Ketua MUI Kabupaten Poso, H. Arifin Tuamaka, S.Ag, MM (Kiri). [Ist]

MUI Kabupaten Poso Himbau Warga Jaga Kerukunan Umat Beragama

Bagikan Tulisan ini :

Palu, Jurnalsulawesi.com – Puisi berjudul “Ibu Indonesia” yang dibacakan Sukmawati Soekarno Putri pada event Penghargaan Anne Avantie beberapa waktu lalu telah memicu kemarahan umat Islam di seluruh penjuru Indonesia, tidak terkecuali di Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng).

Terkait dengan hal tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan umat Islam Kabupaten Poso mengajak seluruh warga dan umat Islam setempat untuk bersama-sama menjaga situasi Kabupaten Poso, agar tetap harmonis dan hidup berdampingan dengan umat lainnya.

“Agama Islam adalah agama Rahmatam Lil Alamain, yang artinya rahmat untuk semua mahluk hidup. Karena itu, sebagai ummat Islam jangan melakukan tindakan arogansi, aksi-aksi anarkis. Mari kita sama-sama menjaga kerukunan agar dapat berguna untuk orang lain,” kata Ketua MUI Kabupaten Poso, H. Arifin Tuamaka, S.Ag, MM, dalam keterangan tertulisnya kepada Jurnalsulawesi.com, Jumat (13/4/2018).

Menurutnya, puisi yang dibacakan Sukmawati merendahkan syariat Islam berupa cadar dan suara Adzan. Hal itulah yang menjadi dasar umat Islam menunut Sukmawati Soekarno Putri agar dihukum sesuai Undang-Undang yang berlaku serta tidak memandang siapa dan latar belakang keluarga pelaku penista agama.

“Meskipun Ummat Islam telah memaafkan apa yang telah dilakukan oleh Sukmawati Soekarno Putri, namun proses hukum harus tetap berjalan untuk memberikan kepastian hukum bagi masyarakat dan menimbulkan efek jera bagi pelaku-pelaku yang lainnya,” katanya.

Sebagai umat beragama kata dia, sebaiknya dalam berbuat dan bertutur kita menjaga agar tidak menyinggung ummat lainnya. karena setiap agama memiliki ciri khas masing-masing yang menjadikan kebanggaan bagi pemeluk agamanya, sehingga apabila hal tersebut dilecehkan maka akan menimbulkan kemarahan karena menyangkut keyakinan dan harga diri.

“Indonesia adalah negara hukum yang menjunjung tinggi supremasi hukum, sehingga dalam melakukan penegakan hukum terhadap para pelaku, jangan ada kesan tebang pilih dan jangan ada istilah hukum Indonesia tajam ke bawah tapi tumpul ke atas,” tegasnya.

Ia berharap, ke depan lebih mengedepankan proses hukum dengan seadil-adilnya agar masyarakat merasa puas. Berkaitan dengan tahun politik, Arifin Tuamaka juga mengharapkan agar permasalahan tuntutan ummat islam terkait penistaan syariat Islam tersebut tidak dikaitkan dengan salah satu partai politik.

Dikatakannya, umat Islam Kabupaten Poso tidak pernah membedakan pemimpin Islam atau non Islam. karena itu, ke depan diharapkan dapat terjalin hubungan silaturahmi antara MUI dan ummat Islam Poso untuk bertemu langsung dengan Kapolda Sulteng, agar dapat menyatukan ummat Islam di Kabupaten Poso.

MUI bekerjasama dengan Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) untuk melaksanakan peringatan Isra Mi’raj dengan mengundang Ketua MUI Sulteng Habib Ali. Kegiatan ini akan kami laksanakan tanggal 23 April 2018. Peringatan Isra Mi’raj kali ini juga akan dihadiri seluruh umat beragama di Kabupaten Poso.

“Kami juga berharap kepada rekan-rekan wartawan/pers untuk dapat membuat pemberitaan yang positif terkait situasi di Wilayah Kabupaten Poso. Sampaikan kepada publik sesuai dengan fakta di lapangan. Jangan memuat pemberitaan yang dapat memicu terjadinya kesalahpahaman, khususnya menyangkut kerukunan umat beragama,” imbaunya. [***]

Penulis; Sutrisno/*

(Visited 57 times, 1 visits today)

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*