Ketua MUI Kota Palu, Prof DR H Zainal Abidin, MAg

MUI : Jangan Memaksa Pakai Simbol Agama Tertentu

Ketua MUI Kota Palu, Prof DR H Zainal Abidin, MAg

Palu, Jurnalsulteng.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Sulawesi Tengah, mengimbau kepada seluruh masyarakat dan pemeluk agama di daerah tersebut, untuk tidak saling memaksa agar pemeluk agama lain menggunakan simbol-simbol agama tertentu.

Ketua MUI Kota Palu, Prof. Dr. H. Zainal Abidin M.Ag menyatakan, memaksakan pemeluk agama lain untuk memakai simbol agama tertentu, merupakan perilaku yang tidak menghargai keberagaman.

“Perilaku mencederai kerukunan dan keberagaman yaitu memaksakan kehendak untuk di ikuti oleh pemeluk agama lain, MUI mengimbau agar hal itu tidak terjadi di Kota Palu,” kata Prof. Zainal Abidin M.Ag di Palu, Rabu (21/12/2016).

Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu itu juga meminta kepada sebahagian pemeluk Agama Kristen yang akan melaksanakan dan merayakan Hari Natal untuk tidak memaksakan kehendaknya memakai simbol-simbol natal agar diikuti pemeluk agama lain.

“Agama mengajarkan kita untuk saling menghargai dan menghormati perbedaan termasuk keyakinan dan budaya dalam agama yang ada pada setiap pemeluk agama, olehnya jangan ada paksaan,” ujarnya.

Ia mengakui bahwa memakai simbol-simbol agama tertentu atau simbol-simbol yang dekat dengan agama seperti atribut natal, belum tentu merubah keyakinan seseorang.

Akan tetapi, sebut dia, tidak etis bila hal itu di gunakan karena adanya paksaan dari eksternal, misalkan pimpinan karyawan memaksakan semua karyawannya menggunakan simbol-simbol natal.

Berbeda bila simbol-simbol tersebut digunakan oleh seorang muslim tanpa ada paksaan dari siapapun, semata-semata atas dasar keinginannya sendiri.

“Jika ada seorang muslim yang menggunakan simbol-simbol agama tertentu misalkan simbol-simbol natal, yang berangkat dari keinginan pribadi, tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Maka seseorang tersebut harus mempertanggung jawabkan perilaku tersebut,” sebutnya.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa persahabatan dan pertemanan bahkan keakraman antara Islam dan Kristen tidak harus diikutkan dengan adanya pemakaian simbol-simbol agama.

“Seorang muslim yang berniat untuk memperbaiki hubungan kemanusiaannya dengan tetangga yang Kristen, lantas pergi memohon maaf di momen Natal, hal itu tidak menjadi masalah. Artinya silaturahmi kita tetap terjalin walaupun seorang Islam tidak memakai simbol Agama Kristen,” urainya.[***]

 

© Antara

(Visited 13 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*