Bibit kayu Gaharu. [Ilustrasi]

Pemenang Tender Proyek Gaharu di Tolitoli Diduga Diarahkan

Bagikan Tulisan ini :

Tolitoli, Jurnalsulawesi.com – Proses tender pengadaan tanaman gaharu senilai Rp1.625.000.000,- di kantor Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Tolitoli, Provinsi Sulteng, diduga diarahkan kepada kontraktor tertentu sesuai dengan kehendak Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).

Pasalnya, sebelum berkas lelang bibit gaharu yang bersumber dari APBD tahun 2018 itu dimasukan kepada panitia Unit Layanan Pelelangan (ULP), oknum PPK itu sengaja menerapkan persyaratan yang mempersulit rekanan dari luar daerah, untuk mengikuti tender.

“Yang paling menonjol dugaan kecurangan yang dilakukan pada proses tender yaitu penerapan persyaratan yang mana setiap peserta lelang diwajibkan menyiapkan ketersediaan bibit 30 persen harus ada di Tolitoli,” kata salah seorang peserta lelang yang meminta agar namanya dirahasiakan kepada Jurnalsulawesi.com di Tolitoli, Rabu (11/4/2018).

Sementara untuk menyediakan bibit sebanyak 30 persen yang dimaksudkan PPK itu karena di Tolitoli hanya ada satu orang penangkar saja. Sehingga tidak memberikan peluang bagi penangkar lain yang berasal dari luar daerah, untuk mengikuti proses tender gaharu di Tolitoli.

Kecurangan lain yang dilakukan PPK di BLH Tolitoli itu menyangkut perubahan persyaratan spesifikasi tinggi bibit yang sebelumnya 40 cm tahun 2017 dengan helai daun berjumlah 15, diubah menjadi 25 cm dan helai daun hanya 8 lembar tahun ini.

“Karena rata-rata tinggi bibit di penangkaran yang diarahkan bertempat di Desa Bajugan saat ini tidak mencapai 40 cm. Makanya persyaratan lelang dirubah menjadi 25 cm, dari 40 cm yang dipersyaratkan pada pengadaan tanaman gaharu tahun lalu,” tuturnya.

Ia meminta untuk menjaga profesionalitas pada penerapan aturan yang terkesan mengada-ngada dilakukan pihak PPK tersebut, Tim Pengawal, Pengaman Pemerintah dan Pembangunan Daerah (TP4D) Kabupaten Tolitoli, dapat melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan lelang, baik gaharu maupun proyek-proyek lainnya.

“Kami meminta TP4D Tolitoli memperketat pengawasan proses tender proyek pengadaan dan fisik di ULP, agar tindakan kecurangan yang dilakukan PPK bisa diketahui,” harapnya.

Menurutnya, prilaku mempersulit rekanan yang bersaing untuk mendapatkan pekerjaan dengan cara mengarahkan pemenang pada setiap tender telah bertentangan dengan Peraturan Presiden (Perpres)  Nomor 4 tahun 2015 dan perubahannya, tentang pengadaan barang dan jasa pemerintah.

Sementara, Ketua TP4D Tolitoli Hazairin.SH mengatakan, semua proses tender pekerjaan telah terpantau pihak TP4D, termasuk proyek pengadaan bibit gaharu yang baru saja ditayangkan oleh ULP Tolitoli,  namun pada tahapan ini pihaknya hanya sekedar memberikan saran dan masukan.

“Khusus pengadaan bibit gaharu tersebut, memang pernah PPK nya datang berkonsultasi kepada kami, dia meminta petunjuk mengenai syarat keharusan bibit berada di Tolitoli, kami sarankan hal itu tidak diperkenankan, karena cukup bertentangan dengan aturan. Begitu juga mengenai tidak dipersyaratkannya sertifikat mutu benih melainkan surat keterangan, namun hal ini masih bisa dibenarkan, ” jelas Hazairin menyikapi dugaan kecurangan itu.

Ia menambahkan pihaknya akan terus memantau seluruh proses pekerjaan dalam melaksanakan fungsi TP4D, sehingga jika terjadi penyimpangan dalam proses maupun pelaksanaan pekerjaan, pihaknya akan bertindak sesuai ketentuan hukum.

Sekretaris ULP Yustiyanto Bantilan yang dikonfirmasi mengenai hal itu menerangkan, pihak PPK telah menyerahkan berkas lelang dan telah menanyangkan pengumuman bibit gaharu. Namun saat tayang kata Yustiyanto,  persyaratan teknis yang dimaksud yakni keharusan bibit berada di Tolitoli tetap diterapkan.

“Waktu ditayangkan memang mempersyaratkan bibit harus tersedia di Tolitoli, seperti yang sudah dibaca oleh rekanan,  namun entah kenapa persyaratan itu kemudian tiba-tiba dihilangkan oleh PPK nya, ” jelas Yustianto.

Sementara, Melky selaku PPK sekaligus Kepala Bidang Pengawasan BLH Tolitoli, tidak bisa memberikan kondirmasi, padahal media ini berulang kali menemui dikantornya, namun yang bersangkutan sedang tidak ditempat.  Bahkah dihubungi melalui nomor ponselnya, terdengar nada aktif namun tidak ada jawaban. [***]

Penulis; Ramlan Rizal
Editor; Sutrisno

(Visited 58 times, 1 visits today)

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*