Aktifitas di tambang emas Poboya Kota Palu. [Ilustrasi]

Menunggu Penertiban Tambang Emas Ilegal Poboya

Bagikan Tulisan ini :

Palu, Jurnalsulawesi.com – Hingga saat ini, publik masih menunggu tim penertiban Polda Sulteng datang menghentikan hiruk pikuk aktivitas tambang emas ilegal yang dikelola kelompok masyarakat di Wilayah Poboya, Kecamatan Mantikolore, Kota Palu.

Meskipun jumlah penambang sudah tidak sebanyak dahulu, namun secara nyata sejumlah warga mengaku masih aktivitas penambang ilegal di Poboya itu masih terus berlangsung.

Setiap hari masih banyak Rep (batuan mengandung emas-red) yang diangkut menggunakan kendaraan roda empat untuk dibawa menuju lokasi tromol pengolah emas di Dusun Watumorangga.

Tadinya ribuan warga Sulawesi Utara yang  datang memburu emas di tambang emas Poboya, namun saat ini yang tersisa berkisar lima ratusan orang. Mereka itu disebut penambang ilegal karena melakukan kegiatan sebagai penambang rakyat atau disebut Penambang Tanpa Izin (PETI) oleh pemerintah setempat.

Tiko nama salah satu dari penambang ilegal asal Kabupaten Bolaang Mongondow Sulawesi Utara. Lelaki berkuli sawo matang ini mengaku sejak lama hidup mendalami dunia pertambangan rakyat sehingga dirinya boleh dikatakan paham untuk yang istilahnya lubang tambang emas. Itu berati dirinya sangat ahli untuk bisa melihat apakah batu galian tambang berkadar emas (Rep)  atau tidak.

Sejak tahun 2003 kata Tiko sudah mulai berkecimpung dengan batu tambang berkadar emas di Desa Tatelu Kecamatan Likupang Kabupaten Minahasa Utara.

Berawal dari situlah Tiko terus mengembara memburu logam mulia tersebut. Beberapa daerah tambang emas telah dia jelajahi, termasuk salah satunya di Namblea Pulau Buru, Provinsi Maluku. Setelah dari Maluku itulah ia langsung masuk di tambang emas Poboya.

“Di Poboya saya tidak menetap karena saya bekerja sesuai orderan dari bos atau pemilik usaha tambang rakyat yang menggunakan tromol sebagai usaha proses mendapatkan logam mulia. Tahun 2011 saya pernah ke sini, tapi sempat pulang. Dan saat ini, saya baru dua pekan berada di lokasi tambang emas Poboya untuk mencari sesuap nasi” kata Tiko kepada Jurnalsulawesi.com, akhir pekan lalu.

Menurut pengakuan Tiko, jika di Poboya Kota Palu untuk proses mendapatkan emas murni itu lewat proses pengolahan tromol dalam satu karung Rep (batu tambang berkadar emas) itu harus memperoleh satu sampai dua batang, sementara untuk mendapatkan emas murni sebanyak satu gram itu harus memiliki minimal sepuluh batang. Dan kalau satu karung hanya bisa dapat dua batang untuk proses dapatkan emas berarti kalau mujur lima karung dapatkan satu gram emas.

Dari pengalaman Tiko di tambang Poboya, untuk dapatkan hasil maksimal biasanya harus memiliki 300 karung Rep (batu tambang berkadar emas), setelah diolah dan nasib mujur setelah diproses lewat tromol dapat menghasilkan emas murni sebanyak dua ons, senilai Rp40 juta.

Kata Tiko, nilai itu bukan sepenuhnya jadi milik penambang dan jangan dulu katakan penambang itu berpenghasilan besar. Tetapi dari hasil itu harus dibagi dengan beberapa orang yang menangani proses emas tersebut.

Kadang kala sebagai penambang justru tidak lagi menerima uang dari bos, namun yang diterima kas bon karena nombok alias tekor, karena harus bekerja untuk melunasi pengambilan kebutuhan pada bos. “Belum lagi jika ada tim penertiban aparat dari Polda, terpaksa kegiatanpun harus terhenti dulu sementara waktu, kata Tiko.

Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) Longki Djanggola, menyatakan saat ini pihak Pemda Sulteng bersama Pemkot Kota Palu dan Polda Sulawesi Tengah telah melakukan penertiban terhadap penambang ilegal, termasuk penambang ilegal asal Sulawesi Utara yang melakukan kegiatan di lokasi tambang Poboya tersebut yang merupakan areal Taman Hutan Rakyat (Tahura).

Menurut Longki, di Kelurahan Poboya terdapat lokasi tambang legal milik PT Citra Palu Mineral (CPM) dan tak jauh dari lokasi itu lokasi para penambang ilegal melakukan aktifitasnya.

BACA JUGA: CPM Akan Keruk Emas Poboya Hingga 2050

Penambangan yang dilakukan masyarakat setempat bersama para penambang yang datang dari luar diantaranya, Provinsi Sulawesi Utara yakni Minahasa, Bolaan Mongondow, serta dari Provinsi Gorontalo dan dari Provinsi Sulawesi Selatan.

Longki mengatakan, mereka merupakan Penambang Tanpa Izin (PETI) yang memanfaatkan pengusaha yang berduit dan mereka inilah yang akan ditertibkan karena merusak lingkungan.

“Para penambang ilegal yang berada di lokasi tambang Poboya itu jumlahnya  tersisa sekira 500an orang yang berasal dari Sulawesi Utara seperti dari Kabupaten Minahasa, Bolaang Mongondow dan juga dari Provinsi Gorontalo dan Provinsi Sulawesi Selatan. Mereka itu berada disana tanpa izin dari Pemerintah dan mereka itu yang akan ditertibkan,” kata Longki. [***]

 

Penulis; Elkana Lengkong
Editor; Sutrisno

(Visited 86 times, 1 visits today)

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*