan program yang berkaitan dengan kerja-kerja pertanianya semisal bantuan modal, pupuk, tekhnologi modern yang murah, serta jaminan pasar. Untuk buruh adalah menjamin bahwa upah minimum baik Upah Minimum Provinsi maupun Kabupaten/Kota harus menjamin kesejahteraan hidup buruh.

Perluas Lapangan Pekerjaan; tentu hal ini tidak semata investasi. Namun mendorong kreatifitas usaha kecil menengah agar mampu membangun ekonomi mandiri yang berkembang serta modern menjadi kunci. UMKM yang dikelola secara mandiri terlebih jika dalam bentuk koperasi maka dapat menyerap tenaga kerja sehingga angka pengangguran semakin berkurang. Sebab Untuk Tingkat Pengangguran Terbuka atau TPT pada Agustus 2017 di Sulawesi Tengah sebesar 3,81 persen,” (BPS Sulteng).

Akses rumah layak dan harga terjangkau; salah satu jaminan hidup sejahtera adalah terpenuhinya sandang, pangan dan papan. Olehnya, kebutuhan untuk memiliki rumah layak juga menjadi penting. Sebagian besar rakyat Sulawesi Tengah dibenturkan pada rumah yang tidak lagi layak huni, dan sewaktu-waktu dapat roboh serta rentan menjadi sarang penyakit. Olehnya, akses rumah layak dan dan harga terjangkau mesti menjadi perhatian pemerintah untuk mengalokasikan sebesar-besarnya untuk pemenuhan program ini.

Terkait “tiga program rakyat” ini ada dua jalan yang mesti lakukan. Yakni setiap kader partai yang menjadi kepala daerah atau wakil kepala daerah mesti mendorong realisasi dan implementasi tiga program rakyat ini agar terlaksana. Di sisi legislatif setiap wakil rakyat yang berasal dari partai Golkar mesti mendorong kebijakan aturan dan anggaran yang partisipatif.

Semisal mendorong alokasi anggaran yang lebih besar pada peningkatan profuktiftas petani semisal memberi bantuan modal, pupuk, tekhnologi modern dan jaminan pasar. Disektor buruh, setiap anggota legislatif mesti berperan aktif dalam menentukan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) dan Upah Minimum Kota/Kabupaten (UMK) sesuai dengan kebutuhan hidup layak dan aturan yang berlaku.

Kebijakan-kebijakan lainya adalah alokasi anggaran yang di arahkan pada peningkatan kegiatan usaha-usaha rakyat serta koperasi. Peran aktif dalam mendorong kemudahan dalam urusan administrasi serta pengawalan dari sisi kebijakan dan juga anggaran dapat berkonsekuensi pada akan menjamurnya UMKM dan Koperasi sehingga daya serap tenaga kerja juga akan lebih besar serta penurunan angka pengangguran.

Buol Sebagai Road Map Implementasi “3 Program Rakyat”
Kemenangan pasangan “Beramal” dalam Pilkada Kabupaten Buol tahun 2017 mengantarkan Amirudin Rauf dan Abdullah Batalipu sebagai Bupati dan Wakil Bupati. Bagi rakyat Buol, kemenangan ini tidak semata kemenangan kedua kandidat diatas, bukan semata kemenangan partai pengusung, namun pilkada ini adalah kemenangan rakyat.

Sebab, pilkada tersebut mempertaruhkan 7 poin program yang sangat pro rakyat dalam “Kartu Buol Beramal”. Oleh sebab itu Pilkada Buol menjadi satu bukti, satu peta jalan dimana rakyat dapat menang melawan kelompok-kelompok yang hendak mensabotase program-program pro rakyat. Rakyat mulai memahami bahwa politik adalah tentang pertaruhan nasib, sejahtera atau miskin, menganggur atau bekerja, sehat atau tidak sehat.

Pasangan ini adalah duet yang cukup serasi, sebab Amirudin Rauf adalah seorang politisi yang memiliki power politik besar sekalipun tidak memiliki partai politik. Hal ini memberi bukti bahwa figur seorang Amirudin rauf mampu menyatukan berbagai warna diatas satu cita-cita yakni “kesejahteraan rakyat”. Seorang Abdullah Batalipu adalah politisi yang cukup lama malang melintang dalam hiruk pikuk politik Buol, bahkan sejak Buol masih bergabung dengan Kabupaten Toli-Toli. Abdullah Batalipu merupakan figur yang selain wakil bupati adalah juga pimpinan partai terbesar di Kabupaten Buol yakni Partai Golkar.

Dari sekian banyak kebijakan, yang hendak penulis garis bawahi adalah Program Tanah Untuk Rakyat (Taura), Program Bantuan sapi 50.000 ekor dengan skema ‘one man one cow” dan program satu-satunya di Sulawesi tengah yang merupakan icon Kabupaten Buol yakni Program Percepatan Pengentasan Kemiskinan atau P3K.

Program Taura adalah upaya mendistribusikan tanah pada petani yang tak bertanah. Sebab tanah bagi rezim beramal adalah syarat utama kesejahteraan petani. Program satu orang satu sapi adalah upaya untuk menjadikan Buol sebagai Kabupaten surplus daging dan jika mampu menjadi pemasok daging baik internal maupun Sulawesi Tengah. Ketiga Program P3K adalah program fokus pada komoditi jagung yang memang menjadi fokus program nasional kementrian pertanian. P3K diterjemahkan dengan memberi modal, bibit, pupuk, serta mekanisasi pertanian dan kepastian pasar.

Pertanyaan kemudian, kenapa Buol menjadi road map yang telah terbukti programnya, sebab program yang dilahirkan dari rezim Amirudin Rauf dan Abdullah Batalipu adalah program yang sinergis dengan 3 program rakyat yang hendak di perjuangkan dan di masifkan oleh Partai Golkar. Bukan tanpa alasan, selain Amirudin Rauf adalah arsitek program pro rakyat tersebu, terdapat peran Abdullah Batalipu yang ahli dalam politik anggaran dan juga merupakan Ketua Golkar Kabupaten Buol.

Artinya, jika Golkar secara nasional mengumandangkan tiga program rakyat, maka di Kabupaten Buol seorang kader dan juga sekaligus ketua, Abdullah Batalipu bersama Amirudin rauf sebagai Bupatinya telah menerapkan dengan sangat baik arahan dan instruksi yang di sampaikan oleh ketua umum untuk mendorong tiga program rakyat ini.

Buol saat ini hendak mewujudkan secara bertahap kesejahteraan rakyat. Sehingga dalam lima tahun kedepan akan realistis jika Buol menuju Kabupaten zero poverty atau kabupaten Nol Kemiskinan. Jika ini berhasil dan sinergis dengan 3 program rakyat secara nasional bukan hal mustahil jika dalam skala lokal Buol partai golkar akan lahir sebagai pemenangan kontestasi politik 2019.

Sebagai penutup, memasifkan kampanye dan impelementasi “tiga program rakyat” adalah juga meniti jalan bagi menempatkan Golkar sebagai tidak semata tiga besar namun menjadi pemenang dalam Pilkada serentak maupun Pileg dan Pilpres kedepan. Dalam konteks lokal, tentu menjadikan golkar sebagai partai pemenang di pileg 2019 di Sulawesi Tengah. [***]

Penulis adalah Ketua Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI) Sulawesi Tengah dan juga merupakan kader Partai Golkar Kabupaten Buol

(Visited 51 times, 1 visits today)

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*