Menggugat Paradigma Promosi

Bagikan Tulisan ini :

Oleh; Natsir Said
Memposting sesuatu yang kontra di media sosial itu menarik menurutku. Ada kekuatan mental yang dipertaruhkan, sebab bukan tidak mungkin akan lebih banyak menuai caci-maki dibanding komentar menyehatkan akal. Namun setidaknya, di antara belantara bully itu masih ada komentar yang mencoba menjelaskan atas sesuatu. Point itu yang membuatnya menjadi menarik. Sebab paling tidak, suara-suara itu dapat dijadikan manifestasi suara mayoritas.

Dalam postingan yang menyoal manfaat Tour de Central Celebes (TdCC) di akun facebook Info Kota Palu (IKP), dalam kurun waktu tidak lebih dari 24 jam memunculkan seribuan lebih komentar yang hampir seragam, yakni mengajak penulis untuk mendukung TdCC sebagai ajang promosi wisata. Saya pun menjadi mafhum, bahwa dapat disimpulkan event TdCC menempatkan promosi sebagai orientasi paling utama untuk 5 wilayah yang masuk dalam rute, yakni Tojo Una-una, Poso, Parigi, Sigi dan Kota Palu.

Mengusung tema sentral promosi wisata memang lagi trend di beberapa wilayah. Sama seperti trend lain, budaya gagap dan ikut-ikutan pun muncul mengikuti derasnya animo yang berkembang. Untuk di wilayah Sulawesi Tengah sendiri, penulis sedikit gamang hendak mengklasifikasi beberapa event yang juga mengusung tema promosi, apakah gagap mengikuti trend atau memang perlu digelar berdasarkan fakta wisata. Taruhlah ini subjektifitas penulis, namun bercermin dari event Festival Teluk Tomini (FTT) yang digelar di Kabupaten Parigi beberapa waktu lalu, kita menjadi sadar bahwa di tingkat panitia pelaksana event sendiri masih belum sampai pada kesiapan maksimal. Bahkan Presiden Joko Widodo pun tidak dapat menahan rasa kecewa untuk dilontarkan dalam kata sambutan pembukaan.

Jika hendak memanjangkan diskusi menyoal FTT, maka suka atau tidak pun harus mengakui telah sejauh apa kita memperlakukan Teluk Tomini (selain Togean) untuk menjadikannya sebagai destinasi wisata. Ada beberapa perilaku negatif belum secara tegas penerapannya dikawal setelah tertuang dalam regulasi daerah. Sampai saat ini, laut masih menjadi tempat pembuangan sampah yang paling digemari masyarakat pesisir. Kita tidak dapat menyalahkan mereka, bukan pula hendak mendiskreditkan pemerintah, namun paling. tidak upaya untuk menata perilaku itu sudah saatnya dilakukan dengan ketegasan dan masif. Tentu pemerintah harus menyiapkan fasilitas penunjang terlebih dahulu. Belum lagi masih maraknya pemboman ikan yang dilakukan nelayan hingga saat ini masih terjadi di beberapa titik Teluk Tomini. Dalam rutinitas sebagai penghobi mancing, penulis masih sering mendengar cerita langsung beberapa nelayan terkait aktivitas bom ikan yang masih terjadi, khususnya di Kabupaten Parigi, Poso dan Tojo Una-una, 3 kabupaten pesisir Teluk Tomini.

Selain Teluk Tomini, hal yang sama juga dialami Teluk Palu, minus bom ikan tapi plus polusi tambang galian C. Sampah rumah tangga masyarakat pesisir pantai mayoritas berakhir di antara gulungan ombak, saling menjajah dengan lumpur galian C yang terbawa air hujan turun ke laut. Di era Rusdi Mastura sebagai Walikota Palu, Festival Teluk Palu (FTP) digagas dengan orientasi promosi teluk. Seiring dengan itu, ada harapan teluk akan mulai dibenahi. Berganti kepemimpinan berganti pula nama festival menjadi Festival Palu Nomoni. Secara harfiah memunculkan kesan bahwa festival kali ini menghilangkan sedikit ruh potensi teluk dan menempatkan adat sebagai pagelaran utama. Namun berupaya berlepas diri dari kontroversi nama festival, Teluk Palu juga harus benar-benar dibenahi secara masif. Regulasi daerah menyoal sampah rumah tangga sudah mesti mendapat pengawalan ketat. Sosialisasi ke masyarakat pesisir pantai harus lebih intens. Kita tidak menempatkan masyarakat pantai itu sebagai orang-orang yang minim keindahan yang dimulai dari budaya keseharian memperlakukan alam, namun memang masih perlu penyadaran dari semua stakeholder.

TdCC yang juga dikategorikan sebagai event internasional, dapat dimaknai sebagai peluang. Ada kepercayaan mata dunia bahwa daerah kita mampu jadi tuan rumah. Kepercayaan itu harus dijaga melalui upaya lebih maksimal dalam menjaga beberapa titik destinasi yang dalam fikiran kita menjadi objek jualan. Sebab tidak ada yang salah dengan event-event yang berorientasi promosi wisata. Namun jika tidak diikuti dengan regulasi yang ketat oleh pemerintah daerah dalam memperlakukan alam sebagai objek wisata, maka event-event tersebut hampir dapat terklasifikasi sebagai bagian dari budaya gagap. Apalagi jika dalam event menyertakan lomba yang hadiahnya nanti terbayarkan setelah lama keringatnya mengering. Akh itu benar-benar memiriskan hati.[***]

(Penulis adalah warga Kota Palu dan Mantan Jurnalis)

(Visited 65 times, 1 visits today)

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*