Dahsyatnya likufaksi di Petobo, Palu Selatan hingga menenggelamkan satu wilayah pemukiman warga.

Peneliti Jepang: Likuifaksi di Sulteng Fenomena Unik

Jurnalsulawesi.com – Dalam kuliah umum mengenai studi gempa dan tsunami di Indonesia dan Jepang, Technical Officer dari Ministry of Land, Infrastructure, Transport, and Tourism (MLIT) Jepang, Hayakawa Jun, mengatakan peristiwa likuifaksi yang meluluhlantakkan wilayah-wilayah di Sulawesi Tengah (Sulteng), seperti Petobo dan Balaroa, adalah peristiwa yang unik.

Hal ini karena likuifaksi di kedua wilayah tersebut sangat merusak, dan bahkan kemudian diikuti oleh tanah longsor.

“Di Balaroa, ada satu rumah yang bergeser hingga 400 meter. Ini adalah fenomena yang unik,” kata Jun dalam presentasinya yang disampaikan di Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia, Jakarta, Kamis (29/11/2018).

“Dari pengalaman di Jepang, pergeseran terjadi hanya empat meter, sangat pendek. Tapi sekarang, kami menemukan ada pergeseran hingga beberapa ratus meter.”

Sebelumnya, Jun terlebih dahulu menjelaskan faktor apa saja yang menyebabkan likuifaksi bisa terjadi setelah gempa.

“Likuifaksi biasa dapat terjadi setelah ada goncangan yang sangat kuat dalam waktu lama. Kedua, tanah di sana sebagian besar adalah pasir. Dan ketiga, tanah dipenuhi air dan air tanah berada dalam posisi yang tinggi.”

Ia menjelaskan, bila ketiga faktor tersebut terpenuhi, maka likuifaksi pun terjadi seperti di Petobo dan Balaroa. Fenomena likuifaksi terjadi beberapa saat setelah gempa besar berkekuatan 7,4 Magnitudo mengguncang Kota Palu pada 28 September 2018 lalu.

“Tapi ini tidak akan menyebabkan longsor. Kami pernah mengalami likuifaksi yang menyebabkan rumah tenggelam atau permukaan tanah naik, tapi tidak sampai menelan korban jiwa. Ini fenomena yang unik.”

Jun mengatakan, dirinya memiliki empat hipotesis yang menjelaskan mengapa likuifaksi di Sulawesi Tengah diiringi oleh longsor.

“Yang pertama tentu saja seberapa besar kemiringannya. Kedua adalah apakah ada tanah lanau atau tanah lempung. Yang ketiga, tekanan pada air tanah. Yang terakhir adalah kuncinya yang membuat likuifaksi semakin berbahaya. Ini adalah hipotesis kami,” jelas Jun.

“Karena air tertekan, maka aliran lateral pun terjadi dalam waktu lama.” [***]

Sumber; Kumparan

(Visited 52 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*