Pertemuan Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. [Biro Wapres]

Reuni JK-SBY Mencari Peluang Poros Ketiga di Pilpres 2019

Jakarta, Jurnalsulawesi.com – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) telah mengunjungi kediaman Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Kuningan, Jakarta Selatan. Lawatan itu terjadi di tengah keriuhan jelang pilkada serentak 2018.

Pertemuan itu terjadi selepas SBY berkali-kali melontarkan pernyataan dan kritik terhadap Presiden Joko Widodo. Belakangan SBY menyentil soal dugaan pengerahan aparat keamanan hingga intelijen buat melanggengkan rezim Jokowi.

Sementara JK berdiri di antara keduanya. Nuansa politik sangat kentara dalam pertemuan SBY-JK. Sejumlah kalangan berpendapat hal ini merupakan langkah penjajakan menjelang pemilihan presiden 2019.

Direktur Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menilai selama ini baik JK maupun SBY belum pernah mengagendakan secara khusus untuk bertemu satu sama lain.

Menurut Adi, pertemuan itu merupakan taktik Partai Demokrat melihat peluang, selain untuk menguji peta politik saat ini.

“Jadi silaturahmi kali ini bukan datang dari ruang hampa, publik membacanya bagian rangkaian dari gosip politik yang sengaja diembuskan Partai Demokrat,” kata Adi yang dikutip CNNIndonesia.com, Senin (25/6/2018).

Adi menilai dari pertemuan itu terbersit peluang reuni SBY-JK di pilpres 2019 mendatang. Hal itu karena SBY dan JK tidak pernah memiliki masalah satu sama lain, meski saat pilpres 2009 mereka berbeda kubu.

“Bisa saja bersatu kan chemistry-nya sudah terbangun sejak lama, kalau pak SBY dengan Prabowo (Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto) kan susah,” kata dia.

Pengamat politik dari Universitas Negeri Jakarta Ubedilah Badrun mengatakan apabila SBY dan JK kembali berduet, keduanya bakal menjadi kekuatan politik yang sangat diperhitungkan di pilpres 2019.

“SBY punya jaringan luas dan kuat ya baik itu di internasional maupun dalam negeri,” ujar Ubedilah.

Sementara JK dianggap politikus ulung yang cerdik dalam membangun koalisi. Menurutnya JK dapat dengan mudah menarik dukungan partai-partai politik.

Adi juga berpendapat bahwa JK merupakan sosok politikus yang mewakili aspirasi dari Indonesia bagian timur. Modal dan pengaruh JK untuk maju pilpres juga cukup kuat.

“Selain saudagar, JK juga kuat di internal Partai Golkar,” katanya.

Adi menilai pilpres 2019 mendatang bakal berlangsung dua periode dan sengit. Bukan tidak mungkin poros ketiga bakal terbentuk dan masyarakat disuguhkan dengan tiga pasangan capres dan cawapres.

“Akan ada figur dan tokoh baru yang dimunculkan menjadi bagian dari dinamika pilpres 2019, akan ada tiga poros dan kemungkinan pilpres dua putaran,” kata Adi.

Calon Potensial
Apabila JK dan SBY reuni di pilpres 2019 mendatang, Adi memprediksi beberapa nama capres dan cawapres potensial yang bakal diusung. Menurutnya, ada beberapa skenario pasangan capres-cawapres apabila mereka bersatu.

Skenario pertama, kata Adi, adalah kemungkinan JK dipasangkan dengan Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Meskipun JK sempat menyatakan ingin mundur dari ingar bingar politik, bisa saja dia berubah pikiran.

Lantas jika JK tetap enggan maju, ada peluang dia tetap berada di dunia politik tetapi berada di balik layar bersama SBY. Namun jika itu terjadi, kata Adi, keduanya bakal menyodorkan jagoan masing-masing.

Adi memperkirakan AHY bisa saja dipasangkan dengan andalan JK, yakni Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Sebab JK memang secara nyata mendukung Anies dalam pilkada DKI Jakarta 2017.

“Bisa saja AHY-Anies. Kita tahu last minute dukungan JK di pilkada Jakarta ke Anies, kan. Akhirnya Anies kan yang diserukan oleh Pak JK di pilkada DKI Jakarta lalu. Artinya tuah politiknya cukup didengar” ujar Adi. [***]

Sumber; CNNIndonesia

(Visited 17 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*