[Ilustrasi]

Mengatasi Anak Remaja Saat Mulai Membantah Orang Tua

Jurnalsulawesi.com – Anda mungkin sering bertanya mengapa tiba-tiba anak menolak semua saran orang tua, memutar mata seakan tak setuju dengan semua saran ayah ibunya, hingga menuduh orang tua tidak sayang mereka ketika Anda tak mengabulkan keinginannya? Satu-satunya Anda tampak dianggap adalah ketika si anak membutuhkan sesuatu. Anda pun merasa dimanfaatkan dan tak lagi dihargai.

Yakinlah, kejadian seperti ini pernah dialami sebagian besar orang tua pada anaknya yang beranjak remaja dan Anda tak sendirian. Sebagai orang tua, Anda tak melakukan kesalahan apapun karena ini bagian normal dari perkembangan anak.

Selama remaja atau beranjak 12 tahun, anak mencoba mencari tahu siapa mereka jika terpisah dari Anda. Sebagai hasil dari upaya tersebut, mereka memperjuangkan otonomi, kebebasan, dan kadang mengabaikan masukan dan keputusan orang tuanya.

Berikut beberapa saran untuk menguasai situasi di atas, dilansir dari Verywell Family, Selasa (27/11/2018).

Ingatkan diri ini perilaku normal
Jika anak remaja tidak mematuhi perintah orang tua atau menolak saran orang tua, ingatkan diri Anda bahwa ini bagian normal dari perkembangan mereka. Tarik napas dalam-dalam, kemudian tanggapi. Ingatkan anak Anda ada cara lebih baik untuk menyampaikan pendapat.

Ingat bahwa anak adalah cerminan orang tuanya. Jika Anda menanggapi mereka dengan kata-kata menyakitkan, kelak hal ini akan dicontoh mereka. Yakinlah sikap seperti ini hanya sementara dan tak bertahan selamanya.

Buat aturan saling menghormati
Anda tak boleh menolerir perilaku remaja yang tidak hormat pada orang tua. Ingatkan anak cara terbaik menyampaikan pendapat, keberatan, ketidakpuasan, dan perselisihan secara baik-baik. Semua harus disampaikan dengan kata-kata baik dan penuh hormat.

Jangan sampai anak melanturkan kata-kata, seperti “Aku benci ibu” atau “Aku membenci kalian (orang tua).” Ketika Anda berdua tenang, ingatkan anak, jika dia ingin diperlakukan seperti orang dewasa, maka berkomunikasilah sebagaimana orang dewasa. Jika dia tak bisa berkomunikasi dengan cara sopan, ada konsekuensinya.

Gali lebih dalam penyebabnya
Jika respons anak tampak ekstrem, Anda mungkin perlu menggali lebih dalam masalah serius dialami anak, misalnya anak baru saja menghadapi perundungan (bullying), tekanan dari teman sebaya di sekolah, atau dikeluarkan dari kelompoknya. Alih-alih marah pada mereka, ambil napas dalam-dalam, dan pikirkan penyebab mereka melakukan itu, kemudian ajukan pertanyaan agar anak terbuka.

Tahun-tahun remaja tidak mudah. Selain menghadapi sejumlah perubahan fisik, anak juga menghadapi banyak tantangan, mulai dari pertemanan, dunia sosial, juga akademis sekolah.

Jangan takut tidak disukai
Salah satu tanggung jawab terbesar orang tua adalah membentuk anak remaja menjadi lebih dewasa, lebih peduli, dan bertanggung jawab, meski hasilnya kadang anak tidak menyukai cara-cara orang tuanya. Namun, itu tidak masalah. Sangat penting fokus membimbing mereka melakukan apa yang benar.

Sering kali orang tua mengikuti apa yang diinginkan anak mereka, seakan ingin menjadi orang tua keren. Anak Anda mungkin tidak selalu setuju dengan keputusan Anda dan mungkin mereka tak selalu menyukai Anda, namun kelak dia akan menghormati Anda karena semua prinsip orang tuanya meski sulit tetap membuat mereka aman.

Tetap tenang
Jangan sampai Anda termakan umpan anak, sehingga lepas kendali dan berbalik emosional pada mereka. Tarik napas dalam, bahkan berjalan beberapa menit untuk menenangkan diri, alih-alih terlibat dalam perang mulut dengan anak. Semua yang keluar dari mulut Anda hendaknya kata-kata cerdas dan tak menyakitkan.

Remaja sering tak menyadari mereka sedang menyakiti. Anda bisa meredakan situasi dan membuat semua tetap terkendali. Anda boleh tidak sopan, namun bukan alasan buat Anda untuk tidak sopan juga sebagai orang tua.

Rangkul kemandirian anak
Ketika anak bertambah usia, mereka cenderung menginginkan lebih banyak privasi. Mereka mungkin semakin sedikit berbagi cerita dengan Anda dibanding sebelumnya. Tenang, selama anak sehat, sekolahnya lancar, dan tidak menunjukkan tanda-tanda depresi, hubungan seperti ini tetap sehat.

Remaja membutuhkan sedikit kebebasan untuk menyusun rencana sendiri, memilih teman sendiri, dan memikirkan yang terbaik bagi diri sendiri. Sedikit jarak bukan berarti tidak aman untuk orang tua dan anak. Anak sesungguhnya beranjak lebih mandiri dan bertanggung jawab. [***]

Sumber; Republika

(Visited 9 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*