Rumah di Petobo yang masih nampak di permukaan tanah telah terendam dengan lumpur.

Pengungsi Petobo Mulai Terserang Diare

Palu, Jurnalsulawesi.com – Pengungsi Petobo, Kota Palu, Sulawesi Tengah, yang menajdi korban korban gempa dan likuifaksi mulai terserang penyakit diare memasuki pekan ketiga pascabencana alam melanda daerah itu.

“Sudah beberapa hari ini saya diare sampai-sampai lemas semua badan, ada juga beberapa anak-anak terkena penyakit itu, ” ungkap Olen Dewi, seorang warga Petobo di pengungsian, Selasa (16/10/2018).

Wanita berusia 30 tahun ini mengatakan, memasuki pekan ketiga pascagempa sejumlah warga di pengungsian mulai terserang berbagai penyakit, namun yang lebih dominan diare termasuk infeksi saluran pernafasan atas.

Warga Petobo kebanyakan mengungsi di wilayah timur kelurahan itu berbatasan dengan Desa Ngatabaru radius kurang lebih satu kilometer dari lokasi likufaksi.?

Bahkan, sebagian pengungsi Petobo menyebar di dataran tinggi Kabupaten Sigi mencari tempat dianggap aman diantaranya Desa Pombewe, dusun Ranoraupa Desa Loru, Biromaru dan Parovo.

Dari pantauan di wilayah-wilayah itu ditemukan banyak pengungsi mengalami diare, sementara ketersediaan obat-obatan sangat minim sehingga penanganannya harus dibawa ke posko kesehatan.

“Saat ini kami berobat di posko kesehatan yang sudah disediakan di sekitar tenda pengungsian, bagaimana dengan mereka titik pengungsiannya jauh dari posko kesehatan. Desa Loru misalnya, disana pengungsinya cukup padat, mereka harus turun ke Biromaru memerikas kesehatan, karena di sana posko induk kesehatan untuk wilayah timur Sigi,” tutur Olen.

Fajar, warga lainnya bercerita, ia juga terserang penyakit yang sama hingga ia merasa lemas.

“Sudah beberapa hari ini saya diare, serasa bandan lemas semua,” katanya.

Pascagempa bermagnitudo 7,4 pada skala Richter mengguncang Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Donggala 28 September 2018, para korban selamat masih bertahan di tenda-tenda sambil menunggu kejelasan relokasi dari pemerintah karena rumah mereka hilang tertimbun lumpur.

Di tempat pengungsian, warga tidak dapat berbuat banyak, hingga kini sejumlah relawan dari luar daerah masih membangun hunian untuk tempat tinggal sementara bagi korban bencana sambil menunggu kejelasan relokasi pemerintah. [***]

Sumber; Antara

(Visited 28 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*