Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menemui Ketum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj, Senin (16/7/2018) sore. [Tribunnews]

Sambangi PBNU, Siapa Cawapres yang Dibidik Prabowo?

Jakarta, Jurnalsulawesi.com – Jelang pendaftaran calon presiden dan calon wakil presiden 4 Agustus mendatang, Ketua Umum (ketum) Partai Gerindra Prabowo Subianto terus bermanuver. Setelah melakukan pertemuan tertutup dengan Ketum PKS dan PAN, Senin sore, 16 Juli 2018, Prabowo menemui Ketum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj.

Spekulasi pun bermunculan terkait pertemuan di kantor PBNU itu. Ada yang menduga, Prabowo datang untuk mencari dukungan organisasi Islam terbesar di Indonesia itu. Ada juga yang beranggapan, NU beralih dukungan ke Prabowo.

Baik Prabowo maupun Said Aqil mengaku, pertemuan itu salah satunya untuk konsultasi soal cawapres. “Nanti kalau beliau memutuskan siapa cawapresnya akan meminta masukan dari saya,” ujar Said Aqil.

Dihubungi terpisah, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantono membenarkan kedua tokoh itu bertemu salah satunya untuk membahas soal Pilpres 2019.

“Mengenai soal Pilpres tentu juga dibicarakan. Perlu diketahui pada Pilpres 2014 Pak Said Aqil kan juga mendukung Pak Prabowo,” kata Ferry, Selasa (17/72018).

Wakil Ketua Umum Gerindra lainnya, Sugiono, menyebutkan pertemuan Prabowo dan Said Aqil bukan tiba-tiba. Tapi telah lama direncanakan. Namun, “jadwalnya baru klop tadi malam itu,” ucap Sugiono.

Dikonfirmasi soal pertemuan Prabowo dan Said Aqil, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Imam Pituduh memastikan, pertemuan itu bukan dalam rangka dukung mendukung.

Prabowo, katanya, datang untuk meminta restu, dan bagi PBNU siapapun yang meminta restu akan diberikan, tak terkecuali mantan Danjen Kopassus itu.

“Kalau meminta restu, diajak rundingan ya PBNU mau, kenapa enggak mau? Tapi tidak ada dukung mendukung karena NU bukan lembaga politik,” jelas Imam saat dihubungi Selasa sore (17/7/2018).

Dia juga menegaskan, NU akan memberikan restu kepada pihak manapun asal mengacu pada Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945 (PBNU).

Soal Pilpres dan cawapres 2019, Imam memastikan lembaganya tidak menyodorkan tokoh atau pengurus PBNU untuk dipinang sebagai cawapres, baik oleh Prabowo maupun Presiden Jokowi. Sebab, PBNU bukan lembaga politik.

Namun, dia tak menampik bahwa PBNU punya tokoh atau pengurus-pengurus yang bisa dijadikan cawapres pada Pilpres 2019 nanti.

“Ada Kiai Said (Ketum PBNU), Kiai Ma’ruf Amin (Ketua MUI), mereka sangat kompeten. Yang penting NU bersama dengan partai-partai yang cinta NKRI, membangun kebinekaan, dan agama tidak dijadikan alat politik,” tegas Imam.

Berbeda dengan Jokowi yang telah menyebut sejumlah nama untuk menjadi cawapresnya, Prabowo Subianto hingga saat ini belum menyebutkan daftar cawapresnya.

Sejumlah nama memang telah ramai disebut berpeluang mendampingi Prabowo di Pilpres 2019. Yakni Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Ketua Kogasma Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, dan Ketua Majelis Syura PKS Salim Segaf Aljufry.

Tiga nama itu, kata Ketua DPP Gerindra Muhammad Syafi’i, santer disebut di internal Gerindra. Meski demikian, langkah Prabowo masih sulit dibaca, apakah akhirnya dia maju sebagai capres dan siapa yang akan digandeng sebagai cawapres di Pilpres 2018.

Masalahnya, hingga saat ini Prabowo terus bermanuver. Pada Selasa sore, Prabowo malah bertemu Puan Maharani, yang notabene berasal dari kubu lawannya.

“Baru saja saya bertemu dengan Mbak Puan, pertemuan persahabatan, kekeluargaan. Saya kan merasa dekat sama keluarga itu. Jadi kita bicara hal-hal yang ringan sampai setengah berat,” kata Prabowo di Kertanegara, Selasa (17/7/2018).

“Kita sepakat apapun kita adalah anak-anak bangsa, bertanggungjawab atas NKRI yang utuh solid, kalau ada perbedaan kita sikapi dengan baik, kalau hal-hal yang kita tidak setuju kita kritisi,” sambungnya.

