ASI ekslusif cegah stunting. [Ilustrasi]

Pemberian ASI Ekslusif Bisa Cegah ‘Stunting’

Jurnalsulawesi.com – Air Susu Ibu atau yang biasa disebut ASI, merupakan hak seorang bayi yang baru lahir. Mereka wajib mendapatkan ASI mengingat nutrisi yang terkandung di dalamnya. Selain itu mengonsumsi ASI pada masa pertumbuhan juga bisa mencegah bayi terhindar dari stunting.

BACA JUGA: Kenali Gejala ‘Stunting’ Sebelum Terlambat
Sebagaimana diketahui, stunting merupakan suatu penyakit yang menyebabkan kekerdilan. Stunting akan menggangu pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan pada seorang anak.

Salah satu cara yang baik untuk mencegah stunting adalah dengan memberikan ASI eksklusif. Rentang ibu menyusui mulai dari 0-2 tahun. Memberikan ASI eksklusif mampu menurunkan risiko kematian akibat pneumonia sebesar 15,1 kali dan risiko kematian akibat diare 10,5 kali.

Selain itu ASI juga mampu mencegah infeksi. Pasalnya 8% kalori asi tersaji dalam bentuk Human Milk Oligosaccharide (HMO) yang tidak dapat dicerna dan berfungsi sebagai prebiotik untuk pertumbuhan flora normal usus atau disebut bifidobacterium longum biovar infantis.

ASI sendiri mengandung laktosa, AA-DHA, zat besi, zinc, selenium, yodium yang menjadi bahan baku sel saraf otak. ASI pun akan mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Pada saat baru melahirkan, ASI mengandung kolostrum yang memberikan imunitas dan perlindungan saluran cerna.

Berlanjut menuju fase 4-6 minggu, puncak kadar antibodi dalam ASI dapat menurunkan risiko infeksi. 3-4 bulan kalori ASI meningkat untuk memenuhi kebutuhan perkembangan motorik.

Menuju fase ke-6 bulan, kandungan asam omega esensial berlimpah untuk perkembangan sel otak. Pada fase terakhir yakni 9-12 bulan, asam amino menjamin kebutuhan protein untuk pertumbuhan otot dan optimalisasi IQ.

Adapun beberapa keberhasilan menyusui ditentukan oleh peran aktif orang tua. Komitmen dan dukungan sangat berperan dalam kasus ini. Komunikasi efektif, pendidikan sang ibu dan keterlibatan seorang ayah akan sangat membantu.

“Stunting baru terlihat ketika seorang anak berusia dua tahun. Jadi sebelum anak mencapai usia dua tahun, orang tua harus berjuang untuk mengubah ukuran sang anak. Biasanya ukuran bayi yang lahir sekira 48-50 centimeter,” tutur Direktur Gizi Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI, Ir Doddy Izwardi yang dikutip Okezone, Kamis (16/8/2018). [***]

(Visited 21 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*