Alhabib Umar bin Abdulqodir Assagaf menyampaikan tausyiah kepada ribuan jemaah pada Haul ke-12 Alhabib Abubakar, di Parigi Moutong, Minggu (21/10/2018). [Bob Shinoda]

Ribuan Jamaah Hadiri Haul ke-12 Alhabib Abubakar

Parigi, Jurnalsulawesi.com – Ribuan masyarakat Kabupaten Parigi Moutong tumpah ruah menghadiri HAUL ke-12 pendiri Majelis Dzikir Ittihadul Ummat Muhammad SAW, Alhabib Abubakar bin Abdullah bin Syech Abubakar bin Salim Assagaf dan Dzikir Akbar yang dihelat di Desa Donggulu, Kecamatan Kasimbar, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Minggu (21/10/2018).

Menurut salah seorang panitia acara HAUL, Mahfud masyarakat yang hadir diperkirakan mencapai 7 sampai 8 ribuan jemaah. Dari pantuan media, tenda yang disiapkan oleh panitia tidak mampu menampung masyarakat yang hadir, bahkan ada masyarakat yang duduk di rumah-rumah warga sekitar lokasi HAUL. Mereka yang hadir dari Kecamatan Kasimbar, Tinombo Selatan, Tinombo, Palasa, Toribulu, Ampibabo, dan Kecamatan Siniu. Acara ini dihadiri oleh para camat dan kepala-kepala desa.

“Kita hitung dari jumlah nasi dos diberikan di tenda 5 ribu. Belum lagi yang di dalam sekertariat, seribu. Tambah lagi masyarakat datang membawa makanan untuk acara,” ungkapnya.

Sementara itu, Pimpinan Majelis Dzikir Habib Umar bin Abdulqodir Assagaf dalam membawa hikmah dan tausyiah HAUL menyampaikan, pentingnya bagi ummat muslim khususnya di Sulteng untuk introspeksi diri atas bencana gempa, tsunami, dan likuifaksi yang menimpa Kota Palu, Kabupaten Donggala, dan Sigi pada 28 September yang lalu. Jika ditinjau dari firman Allah SWT bahwa bencana akan datang akibat ulah manusia itu sendiri. Seperti disebutkan dalam QS Asysyuura 30 yang berbunyi ‘Dan musibah apapum yang kalian terimaal adalah karena perbuatan tangan kalian sendiri, Allah memaafkan sebagian dari kesalahan – kesalahanmu’.

“Jauh sebelumnya, Allah telah menurunkan bencana kepada kaum Nabi Luth, karena melakukan praktik homo seksual, LGBT yang dilarang oleh Allah,” tegas Habib Umar.

Ditambah lagi katanya, sudah melakukan praktik syirik yang menduakan Tuhan. Memuja – muja syaitan, memanggil – manggil arwah adalah perbuatan yang telah musyrik. Padahal sejak dahulu Alhabib Idrus bin Salim Aljufri atau dikenal Guru Tua sudah membersihkan praktik-praktik itu.

“Ada ada budaya Kaili yang tidak bertentangan dengan syariat Islam diperbolehkan dan diambil. Guru Tua dulunya sudah menghilangkan yang namanya balia – balia itu. Tapi sekarang dibangkitkan lagi oleh dukun-dukun itu,” jelasnya.

Habib Umar menuturkan, Guru Tua berdakwah di Sulteng karena sesungguhnya sang guru mencintai negeri Sulteng, khususnya Kota Palu dengan cara memberikan pendidikan agama yang benar sesuai syariat Islam. Guru Tua sangat toleransi dengan golongan lain. Olehnya tambahnya, diimbau kepada ummat muslim yang ada Sulteng, khususnya Kabupaten Parmout untuk kembali kepada ajaran Guru Tua, kembali kepada Sunnah Nabi Muhammad SAW sebagaimana yang dibawakan oleh para sahabat, keturunan, ulama yang berada di jalan kebenaran. Habib Umar mengajak ribuan jamaah untuk berdoa agar daerah ini dijauhkan dari bala bencana utamanya tiga daerah yang ditimpa bencana. Terakhir ia meminta kepada pemerintah untuk mencegah adanya praktik prostitusi, acara-acara LGBT, penjualan minuman keras, perjudian dan sebagainya.

Sebab Sitti Aisyah Radiallahuanhu pernah menyampaikan yang dikatakan Rasulullah bahwa bencana akan datang ketika tiga hal sudah ada di sekitar kaum muslimin.

“Pertama miras, zinah, dan perjudian, maka tunggulah bencana akan datang di tengah-tengah kalian,” tandas Habib Umar.

Sebelum acara puncak, pada Sabtu (20/10/2018) malam, dilangsungkan pawai obor ratusan masyarakat dan anggota majelis dzikir.

Acara HAUL ditutup dengan Dzikir bersama untuk mendoakan para korban bencana alam di Kota Palu, Kabupaten Donggala, dan Sigi. Acara berakhir sekira Pukul 13. 00 Wita. [***]

Penulis; Bob Shinoda

(Visited 26 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*