Prabowo mengaku gembira dengan pertemuan ini. Rencananya dia bakal menemui kembali putri Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri tersebut.

Tak hanya berhenti pada Puan, Prabowo juga akan bertemu dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu sore, 18 Juli 2018. Pertemuan akan berlangsung di kediaman SBY di Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Apakah pertemuan itu untuk menguatkan wacana duet Prabowo-AHY di Pilpres 2019?

“Lihat saja pembicaraan besok. Kemungkinanya ada (Prabowo-AHY),” ucap Syarief, Selasa (17/7/2018).

Dia mengungkapkan, sebelumnya Prabowo sudah menyampaikan senang hati jika berduet dengan AHY. “Orang Pak Prabowo sudah ngomong ke saya kok. Ya ngomongnya gitu. Dia sangat senang hati kalau kita bergandengan dengan AHY,” ucap Syarief.

Cawapres Ideal untuk Prabowo
Menurut Direktur Survei dan Polling Indonesia (SPIN) Igor Dirgantara, Prabowo bertemu Ketum PBNU untuk meningkatkan dukungan elektoral.

“Pak Prabowo lemah di dukungan NU, dia kuat di Muhammadiyah. Pak Prabowo mengunjungi NU karena itu bisa merawat, mempertahankan elektabilitas supaya tidak terlalu kalah telak di Jateng nanti (pada Pilpres 2014, Prabowo kalah telak di Jateng).

Tak jauh berbeda, Direktur Program Saiful Mudjani Research and Consulting (SMRC) Sirojuddin Abbas mengatakan, pertemuan Prabowo dengan Ketum PBNU untuk memperlihatkan secara simbolik ada hubungan baik yang terjalin dengan pengurus NU.

“Harapannya tentu saja membangun imej positif, juga memberikan sinyal bahwa menghormati NU dan siap berdialog dengan warga NU. Ini bisa dilihat dari cara dia (Prabowo) memberi kesempatan kepada NU untuk memberi masukan dan nasihat,” jelas Sirojuddin, Selasa (17//7/2018).

Bagaimanapun, ucap Sirojuddin, NU merupakan ormas Islam terbesar di Indonesia, sehingga tak bisa diabaikan. Meski demikian, lanjutnya, hal ini tak bisa menjamin bahwa Prabowo akan mendapat dukungan bulat dari warga NU.

Ini berkaca pada Pilpres sebelumnya, di mana Megawati dan Wiranto pernah menggandeng tokoh NU sebagai cawapres. Tapi baik Mega yang menggandeng Hasyim Muzadi maupun Wiranto yang menggandeng Salahuddin Wahid, keduanya keok di Pilpres.

“NU meskipun besar, sulit untuk diarahkan atau lebih sulit dikonsolidasikan pada figur satu calon tertentu, sekalipun calon itu dari NU,” ucap dia.

“Kekuatan politik NU itu ilusif, tidak bisa dikonsolidasikan. NU hanya bersatu dalam konteks kultural dan keagamaan, tradisi yang sudah turun temurun, tapi kalau menyangkut orang, mereka bisa berbeda pendapat,” ucap Sirojuddin.

Karena itu, ucapnya, meskipun nanti Prabowo menggandeng pengurus NU sebagai cawapres, tidak menjamin semua warga NU akan berbondong-bondong memilihnya.

Sirodjuddin memberikan tips, jika Prabowo ingin menaikkan elektoralnya di Pilpres 2019, dia harus memilih cawapres yang kontras dari lawannya.

“Seandainya mereka mau menunggu, pilih calon yang kontras dengan Jokowi, maka publik akan relatif terbuka,” ujar Sirodjuddin sambil mencontohkan Pilkada DKI 2017, di mana dua calon yang sangat kontras bertanding yakni Anies Baswedan dan Basuki Tjahja Purnama atau Ahok bertarung.

“Kontras dari berbagai sudut pandang, sebaiknya mereka dengar publik. Kalau nggak betul-betul berbeda, sulit bagi Prabowo untuk memperoleh penguatan dari aspek elektoral,” tegasnya.

Terkait manuver Prabowo, Sekjen PDI perjuangan Hasto Kristiyanto menyebut pertemuan Prabowo dengan PBNU sangat wajar, dan tidak masalah bagi partai besutan Megawati Soekarnoputri itu.

Dia juga memastikan, nama cawapres Jokowi telah dibahas secara khusus oleh Megawati di Batu Tulis. “Keputusan menunggu momentum yang tepat. Nanti kita lihat itu saat matahari atau hari yang cerah,” ucap Hasto.[***]

Sumber; Liputan6

(Visited 26 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*