Sonny Lahati

Revolusi 7.4 PASIGALA

Oleh: Sonny Lahati
Palu, Sigi dan Donggala (PASIGALA) tanggal 28 September 2019, Pukul 18.02 Wita dilanda bencana gempa bumi 7,4 SR yang diikuti tsunami dan likuifaksi. Korban jiwa mencapai 1.948 tercatat BNPB, 843 hilang . Diperkirakan 2 ribu lebih korban jiwa data akan terus di validasi.  Sedangkan korban luka 10 ribu lebih Dan evakuasi di hentikan di wilayah likuifaksi.

Pasca bencana diharapkan rakyat tiga daerah yang menjadi korban dapat pulih kembali baik psikologi maupun fisik.

Apa yang harus dirubah. Yang harus berubah adalah mindset rakyat berfikir, apa rencana ke depan secara bersama antara pemerintah dan warga korban, serta para pihak yang konsen membantu ketiga wilayah tersebut.

Pasca gempa beredar isu bahwa Kota Palu Ibu Kota Sulteng layak di pindahkan pasca kejadian gempa. Pembentukan opini resolusi instan seperti ini merupakan kesalahan fatal. Mengkerdilkan kemampuan warga Kota Palu.

Pasca bencana selain penanganan pengungsi dan santunan buat ahli waris. Selanjutnya selayaknya melahirkan revolusi berpikir yang cepat oleh rakyat dan stakeholder lainnya.

Pertama; akan berkembang secara cepat berbagai metode konstruksi sarana dan prasana pembangunan kota yang berbasis ramah lingkungan dan geologis serta perlu rekonstruksi berfikir memaknai kemurnian budaya tauhid.

Kedua; konsepsi tata ruang pemukiman di arahkan secara revolutif aman terhadap gempa, tsunami dan likuifaksi.

Ketiga; konstruksi perumahan dan bangunan lainnya berbasis tahan gempa 7,8 magnitudo.

Keempat; review pola tata ruang, wilayah wilayah pasca likuifaksi dan tsunami kembali di bangun berbasis ramah lingkungan, di daerah likuifaksi Petobo, Perumnas Balaroa dan Jono, serta wilayah pesisir Teluk Palu, selayaknya di desain berdasar kepentingan lingkungan bukan lagi semata-mata ekonomi.

Hutan kota dan hutan mangrove perlu didesain untuk kepentingan di daerah likuifaksi dan bekas tsunami.

Revolusi 7.4 Pasigala mengilhami kompleksitas patahan Palu-Koro kelak melahirkan berbagai desain ilmu pengetahuan maupun ketauhidan, bahwa rasionalitas dan irasional (keyakinan) akan bahu membahu menghadapi siklus puluhan tahun ke depan untuk anak cucu kita di patahan Palu-Koro. [***]

(Penulis adalah Dosen Fakultas Perikanan Univ. Alkhairaat Palu)

(Visited 76 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*