[Ilustrasi]

Menyusun Resolusi Keuangan di Awal Tahun

Jurnalsulawesi.com – Tahun Baru menjadi momen bagi banyak orang untuk membuka lembaran baru dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk menyusun resolusi keuangan. Terlebih, setelah kantong terkuras oleh diskon belanja online gila-gilaan, libur akhir tahun hingga pesta tahun baru.

Di awal tahun ini, Perencana Keuangan OneShildt Financial Planning Budi Raharjo memberikan tips untuk menyusun resolusi guna memperbaiki kondisi keuangan di awal tahun.

Tentukan tujuan
Pertama, tentukan tujuan dari perbaikan yang dilakukan. Menurut Budi, banyak aspek perbaikan yang bisa dilakukan pada kondisi keuangan seperti melunasi utang, meningkatkan tabungan, maupun memupuk investasi untuk masa depan.

Budi menyarankan tujuan harus realistis dan sesuai dengan kemampuan. Tak kalah penting, masyarakat harus membuat prioritas dari tujuan yang diinginkan. Hal itu agar masyarakat bisa fokus dalam mencapai tujuan tersebut.

“Maksimal tiga tujuan. Kalau tiga tidak sanggup ya satu dulu,” ujar Budi, Selasa (1/1/2018).

Keberadaan tujuan juga akan membantu saat Anda ingin menentukan tabungan atau instrumen investasi. Pasalnya, setiap instrumen memiliki profil risiko, jangka waktu, dan imbal hasil yang berbeda.

Identifikasi kondisi keuangan
Kedua, identifikasi kondisi keuangan sehingga memiliki gambaran hal-hal yang perlu Anda perbaiki atau optimalkan untuk mencapai tujuan. Proses identifikasi akan lebih mudah apabila Anda mulai mencatat segala penghasilan dan pengeluaran.

“Dalam proses identifikasi Anda akan bisa melihat pengeluaran yang berlebih dan tidak efisien maupun penghasilan yang bisa dioptimakan,” ujarnya.

Ketiga, Anda susun strategi untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk mempermudah, Budi menyarankan agar tujuan selalu ditulis.

“Misalnya, dalam enam bulan saya ingin melunasi utang. Apa yang akan saya lalukan? Berapa cicilan tiap bulan yang harus saya lunasi,” ujarnya.

Bagi yang ingin berinvestasi, Anda bisa menulis tujuan investasi tersebut, jangka waktu, imbal hasil, dan instrumen investasi yang sesuai profil risiko Anda. Beberapa jenis investasi yang dipilik bisa berupa reksa dana, saham, obligasi, maupun emas.

Apabila Anda masih konservatif, Anda bisa menempatkan dana Anda pada instrumen tabungan perbankan yang sesuai tujuan misalnya tabungan pendidikan, tabungan haji, maupun tabungah hari tua.

Pada prinsipnya, lanjut Budi, solusi keuangan hanya ada dua yaitu mengurangi pos pengeluaran dan/atau menambah sumber penghasilan. Dalam menyusun strategi, Anda bisa menggunakan dua prinsip tersebut misalnya mengurangi porsi pengeluaran untuk bersenang-senang dan mengalihkannya untuk membayar cicilan utang atau investasi.

Jika Anda tak ingin mengurangi porsi belanja di pos lain, Anda bisa mencari pekerjaan sampingan. Penghasilan tersebut bisa Anda alokasikan untuk mencapai tujuan Anda.

“Terkadang kita ingin memperbaiki sesuatu tetapi resolusi yang dibuat di awal tahun seringkali baru jalan sebulan, dua bulan terlupakan karena tidak ada langkah yang ditempuh dan tidak tahu mana yang harus diprioritaskan,” ujarnya.

Tekad kuat
Terakhir, Anda harus menguatkan tekad untuk memperbaiki kondisi keuangan dengan mengikuti langkah-langkah yang telah disusun. Hal ini serupa saat Anda ingin membaiki kondisi fisik dengan berolah raga secara teratur.

“Berkaitan dengan keuangan, kalau kita tidak memaksakan atau mendisiplinkan biasanya kita akan kembali ke kondisi yang sama,” ujarnya.

Budi menyarankan bagi Anda yang memiliki penghasilan dua kali Upah Minimal Pekerja (UMP) atau minimal Rp7 juta per bulan, Anda bisa mengalokasikan penghasilan Anda dengan formula 30 persen kebutuhan rutin, 30 persen tabungan atau investasi, 30 persen cicilan utang, dan 10 persen untuk kebutuhan gaya hidup.

Sementara, jika penghasilan masih berkisar UMP, Budi menyarankan untuk tidak berutang sehingga arus kas bulanan Anda tidak pas-pasan. Selain itu, Anda juga akan memiliki ruang untuk menabung atau berinvestasi.

“Kalau yang UMP, menurut pengamatan saya porsi tabungan bisa 10-20 persen bagi yang berkeluarga, untuk yang masih lajang ada yang bisa 50-60 persen dari total penghasilan, dengan catatan tidak berutang,” ujarnya.

Secara terpisah, Perencana Keuangan Tatadana Consulting Tejasari Assad mengingatkan bagi Anda yang berutang sebaiknya memprioritaskan strategi untuk melunasi utang di awal tahun. Hal ini penting agar ke depan Anda tidak terbebani oleh beban bunga dan cicilan yang menumpuk dan bisa mengalihkannya pada pos pengeluran yang lebih produktif.

“Denda kalau telat bayar (kartu kredit) sudah Rp150 ribu. Nanti belum tambah lagi bunganya. Kan sayang, mending uangnya untuk belanja,” jelasnya beberapa waktu lalu.

Selain itu, Tejasari juga menyarankan untuk Anda mulai membuka rekening tabungan terpisah untuk kebutuhan jangka pendek seperti belanja rutin dan jangka panjang. Dengan demikian, Anda bisa menjaga arus kas pribadi Anda.

“Kalau kita mau belanja (rutin) ambilnya dari rekening itu. Jangan dari akun rekening yang lain. Kalau tidak, itu akan mengacaukan uang bulanan, mengacaukan rencana kita,” jelasnya. [***]

 

Sumber; CNNIndonesia

(Visited 11 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*