AKBP Heru Pramukarno. [Tribratanews]

Setelah Dicopot, Sederet Sanksi Menanti Mantan Kapolres Banggai

Jakarta, Jurnalsulawesi.com – Setelah dicopot dari jabatannya sebagai Kepala Kepolisian Resor Banggai, AKBP Heru Pramukarno masih bakal menerima sanksi. Sanksi diberikan terkait dengan kasus pembubaran pengajian majelis taklim dengan menembakkan gas air mata di Banggai, Sulawesi Tengah, pada Senin (19/3/2018) lalu.

“Sanksinya jelas, demosi, penundaan pangkat, bahkan sampai ke kurungan,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Kepolisian RI Brigadir Jenderal M. Iqbal saat ditemui di kantornya, Jakarta Selatan, Senin (26/3/2018).

Iqbal melanjutkan, pemberian sanksi akan dilakukan setelah proses pemeriksaan Heru selesai oleh Paminal Propam. Heru akan dibawa ke Markas Besar Polri untuk sidang kode etik profesi dan pelanggaran disiplin.

Adapun kemungkinan pelanggaran pidana yang dilakukan oleh Heru, ujar Iqbal, hingga saat ini kemungkinan itu belum ada.

Sementara, Divisi Profesi dan Pengamanan Mabes Polri masih memeriksa AKBP Heru Pramukarno, yang diduga melakukan pelanggaran kode etik dan pidana saat membubarkan massa di Luwuk tersebut.

“Kalau polisi salah, itu ada masalah etik dan pidana,” kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto di kantornya pada Senin (26/3/2018).

Setyo mengatakan aparat yang saat itu di lapangan dan masyarakat akan dimintai keterangan sebagai saksi. Setelah keterangan saksi lengkap, menurut dia, baru bisa disimpulkan jenis pelanggaran kasus tersebut.

Meski belum ada kesimpulan dari Divisi Propam, Heru telah dicopot dari jabatannya. Pencopotan itu adalah buntut pembubaran blokade pengajian ibu-ibu majelis taklim dengan menembakkan gas air mata oleh aparat Kepolisian Resor Banggai pada 19 Maret lalu. Saat itu, polisi tengah mengawal dan mengamankan eksekusi lahan atas permintaan Pengadilan Negeri Banggai. Insiden tersebut terekam dan videonya viral di media sosial.

Menurut Setyo, untuk melakukan pembubaran massa, petugas mesti bernegosiasi lebih dulu. Pembubaran itu juga mesti dilakukan dengan pendekatan yang humanis. “Kami tidak boleh langsung melakukan penembakan gas air mata. Ada prosedurnya,” ujarnya.

Sementara, AKBP Heru Pramukarno secara resmi telah menyerahkan jabatannya kepada Kapolda Sulawesi Tengah (Sulteng) Brigjen Polisi I Ketut Argawa. Penyerahan jabatan itu berlangsug tertutup di ruang kerja Kapolda Sulteng, Senin (26/3/2018) malam.

Selain Kapolda dan Heru Pramukarno, penyerahan jabatan itu juga sejumlah pejabat utama Polda Sulteng diantaranya Irwasda, Karo Ops, Direktur Reserse Narkoba, dan Kepala Satuan Brimob.

Sebelumnya, Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto menjelaskan adanya dugaan pelanggaran kode etik dan pidana dalam kasus Kapolres Banggai Heru Pramukarno. “Kalau polisi salah, itu ada masalah etik dan pidana,” kata dia.

Untuk memastikan jenis pelanggaran itu, Setyo mengatakan pihaknya hingga saat ini masih memeriksa keterangan aparat yang saat itu di lapangan dan masyarakat. Setelah keterangan saksi lengkap, baru bisa disimpulkan jenis pelanggaran dari kasus tersebut. [***]

 

Sumber; Tempo
Editor; Sutrisno

(Visited 366 times, 1 visits today)

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*