Tenda kelas darurat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) di pengungsian Desa Pombewe, Kabupaten Sigi. [Antara]

Pascabencana, Kegiatan Belajar Mengajar di Sigi Belum Normal

Palu, Jurnalsulawesi.com – Para siswa korban bencana gempa bumi dan likuifaksi di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng) hingga saat ini masih belajar di bawah tenda-tenda darurat, bantuan pemerintah pusat dan United Nations Children’s Fund (Unicef).

Berdasarkan pantauan, Rabu (5/12/2018), kegiatan belajar mengajar para siswa di SD Negeri I Lolu, Kecamatan Sigi Biromaru masih tetap menggunakan tenda bantuan Unicef yang dipasang di halaman sekolah itu.

Semua bangunan sekolah hancur diterjang gempa bumi berkekuatan 7,4 SR yang memporak-porandakan berjumlah 104 sekolah di daerah itu.

Meskipun belajar di bawah tenda dengan “melantai”, terlihat siswa-siswi tersebut bersemangat mengikuti pelajaran yang disampaikan guru mereka.

Begitu pula di SMP Negeri 1 Sigi, serta SD dan SMP Maranata, sebagian siswa belajar di ruangan yang tidak rusak dan sebagian lainya di tenda.

Kegiatan belajar dengan sarana dan prasarana yang darurat dan sederhana itu, sudah berlangsung selama dua bulan pascagempa.

Oleh karena kondisi belajar mengajar yang belum normal, pascabencana itu, jam kegiatan tersebut tidak sama dengan sebelum bencana alam.

“Jam 11.00 Wita siswa sudah pulang,” kata Ria, salah seorang siswi SMP Negeri I Lolu, Kecamatan Sigi Biromaru.

Sekolah-sekolah yang rusak akibat gempa bumi dan likuifaksi di Kabupaten Sigi mendapatkan bantuan tenda. Selain itu, dibangun WC untuk dimanfaatkan para murid dan guru.

Bupati Sigi Moh. Irwan Lapata mengatakan semua infranstruktur dan sarana umum, termasuk sekolah, puskesmas, rumah sakit, posyandu, rumah ibadah, jalan, maupun rumah warga yang rusak akibat bencana alam dipastikan dibangun kembali, tetapi butuh waktu yang cukup.

“Yang jelas semua akan dibangun kembali,” ujarnya.

Dia berharap, kegiatan belajar mengajar di seluruh wilayah terdampak bencana alam di Kabupaten Sigi dapat berjalan dengan baik meski hanya menggunakan tenda-tenda dan ruangan kelas darurat.

“Anak-anak sekolah harus mendapatkan pembelajaran yang cukup agar mereka tidak ketinggalan pelajaran,” kata dia.

Ia mengaku selama dua bulan pascagempa, kegiatan belajar mengajar tidak seperti sebelum terjadi bencana.

“Mereka jangan sampai ketinggalan pelajaran,” kata dia. [***]

Sumber; Antara

(Visited 7 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*