Peta zona subduksi Hikurangi yang membentang dari timur Gisborne hingga puncak South Island. [Dream]

Mengerikan, Ilmuwan Temukan Potensi Baru Gempa Magnitude 8,9 dan Tsunami

Jurnalsulawesi.com – Ancaman tsunami besar ternyata tak hanya terjadi di Indonesia. Para ilmuwan tengah bersiap menghadapi gempa “megathrust” berkekuatan 8,9 magnitude di patahan Selandia Baru.

Gempa yang bisa muncul kapan saja ini dapat memicu terjadinya tsunami dahsyat.

“Thrust” merujuk pada salah satu mekanisme gerak lempeng yang menimbulkan gempa dan memicu tsunami, yaitu gerak sesar naik.

Para pakar yakin pecahnya zona subduksi Hikurangi pasti terjadi di masa depan. Zona subduksi memiliki bentuk lempeng tektonik dalam posisi masuk ke bawah yang lainnya.

“Artinya, batas antara lempeng-lempeng itu membentuk patahan raksasa,” kata Ilmuwan Masyarakat Geosains Selandia Baru, Dr Laura Wallace, dikutip dari The Sun.

Gempa bumi Kaikoura yang mengguncang South Island pada 2016 memberikan informasi penting. Para ilmuwan kemudian bergerak mempelajari bukti geologis peninggalan gempa prasejarah di area tersebut.

Bencana Dahsyat Pasti Terjadi
Zona subduksi Hikurangi ini membentang dari timur Gisborne hingga puncak South Island. Dr Wallace meyakini gempa hebat pasti terjadi suatu saat di kawasan tersebut.

“Kita tahu zona subduksi Hikurangi dapat menghasilkan gempa dan tsunami dahsyat, dan bencana ini terjadi di masa lampau,” kata Dr Wallace.

“Sementara kami sedang mengadakan penelitian lebih lanjut untuk mendapat gambaran lebih jelas mengenai bahaya yang timbul akibat guncangan Hikurangi, kita tahu pecahan bakal terjadi di masa depan,” kata Dr Wallace melanjutkan.

Siapkan Skenario Tanggap Darurat
Kelompok Five Civil Defence Emergency Management (CDEM) Selandia Baru menyusun skenario tanggap darurat. Proyek ini mencakup lima kawasan di North Island yang diprediksi sebagai area terdampak paling parah meliputi Gisborne, Bay of Plenty, Hawke’s Bay, Manawatu-Wanganui dan Wellington.

Tujuan proyek ini adalah melindungi masyarakat dari potensi kerusakan besar akibat bencana gempa dan tsunami.

Pimpinan proyek, Natashaa Goldring, menggambarkan pentingnya meningkatkan kepekaan masyarakat mengenai bagaimana merespon ancaman semacam itu.

“Skenario yang kami gunakan mendukung pengembangan rencana menanggapi bencana merupakan contoh yang sangat realistis mengenai apa yang bisa kita hadapi di kehidupan kita, anak dan cucu kita,” kata Goldring.

Proyek ini mulai dijalankan setelah penelitian dalam beberapa tahun yang menunjukkan penguatan potensi guncangan di zona subduksi Hikurangi.

Pada 22 Februari 2011, gempa dahsyat berkekuatan 6.3 magnitude mengguncang kota terbesar kedua Selandia Baru, Christchurch. Bencana ini menewaskan 185 jiwa, 6.000 orang mengalami luka-luka dan 170 ribu unit bangunan hancur.[***]

Sumber; Dream.co.id

(Visited 133 times, 2 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*