(Ilustrasi)

Peringatan Dini untuk Petahana di Pilkada Serentak 2018

Bagikan Tulisan ini :

Oleh: Pangi Syarwi Chaniago

PELAJARAN Berharga semestinya bisa diambil dari banyaknya petahana yang tumbang di Pilkada Serentak 2017 untuk pilkada mendatang seperti Pilkada Serentak 2018.

Jangan terlalu membanggakan kinerja, capaian dan prestasi yang hanya berbasis kebahagian data statistik dan angka semata.

Jangan mengecewakan rakyat dengan mengabaikan kehendak dan keinginan rakyat. Jangan bermain di zona maha sensitif yang memantik sentimen negatif, polemik dan memantik kebisingan.

Ingat, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saya kira tidak lazim kalah sebagai calon incambent dengan tingkat kepuasaan 75 persen.

Petahana juga penting memastikan capaian kinerja, janji kampanye yang ditagih rakyat dan prestasinya diketahui dengan baik oleh masyarakat.

Ada dua variabel yang menyebabkan masyarakat tidak puas terhadap kinerja incumbent. Pertama, incumbent sudah bekerja keras luar biasa namun masyarakat tidak pernah mengetahui apa yang sudah dikerjakannya.

Kedua, miss persepsi atau sintemen negatif yang tidak dicounter jauh-jauh hari, alias dibiarkan isu tersebut bergerak bebas, sehingga masyarakat tidak puas.

Bisa jadi incambent punya banyak prestasi namun tidak banyak dilihat publik, karena tidak mau dipublis, tidak mau menjadi populis, implikasinya rendah tingkat kepuasan (approval rating) incambent itu sendiri, alami tanpa narasi, framing, konten, positioning dan ujungnya tanpa personal branding.

Pilkada langsung adalah soal pilihan terhadap figur, sehingga ia sangat tergantung pada soal kedisukaan atau ketidakdisukaan. Dan suka atau tidak sangat dipengaruhi oleh persepsi, isu populisme dan top isu serta memainkan sintimen positif yang dibangun dan tercitrakan.

Jadi saya kira tidak haram dan bukan menjadi tabiat yang ganjil incambent yang populis dan pencitraan alami, seorang incambent yang lihai dan mahir membaca sentuhan publik, incambent yang populis, sadar kemera, media friendly adalah incambent kekinian, asik punya, dan kemungkinan kembali terpilih kansnya cukup besar.

Trend kecendrungannya perilaku pemilih (voting behavioral) sangat tidak suka terhadap pemimpin yang terlalu birokratis, raja jaim dan kaku, aktifitas formal lebih dominan dari pada non formal seperti blusukan dan seterusnya.

Warga lebih suka pemimpin nempel selalu dengan rakyat, mau berbaur, ngopi dan makan goreng di warung bersama warga, makan dan minum cendol di pasar bersama rakyat serta tidak takut turun langsung dan bertatap muka mendengar keluh kesah, aspirasi masyarakat selama ini terbendung.

Saya ingin katakan bahwa pada satu kesimpulan yang tidak melompat, jika petahana terlalu percaya diri dengan bersandar pada indikator prestasi, penghargaan dan capaian selama menjabat incambent namun mengabaikan sentuhan pupulisme dan emosional (personal touch) dengan rakyatnya, bersiaplah untuk ditinggalkan rakyatnya. [Rmol]
(Penulis adalah Direktur Eksekutif Voxpol)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*