Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto.

Pilkada 2018, Ajang Pertarungan Prabowo-SBY-Mega Menuju Pilpres 2019

Bagikan Tulisan ini :

Jakarta, Jurnalsulawesi.com – Pengamat politik dari LIPI Siti Zuhro menyatakan, pasca PDIP dan Partai Demokrat mengumumkan calon dan kadernya yang maju dalam pilkada 2018 menilai, kontestasi hari ini secara tidak langsung menjadi cerminan kontestasi di pemilu dan pilpres 2019 mendatang.

“Kontestasinya terbaca bagaimana mereka bertarung hari ini. Kontestasi mulai panas dan dinamis, setiap partai tidak ingin kalah dan ketinggalan. Cuma siapa yang bisa memenangkan di 2019 masih sangat cair dan untuk koalisi sangat dinamis jadi belum bisa tahu kita,” kata Siti Zuhro, Minggu (7/1/2018).

Menurutnya, perkiraan pilpres nanti masih diisi oleh tiga besar yaitu Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Prabowo Subianto.

“Saya melihat fluktuasi dari partai pemilu sampai dengan 2014 ini tidak ada satu partai yang mampu survive untuk pemilu setelah dia berkuasa,” ucap Siti.

“Bisa jadi partai yang kalah bisa menang di kedepannya. seperti 2014 PDIP dua periode diluar kekuasaan. Maka tidak menutup kemungkinan Partai Gerindra akan naik dan menjadi leading party nantinya,” imbuhnya.

Dia menganalisa, ketiganya bakal maju nampak dari pilgub Jawa Barat bagaimana pertarungan antara Prabowo dan SBY mulai dari kader yang mereka pilih. “Yang mungkin berat itu di Jawa Timur yang belum jelas irisannya,” jelasnya.

Melihat PDIP sambungnya, yang terus berusaha meyakinkan pengusung terhadap yang diusung baik dari kadernya sendiri atau kader luar. Saat ini nuansanya lebih religius hari ini.

“Dinamis sekali siapa yang mereka (PDIP) usung keluarganya sendiri atau mengusung kadernya yang saat ini belum tahu elektabilitasnya oke atau tidak. Juga perlu membaca apakah Partai Golkar akan konsisten akan mendukung Jokowi dan PDIP sampai akhir,” ujarnya.

Terkait Demokrat, Siti menyatakan, sangat jelas bahwa Demokrat akan mengusung Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam pilpres mendatang hal itu nampak dari suara kader daerah.

“Saya dengar sendiri suara di daerah dan bagaimana partainya mendukung AHY. Demokrat juga sudah menyuarakan ini dan getol ke daerah daerah memang betul mereka mengakui sudah mendukung AHY. Atas dasar itu mereka (Demokrat) mengatakan sudah 80% yang mereka usung dalam pilkada 2018,” tutupnya.

Uji Mesin Partai
Penetapan resmi calon peserta pemilihan kepala daerah 2018 banyak dilakukan partai-partai politik di masa-masa akhir jelang pendaftaran. Hal itu dinilai karena partai politik kerap saling intip kekuatan. Selain itu, peta koalisi pun kerap berubah.

“Kenapa 2018 saling intip, bahkan peta koalisi berubah, karena 2018 tidak bisa dilepaskan dari uji mesin partai menuju 2019. Dan partai mengonsentrasikan itu di pilkada,” kata Direktur Eksekutif Perludem, Titi Anggraini di Halimun, Jakarta, Minggu (7/1/2018).

Partai politik, menurut Titi, membangun persepsi kemenangan pilkada ini sebagai kemenangan di 2019. Sehingga partai menjadi hati-hati dalam menentukan calon.

“Pilgub menjadi fokus sebagai basis menuju 2019. Membuat partai sedemikian rupa belajar dan mengubah strategi,” kata Titi.

Karena itu, menurutnya, tidak mengherankan jika banyak partai saling tunggu sikap partai lain. Padahal Komisi Pemilihan Umum sebelumnya telah mengumumkan jadwal pendaftaran sejak jauh hari.

“Jadi walau KPU mengumumkan pendaftaran jauh hari, tapi last minute, koalisi mepet waktu. Ini berkaitan betul dengan 2019,” kata Titi. [***]

Source; Sindonews/Viva
Red; Sutrisno

(Visited 84 times, 1 visits today)

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*