[Ilustrasi]

Seleb Medsos, Cara Anak Muda Gapai Sukses Instan

Jurnalsulawesi.com – Fenomena kemunculan banyak seleb di media sosial dengan fan dan follower yang banyak ternyata memiliki dampak psikologis terhadap anak-anak. Menjadi seleb di media sosial dengan segala keglamorannya bisa menjadi pemicu anak ingin sukses dengan cara instan.

“Semenjak adanya media sosial itu booming, banyak hal mungkin yang tak terpikirkan bahkan oleh penciptanya sendiri bahwa dampaknya amat besar, termasuk ada selebritas yang muncul dari situ,” kata Ajeng Raviando, psikolog anak dan keluarga yang dikutip CNNIndonesia.com.

“Kalau kita tanya anak sekarang, banyak anak yang cita-citanya ingin jadi selebgram. [Mereka menganggap] ternyata [menjadi selebgram] cepat terkenal dan uangnya banyak,” kata Ajeng.

“Hal-hal yang seperti ini membuat keinginan untuk bisa jadi orang sukses dengan waktu singkat semakin besar,” lanjutnya.

Ajeng mengakui ada pergeseran pemahaman di kalangan generasi Z yang lahir di tengah kemajuan teknologi dan internet. Mereka tak lagi memandang kesuksesan harus dicapai melalui pendidikan formal. Sebagian dari mereka menilai, bahkan dari video Tik Tok saja bisa menghasilkan uang.

Ajeng menyebut mendapatkan endorsement atau iklan adalah salah satu dampak positif anak menjadi seleb medsos, namun ia menegaskan dampak positif dari berkiprah di media sosial kerap kali tak disadari generasi kekinian. Salah satu dampak negatifnya adalah popularitas yang sementara.

Pun, Ajeng memberikan catatan, biasanya seleb medsos yang bisa bertahan hingga lintas tahun sejatinya tetap menghadapi berbagai proses perjuangan untuk tetap eksis. Ini tak jauh berbeda dari proses kehidupan konvensional seperti melalui pendidikan formal.

“Kalau kita tahu ada namanya kecerdasan majemuk, dan itu bukan hanya akademik. Sebetulnya akademik itu melatih untuk berproses [mencapai kesuksesan],” kata Ajeng.

“Tapi karena sekarang mereka menghindari proses. Karena proses butuh waktu, butuh ketekunan, butuh hal-hal yang terkait dengan fokus, konsentrasi, yang menyita waktu. Pada akhirnya [anak era sekarang menilai] kenapa sih harus lewat situ?” lanjutnya.

“Sebetulnya ketika mereka mau belajar untuk menyikapi kepopulerannya tadi dengan baik sebenarnya bisa bertahan lho,” kata Ajeng.

Senada dengan Ajeng, psikolog remaja Vera Itabiliana menilai kecenderungan banyak anak generasi Z memilih untuk menjadi seleb medsos alih-alih mengikuti jejak pendahulunya karena kebutuhan akan ‘sensasi’.

“Remaja pada umumnya menyukai hal-hal yang sensasional sehingga mereka menjadi pusat perhatian. Dengan mendapatkan perhatian, mereka seolah merasa mendapat tempat di lingkungan sosialnya,” kata Vera.

“Selain itu, remaja juga suka dengan hasil yang instan. Dengan menjadi seleb di media sosial, ada keuntungan yang mereka dapatkan tanpa harus menyelesaikan sekolah atau melakukan pekerjaan secara konvensional,” lanjutnya.

Peran Orang Tua
Baik Ajeng dan Vera sepakat orang tua memiliki andil akan obsesi anak atas media sosial, melalui pemberian gawai. Banyak orang tua memberikan gawai tanpa pikir panjang akan dampak yang mungkin dihasilkan.

Banyak orang tua cenderung terjebak dengan pemahaman anak-anak akan menjadi lebih kalem dan tidak merepotkan orang tua bila diberikan gawai. Namun, anak-anak generasi sekarang memandang gawai bisa lebih dari sekadar alat komunikasi.

“Tapi kalau dari sisi psikologis, ada yang namanya tumbuh kembang anak dan yang dibutuhkan bagaimana mereka bisa mengasah motoriknya,” kata Ajeng.

“Dan sayangnya kalau sudah jadi kebiasaan, gadget jadi susah dilepaskan. Makanya pemberian gadget harus ada peraturannya. Orang dewasa saja susah lepas dari gadget,” lanjutnya.

Sedangkan Vera menekankan penyebab anak bisa lebih suka bermain media sosial lantaran orang tua mereka tidak bisa menjadi teman yang ‘sepadan’ atau ‘asyik’. Mereka pun menilai media sosial bisa lebih memahaminya.

“Namun perlu dilihat lagi per kasus, jika anak masih dapat menjaga keseimbangan antara sosialisasi di dunia nyata dan media sosial serta antara aktivitas gadgeting dan mengerjakan aktivitas lainnya seperti tugas sekolah dan olahraga, maka tidak apa anak eksis di media sosial,” kata Vera.

Kedua psikolog anak dan remaja ini memberikan penegasan bahwa orang tua perlu untuk membimbing anak mereka dalam menyikapi teknologi dan media sosial. Salah satunya mengetahui dengan pasti kegiatan anak, informasi yang mereka dapat, dan pemahaman mereka terkait media sosial.

“Orang tua khususnya tetap perlu membimbing anak untuk tahu apa yang menjadi prioritasnya, dalam hal ini tentu menyelesaikan pendidikan. Orang tua pun jangan ikut terlena dengan kenyamanan yang didapat dari hasil eksistensi anak di media sosial,” kata Vera.

“Orang tua jangan mau tidak repot soal ini,” kata Ajeng. “Ini memang harus disikapi dengan baik terutama buat generasi ke depannya. Dan bagi orang tua, apakah sudah siap mendampingi anak di era di mana semua bergerak dengan sangat cepat.” [***]

Sumber; CNNIndonesia

(Visited 23 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*