Gempa dan Tsunami membuat Kota Palu porak poranda. Peneliti menyebut Palu menjadi langganan bencana dan tak layak jadi kota. [Ist]

Peneliti: Palu ‘Langganan Bencana’, Tak Layak Jadi Kota

Jurnalsulawesi.com – Deputi Bidang Informasi Geospasial, Badan Informasi Geospasial (BIG) Arief Syafi’i mengatakan kota Palu masuk dalam kategori tidak layak untuk dijadikan sebagai sebuah kota di Sulawesi Tengah. Pasalnya, Palu dianggap sebagai ‘langganan bencana’ dengan letak geografis yang dilalui oleh empat sesar aktif dan dikelilingi lempeng.

Ucapan Arief disebut juga berdasarkan hasil kajian mendalam yang menunjukkan Palu tidak layak menjadi kota. Arief juga mengingatkan Palu memiliki sesar aktif Palu-Koro yang seharusnya tidak didirikan bangunan rumah atau infrastruktur.

“Kalau ada sesar jangan dibangun bangunan. Palu itu saja ada sesar Palu-Koro. Banyak ahli bahkan juga tidak menyatakan Palu layak dijadikan sebagai kota. Ada empat lempeng juga,” kata Arief di bilangan Senopati, Jakarta Selatan, Kamis (11/10/2018).

Sebagai bagian dari langkah mitigasi bencana, ia menuturkan pemerintah menunjuk BIG untuk memetakan daerah rawan bencana di kota alternatif untuk menjadi ibu kota Sulawesi Tengah . Pemerintah disebut juga berencana merelokasi penduduk Palu untuk keluar dari jalur sesar.

Ditinjau dari aspek geografis, kepala bidang pemetaan kebencanaan dan perubahan iklim BIG, Ferrari Pinem mengatakan Palu dipastikan jadi titik rawan bencana seperti gempa bumi, tsunami, tanah longsor, hingga likuifaksi.

Meski di sisi lain ia mengataan letak Palu aman dari bencana vulkanologi karena tidak ada gunung berapi aktif.

“Kota Palu tidak layak jadi kota karena sudah ada kajian dari badan geologi bahwa itu rawan dari bencana geologis. Itu sudah dipetakan bahwa memang rawan bencana,” kata Ferrari di kesempatan yang sama.

Ia menjelaskan Palu-Koro merupakan sesar paling aktif di Indonesia. Kekuatannya bahkan mencapai tiga kali lipat dibandingkan pergerakan sesar lain sehingga dapat dipastikan gempa bumi bisa terjadi.

Disamping itu, ia juga menjelaskan banyakan infrastruktur yang dibangun di atas jalur sesar turut memberikan dampak parah saat terjadi bencana. Bentuk selat Palu yang dikenal sebagai kanal tertutup juga bisa mengamplifikasi dampak tsunami.

“Untuk gempa juga banyak sesar dan lempeng. Ditambah lagi bentuk teluk seperti kanal tertutup yang membentuk amplifikasi gelombang dengan bentuk itu,” ucapnya. [***]

Sumber; CNNIndonesia

(Visited 163 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*