Syeni Kairupan

PT Hasjrat Abadi Akui Belum Penuhi Hak Karyawan

Palu, Jurnalsulawesi.com – PT Hasjrat Abadi Cabang Palu mengakui adanya kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya, yang sudah tujuh tahun bekerja di perusahaan tersebut.
BACA JUGA: PT. Hasjrat Abadi Palu Dinilai Abaikan Hak Pekerja

Hal tersebut diakui Pimpinan PT Hasjrat Abadi Cabang Palu Syeni Kairupan saat ditemui Jurnalsulawesi.com, di Kantor Cabang Jalan Diponegoro, Kota Palu, Selasa (14/8/2018). Menurut Syeni, PHK dilakukan terhadap karyawan atas nama Rival, karena yang bersangkutan menolak dipindah status sebagai karyawan Out Sourcing.

Syeni juga mengakui adanya persoalan hak karyawan yang belum dipenuhi setelah di-PHK

Anehnya, surat PHK terhadap Rival tidak ditandatangani oleh Fenny Luawodi sebagai Head Regional Office. Selain itu, pada surat PHK itu juga tidak distempel (Cap) oleh perusahaan otomotiv tersebut. Namun saat hal itu ditanyakan, Syeni enggan memberikan jawaban, dengan alasan persoalan itu sudah diserahkan kepada pengacara perusahaan.

Bahkan, Syeni juga mengaku tidak berkompeten untuk menjawab beberapa pertanyaan lain yang diajukan wartawan.

“Nanti sama pengacara saja yah yang bisa menjawab semuanya,” singkat Syeni, di ruang kerjanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, PT. Hasjrat Abadi Cabang Palu dinilai telah mengabaikan hak-hak pekerjanya, yang telah bekerja selama tujuh tahun namun tidak mendapatkan haknya, sebagimana diatur dalam Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Tenaga Kerja.

Salah satu karyawan yang menjadi korban kebijakan manajeman PT Hasjrat Abadi itu adalah Rival (28), yang selama tujuh tahun bertugas di bagian Cleaning Service, dengan status buruh harian lepas (BHL) tanpa pernah diangkat sebagai karyawan tetap.

“Sudah bekerja selama tujuh tahun, tapi tidak jelas statusnya sebagai karyawan,” terang Direktur Lembaga Pengembangan Studi Hukum dan Hak Azasi Manusia (LPS-HAM), Mohammad Afandi.

Ironisnya kata Afandi, Rival sudah diberhentikan secara sepihak oleh Manajeman PT Hasjrat Abadi Cabang Palu karena menolak pindah menjadi karyawan dengan status Out Sourcing, dengan masa kontrak selama tiga bulan.

Dikatakannya, masih ada tiga pekerja lainnya yang mengalami nasib sama seperti Rival, dengan masa kerja antara lima hingga delapan tahun. Karena itu Rival dan tiga rekannya menuntut haknya yang selama ini terabaikan.

“Secara kelembagaan kami akan terus memperjuangkan hak-hak atas pekerja sesuai dengan amanat undang-undang dan akan mengawal kasus ini sampai yang bersangkutan mendapatkan haknya sebagai pekerja,” jelas Afandi.[***]

 

Penulis; Ahmad Kasmadja
Editor; Sutrisno

(Visited 124 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*